
Jakarta (Trigger.id) – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan bahwa kondisi di Selat Hormuz masih belum normal meski telah ada gencatan senjata dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat sejak 7 April 2026.
Dalam keterangannya di Universitas Paramadina, Boroujerdi menegaskan bahwa kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz tetap berada dalam situasi sensitif pascakonflik. Setiap kapal yang melintas diwajibkan mengikuti protokol ketat dari otoritas keamanan setempat sebagai langkah pengamanan wilayah strategis.
Ia juga menyebutkan bahwa selain protokol, kapal komersial harus melalui proses negosiasi dengan pihak terkait, termasuk aparat keamanan Iran, sebelum diizinkan melintas. Namun, detail teknis mengenai prosedur tersebut tidak diungkapkan secara rinci.
Sementara itu, dua kapal tanker milik Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di kawasan Teluk Persia sejak penutupan jalur tersebut pada akhir Februari. Kedua kapal masing-masing dioperasikan oleh perusahaan pelayaran internasional.
Dari sisi Indonesia, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa hambatan yang dihadapi tidak semata-mata bersifat politik, melainkan juga teknis. Pemerintah bersama Kedutaan Besar RI di Teheran terus berkoordinasi dengan pemerintah Iran guna mencari solusi.
Juru bicara kementerian, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menjelaskan bahwa sejumlah aspek seperti asuransi dan kesiapan awak kapal masih dalam pembahasan untuk menjamin keselamatan pelayaran.
Upaya diplomasi dan teknis terus dilakukan agar kedua kapal dapat segera melanjutkan perjalanan dengan aman di tengah situasi kawasan yang masih belum sepenuhnya stabil. (ian)



Tinggalkan Balasan