
Ghent, Belgia (Trigger.id) – Untuk pertama kalinya di Belgia, Kota Ghent menghadirkan lampu hias Ramadan di dua ruas perbelanjaan utama, menjadikannya kota pertama di negara itu yang memasang dekorasi khusus menyambut bulan suci umat Islam.
Inisiatif ini digagas oleh Asosiasi Masjid Ghent (VGM) bersama para pedagang lokal. Dua kawasan yang kini bermandikan cahaya Ramadan adalah Bevrijdingslaan–Phoenixstraat di distrik Brugse Poort serta Wondelgemstraat di lingkungan Rabot. Lampu-lampu tersebut dipasang beberapa hari sebelum Ramadan dan akan tetap menyala hingga Hari Raya Idulfitri.
Ketua VGM, Mohamed Abd El Motleb Omar, menyebut langkah ini sebagai yang pertama di Belgia. Ia menegaskan bahwa seluruh pembiayaan berasal dari pedagang setempat, tanpa dukungan dana dari pemerintah kota. VGM sendiri menaungi 23 masjid di Ghent dan aktif menggelar berbagai kegiatan lintas komunitas, termasuk buka puasa bersama berskala besar yang mempertemukan warga dari beragam latar belakang.
Menurut Omar, respons masyarakat sangat positif, bahkan dari kelompok yang biasanya kritis terhadap simbol-simbol keagamaan di ruang publik. Kehadiran lampu hias ini juga memicu rasa ingin tahu warga non-Muslim yang bertanya tentang makna Ramadan dan tradisi puasa. Ia menilai momen tersebut membuka ruang dialog yang sebelumnya jarang terjadi.
Bagi warga setempat, dekorasi ini memiliki arti simbolis yang kuat. Nain, penduduk yang sejak kecil tinggal di kawasan tersebut, menyebut lampu Ramadan sebagai tanda penghormatan terhadap komunitas Muslim sekaligus penegasan bahwa mereka adalah bagian dari kota. Ia membandingkan dengan dekorasi Natal yang lazim menghiasi kota-kota di Belgia setiap akhir tahun.
“Jika Natal dirayakan dengan lampu di seluruh kota, mengapa Ramadan tidak?” ujarnya.
Senada, Moussa—warga Ghent yang memeluk Islam 15 tahun lalu—mengaku kehadiran lampu Ramadan memberinya rasa kebersamaan. Menurutnya, di negara yang bukan mayoritas Muslim, suasana Ramadan kerap terasa hanya di rumah atau masjid. Lampu-lampu di jalan menghadirkan nuansa berbeda, serupa dengan pengalaman yang ia rasakan saat mengunjungi Istanbul menjelang akhir Ramadan.
Ia juga mengenang Ramadan pertamanya sebagai mualaf yang terasa sepi karena tinggal di keluarga non-Muslim. Karena itu, simbol-simbol Ramadan di ruang publik dinilainya mampu menghadirkan rasa damai dan kebahagiaan.
Omar berharap langkah Ghent dapat menginspirasi kota-kota lain di Belgia untuk mengadopsi inisiatif serupa demi memperkuat semangat hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural. (ori)



Tinggalkan Balasan