
Yogyakarta (Trigger.id) — Di balik hiruk-pikuk kampus, ada sosok yang tengah menarik perhatian bangsa. Ia bukan politisi mapan, bukan pula tokoh pemerintahan. Ia adalah Tiyo Ardianto, Presiden Mahasiswa atau Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada periode 2025/2026 — wajah vokal generasi muda yang berani menyuarakan isi hati rakyat dan mengkritik kebijakan negara demi keadilan sosial dan pendidikan yang lebih layak.
Jejak Awal dan Latar Aktivisme
Tiyo lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 26 April. Ia melanjutkan pendidikan menengah di sekolah unggulan di Yogyakarta sebelum diterima sebagai mahasiswa Filsafat UGM pada Agustus 2021. Selama menempuh studi, ia aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa. Ketokohan dan reputasinya sebagai aktivis independen kemudian mengantarkannya terpilih sebagai ketua BEM KM UGM — sebuah posisi strategis yang tidak hanya membawa tanggung jawab organisasi, tetapi juga suara kritis terhadap berbagai persoalan bangsa.
Dalam masa kepemimpinannya, Tiyo dikenal konsisten menegaskan pentingnya independensi gerakan mahasiswa tanpa intervensi politis. Pada pertengahan 2025, ia mengambil keputusan tegas menarik BEM UGM keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan setelah Munas yang dinilai terlalu dekat dengan elite kekuasaan. Keputusan itu mencerminkan komitmen kuatnya untuk menjaga gerakan mahasiswa tetap berpihak pada rakyat, bukan struktur pemerintahan.
Kritik terhadap Keadilan Pendidikan dan Suara Rakyat
Jejak perjuangan teranyar yang paling menyita perhatian publik adalah ketika Tiyo bersama BEM UGM mengeluarkan surat terbuka kepada UNICEF terkait tragedi tragis seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang bunuh diri karena tidak mampu membeli pena dan buku sekolah. Surat itu kemudian dipublikasikan sebagai bentuk kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dinilai masih jauh dari ideal serta kebijakan anggaran negara yang tak sepenuhnya berpihak pada anak dan masyarakat miskin.
Tiyo hingga menggugat kebijakan seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya belum menyentuh akar masalah kemiskinan struktural dan ketidaksetaraan pendidikan. Ia menilai pendidikan dasar yang layak masih jadi impian bagi banyak anak negeri ini — sementara anggaran besar tidak mampu menjawab persoalan mendasar tersebut.
Intimidasi Tak Menggentarkan Semangat
Kritik itu tidak datang tanpa konsekuensi. Sejak Februari 2026, Tiyo mengaku menerima rangkaian ancaman dan intimidasi, termasuk pesan bernada ancaman penculikan dari nomor luar negeri dan penguntitan di tempat umum setelah isi surat dan aksi yang dipimpinnya ramai diperbincangkan. Ancaman tersebut bahkan sempat menjalar hingga anggota keluarganya.
Meski begitu, semangat perjuangan Tiyo tetap tegar. Ia memastikan bahwa tekanan tersebut tidak akan membuatnya mundur dari garis perjuangan untuk hak pendidikan, keadilan sosial, dan suara kaum tertindas. Sikapnya mencerminkan karakter dan prinsip seorang mahasiswa yang tak sekadar mengejar gelar, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap nasib bangsa.
Makna Lebih Besar dari Perjuangan Seorang Mahasiswa
Perjalanan Tiyo Ardianto adalah cermin dari dinamika mahasiswa Indonesia di era kekinian: generasi yang berpikir kritis, bukan tunduk pada dominasi politik, dan tidak ragu membawa suara rakyat ke ruang publik. Ia bukan sekadar pemimpin mahasiswa di kampus, tetapi juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang melampaui batas-batas kampus dan menyentuh persoalan bangsa.
Dalam situasi penuh tekanan, Tiyo menunjukkan bahwa kekuatan suara intelektual tanpa kompromi pun mampu memantik diskusi nasional tentang hak asasi manusia, ketimpangan pendidikan, dan peran mahasiswa dalam pembangunan bangsa. — sebuah kisah yang mengingatkan kita bahwa perubahan sejati sering kali dimulai dari suara yang berani berbicara kebenaran. (ori)



Tinggalkan Balasan