

Surabaya terus berbenah sebagai kota metropolitan, namun di saat yang sama menghadapi persoalan klasik yang belum tuntas: banjir. Setiap hujan deras, genangan muncul di berbagai titik, menandakan persoalan struktural yang belum sepenuhnya terurai.
Para pakar sepakat, banjir Surabaya bukan semata akibat hujan, melainkan hasil dari kombinasi perubahan tata kota, infrastruktur yang menua, dan tekanan iklim.
Ruang Resapan Menyusut
Perubahan tata guna lahan menjadi salah satu faktor utama. Ruang terbuka hijau yang berfungsi menyerap air terus berkurang akibat ekspansi permukiman dan kawasan komersial.
Prof. Dr. Ir. Anwar Hidayat, ahli sumber daya air ITS, menegaskan bahwa berkurangnya daerah resapan membuat limpasan air hujan meningkat tajam. “Drainase akan selalu kewalahan jika air tidak lagi punya ruang untuk meresap,” ujarnya.
Drainase Tak Seimbang dengan Beban
Sistem drainase Surabaya sebagian besar dirancang untuk kondisi lama, ketika kepadatan kota dan intensitas hujan masih lebih rendah.
Menurut dr. Ratna Dewi, ahli hidrologi perkotaan Universitas Airlangga, hujan ekstrem yang kini semakin sering membuat saluran air cepat meluap, diperparah oleh sedimentasi dan sampah.
Tekanan Perubahan Iklim dan Rob
Faktor lain yang memperburuk kondisi adalah perubahan iklim. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat membuat sistem pengendalian air bekerja di luar kapasitasnya.
Ahmad Ridwan, meteorolog BMKG Juanda, menyebut kenaikan muka air laut turut menghambat aliran sungai ke laut, sehingga genangan bertahan lebih lama, terutama di kawasan pesisir.
Urbanisasi Tanpa Kendali
Pesatnya urbanisasi juga menciptakan kawasan padat yang tidak selalu dibarengi infrastruktur drainase memadai.
Dr. Ika Nurhayati, perencana kota Unesa, menilai perencanaan kawasan kerap kalah cepat dari pembangunan fisik, menjadikan wilayah baru sebagai titik rawan banjir.
Pekerjaan Rumah Pemerintah Kota
Para pakar menekankan, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh: revitalisasi drainase, perlindungan ruang hijau, penguatan waduk dan pompa, pengendalian sampah, serta integrasi adaptasi iklim dalam kebijakan pembangunan.
“Banjir adalah cermin cara kota memperlakukan air,” kata Prof. Anwar. “Jika air selalu diposisikan sebagai musuh, maka kota akan terus kalah.” Banjir Surabaya adalah persoalan sistemik, bukan insidental. Tanpa kebijakan jangka panjang yang berpihak pada daya dukung lingkungan, genangan akan terus menjadi bagian dari wajah kota. Saatnya Surabaya tidak hanya membangun cepat, tetapi juga membangun bijak.
—000—
*Pemimpin Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan