

Kehadiran John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia membuka babak baru dalam mimpi lama sepak bola nasional: tampil di Piala Dunia. Rekam jejaknya membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022—setelah absen sejak 1986—menjadi modal psikologis sekaligus alasan utama PSSI menaruh harapan besar. Namun pertanyaannya, sejauh mana peluang Herdman merealisasikan ambisi itu bersama Indonesia?
Secara metodologis, Herdman dikenal sebagai pelatih yang kuat dalam membangun team culture, mental juara, dan identitas bermain. Ia bukan sekadar taktisi lapangan, melainkan builder jangka menengah. Pendekatan inilah yang relevan dengan kondisi Timnas Indonesia yang tengah berada di persimpangan antara potensi besar dan konsistensi yang rapuh.
Pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo, menilai Herdman datang pada momentum yang tepat.
“Indonesia sekarang punya player pool yang jauh lebih baik dibanding satu dekade lalu. Ada pemain diaspora, ada lokal yang berkembang. Tantangannya bukan kualitas individu, tapi menyatukan semuanya dalam sistem yang jelas. Herdman punya pengalaman di situ,” ujarnya.
Namun, tantangan Herdman jauh lebih kompleks dibanding saat ia menangani Kanada. Indonesia memiliki tekanan publik yang masif, ekspektasi tinggi, dan dinamika sepak bola domestik yang sering kali tidak sepenuhnya profesional. Liga yang belum sepenuhnya stabil, agenda kompetisi yang padat, serta tarik-menarik kepentingan non-teknis bisa menjadi batu sandungan serius.
Analis sepak bola Bindra Jatmika mengingatkan agar publik tidak terjebak euforia.
“Herdman bukan pesulap. Target ke Piala Dunia harus dilihat realistis. Jika bicara 2026, peluangnya sangat tipis. Tapi jika diarahkan ke 2030, dengan pembenahan berkelanjutan, itu lebih masuk akal,” katanya.
Di sisi lain, keberanian Herdman menyatakan tidak melihat paspor pemain, melainkan peluang dan keberagaman sebagai kekuatan, patut diapresiasi. Pendekatan ini sejalan dengan realitas sepak bola modern Indonesia, yang tidak bisa menafikan kontribusi pemain diaspora. Namun, keberhasilan strategi ini tetap bergantung pada kemampuan Herdman membangun rasa memiliki (sense of belonging) dalam tim, agar tidak memicu sekat sosial antara pemain lokal dan naturalisasi.
Mantan pelatih Timnas Indonesia Rahmad Darmawan menekankan pentingnya adaptasi kultural.
“Pelatih asing sering gagal bukan karena taktik, tapi karena kurang memahami karakter pemain Indonesia. Jika Herdman mau turun ke liga, memahami kultur lokal, peluang suksesnya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Secara redaksional, peluang John Herdman membawa Indonesia ke Piala Dunia bukanlah ilusi, tetapi juga bukan target instan. Kontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan hingga 2030 menunjukkan bahwa PSSI mulai berpikir lebih struktural, bukan reaktif. Keberhasilan Herdman akan sangat ditentukan oleh tiga hal: kontinuitas program, keberanian PSSI melindungi proses dari intervensi non-teknis, dan kesabaran publik dalam menilai progres.
Jika semua elemen itu selaras, John Herdman bukan hanya berpeluang membawa Garuda terbang lebih tinggi di Asia, tetapi juga menyiapkan fondasi paling realistis Indonesia untuk akhirnya menjejak panggung Piala Dunia—bukan sebagai mimpi, melainkan sebagai tujuan yang terukur.
—000—
*Wartawan senior, tinggal di Malang



Tinggalkan Balasan