
Surabaya (Trigger.id) – Saat Ramadan memasuki minggu-minggu terakhir, satu pemandangan khas mulai muncul di sudut pasar tradisional maupun etalase daring: hampers atau parcel Lebaran. Di Jakarta, misalnya, pedagang di kawasan Cikini sudah tampak sibuk menyiapkan paket hadiah mulai dari harga Rp100 ribu sampai jutaan rupiah, yang dipilih pembeli dari berbagai penjuru kota bahkan luar wilayah Jabodetabek. Tradisi ini bukan sekadar jualan, tetapi bagian dari silaturahmi budaya yang telah melekat di masyarakat Indonesia.
Tradisi Hadiah yang Tak Pernah Padam
Asal usul tumbuhnya bisnis hampers berkaitan erat dengan budaya berbagi di momen Lebaran — bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga kolega kerja, rekan bisnis, dan tamu undangan. Survei menunjukkan lebih dari setengah masyarakat Indonesia memastikan mengirim hampers saat Lebaran tiba, khususnya kepada keluarga (83,7%), sahabat (58%) dan rekan kerja (24,4%).
Hal ini membuat peluang bisnis ini kembali hidup setiap tahun, bukan hanya sekadar tren sesaat.
Era Digital: Pedagang Kecil dan Besar Sama-sama Bersaing
Pada era digital kini, persaingan telah meluas dari lapak fisik ke dunia maya:
- Platform e-commerce seperti Tokopedia atau Shopee mencatat lonjakan transaksi hampers jelang Ramadan, dengan transaksi naik signifikan dibanding periode biasa. Bahkan beberapa pedagang melaporkan meningkatnya penjualan hingga 3,5 kali lipat selama momen Ramadan dibanding hari biasa.
- UMKM lokal kini banyak yang mengandalkan kanal digital untuk menjangkau pelanggan nasional, terutama di kota-kota besar di mana kompetisi semakin ketat. Pelaku UMKM yang mendapatkan pesanan hingga ratusan paket kini dibina melalui berbagai program pelatihan digital marketing dan strategi penjualan online agar tidak tenggelam dalam arus kompetisi digital.
- Media sosial juga menjadi arena penting. Konten estetis, video unboxing, hingga pemasaran berbasis komunitas menjadi senjata utama bagi bisnis kecil yang tak memiliki banyak modal iklan.
Di sisi lain, persaingan digital juga menghadirkan tantangan: menghadapi perang harga, biaya platform, dan kebutuhan terus-menerus berinovasi agar produk tetap terlihat di tengah ribuan penjual serupa. Ini bukan hanya soal kualitas, tetapi juga storytelling, packaging yang menarik, dan nilai tambah yang ditawarkan kepada pembeli.
Cerita Real di Lapangan: Dari Cikini Sampai Surabaya
Di Jakarta, pedagang hampers mulai bekerja sejak Ramadan awal dan tetap berjualan hingga hari-hari terakhir sebelum Lebaran — kurang lebih satu bulan penuh. Beberapa bahkan melayani pembelian 24 jam setiap hari jelang puncak permintaan.
Di Surabaya, seorang pegawai swasta justru memanfaatkan momentum dengan membuat sendiri hampers kue kering: dari April hingga sesaat sebelum Lebaran, ia mampu menjual hingga puluhan paket per hari dan menambah “THR kecil-kecilan” untuk keluarganya. Omzet bukan hal fantastis, tapi cukup berarti di tengah ekonomi yang sedang melemah.
Tren Isi dan Preferensi Konsumen
Dulu hampers Lebaran identik semata dengan kue kering saja. Kini, tren isi hampers semakin makin beragam:
- Hampers premium dengan kopi specialty, lilin aromaterapi, atau tumbler eksklusif yang menarik untuk hadiah profesional atau kolega bisnis.
- Isi religius seperti perlengkapan ibadah atau buku doa yang menekan nilai spiritual pemberian hadiah.
- Pilihan sehat seperti madu premium, snack sehat, dan kurma impor mulai diminati konsumen yang semakin peduli gaya hidup sehat.
Masih Menjanjikan di Kota Besar?
Jawabannya: iya, dengan catatan. Di pusat kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sekitarnya, bisnis ini masih menjanjikan karena:
- Budaya silaturahmi menghadiahkan hampers masih kuat dan dianggap bagian dari tradisi Lebaran.
- Platform digital memperluas jangkauan pasar, memungkinkan penjual lokal mendapatkan pesanan dari luar kota.
- Segmen pasar terus berkembang: dari keluarga, kerabat sampai perusahaan yang memberikan hampers kepada klien dan mitra bisnis.
Namun, peluang ini tidak lepas dari tantangan nyata:
- Tingginya persaingan menyebabkan harga sering harus diturunkan demi menarik pembeli.
- Kebutuhan untuk terus berinovasi pada produk, kemasan, dan pemasaran digital.
- Fluktuasi daya beli masyarakat — terutama di masa ekonomi yang tidak stabil — bisa memengaruhi volume pembelian secara signifikan.
Penutup: Tetap Relevan, Tapi Butuh Edge
Bisnis hampers Lebaran tetap relevan karena bersandar pada tradisi kuat dan momentumnya yang tahunan. Era digital bukan sekadar mengubah cara penjualan, tetapi juga menuntut kreativitas dan strategi pemasaran yang lebih tajam dibanding sebelumnya. Mereka yang dapat memadukan nilai budaya, estetika produk, serta pemasaran digital yang efektif akan tetap meraih peluang cuan di tengah persaingan yang makin ketat.
Apakah kamu ingin saya tambahkan data angka pasar, kisah pelaku usaha sukses, atau strategi pemasaran digital yang paling efektif untuk bisnis hampers hari raya? (Itu bisa membuat artikel ini makin kuat dan aplikatif. (ori)



Tinggalkan Balasan