
Surabaya (Trigger.id) – Influenza A perlu mendapat perhatian, terutama pada anak yang lebih rentan tertular akibat sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang.
Selain menjaga kebersihan, vaksinasi influenza dapat menjadi salah satu upaya membantu mengurangi risiko infeksi dan penularan.
Pakar Penyakit Tropis Universitas Airlangga Surabaya, dr Priyo Budi Purwono SpMK PhD, mengatakan anak memiliki kerentanan lebih tinggi karena belum sepenuhnya memahami cara menjaga jarak maupun menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat saat berinteraksi dengan orang lain.
Menurut Priyo, kebiasaan sederhana seperti menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, mencuci tangan, serta menghindari kontak dekat ketika sedang sakit penting diajarkan kepada anak sejak dini.
“Anak-anak lebih rentan karena mereka belum sepenuhnya memahami pembatasan dalam berinteraksi, termasuk kebiasaan menjaga higiene seperti menutup mulut ketika batuk atau bersin. Sistem imunitas anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terinfeksi,” ujar dr Priyo Budi Purwono, dikutip dari laman LKBN Antara, Selasa (29/9).
Priyo yang juga Ketua Lembaga Penyakit Tropis (LPT) dan dosen Fakultas Kedokteran Unair menjelaskan Influenza A merupakan salah satu tipe virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan bagian atas maupun bawah.
Virus tersebut dapat menyebar melalui percikan cairan dari saluran pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. Penularan juga dapat terjadi melalui benda atau permukaan yang telah terkontaminasi virus, terutama apabila setelah menyentuh seseorang, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata.
Peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perubahan kondisi cuaca dan meningkatnya interaksi antarmanusia menjadi beberapa faktor yang dapat berperan dalam penyebaran infeksi.
Gejala Influenza A umumnya muncul setelah masa inkubasi sekitar satu hingga tujuh hari. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain demam, nyeri tubuh, pilek, sakit atau nyeri ketika menelan, serta batuk.
Namun, gejala tersebut tidak secara khusus menunjukkan seseorang pasti mengalami Influenza A. Keluhan yang sama dapat ditemukan pada berbagai jenis infeksi saluran pernapasan lainnya.
Karena itu, diagnosis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. Jika diperlukan, tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, antara lain melalui pengambilan sampel menggunakan metode usap (swab) dari hidung atau tenggorokan.
Pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen dada juga dapat dilakukan sesuai dengan indikasi medis.Sebagian besar kasus Influenza A berada pada tingkat ringan hingga sedang. Namun orang tua tetap perlu memperhatikan munculnya tanda-tanda yang mengarah pada komplikasi.
Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru atau pneumonia. Kondisi tersebut dapat menjadi lebih berat apabila peradangan mengganggu fungsi pernapasan.
“Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru. Jika peradangan semakin berat ditandai dengan sesak napas, bunyi napas tambahan dan menyebabkan hipoksemia. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak hingga kegagalan napas,” kata Priyo.
Oleh karena itu, anak yang mengalami gangguan pernapasan atau kondisinya semakin memburuk perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis. Penanganan lebih dini diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan terapi yang sesuai.
Pencegahan Influenza A dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari di lingkungan keluarga. Orang tua dapat mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta mengurangi kontak dekat dengan orang lain ketika sedang mengalami gejala infeksi pernapasan.
Priyo juga menganjurkan masyarakat menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga secara teratur, mencukupi kebutuhan istirahat, dan mengonsumsi makanan bergizi.Vaksinasi influenza juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan. Pemberian vaksin sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk memastikan kesesuaian dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.
Selain itu, anak yang sedang sakit sebaiknya beristirahat dan membatasi interaksi untuk membantu mengurangi kemungkinan menularkan penyakit kepada anggota keluarga maupun orang lain.
Priyo mengingatkan agar tidak panik menghadapi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan. Pengalaman menghadapi pandemi sebelumnya dapat menjadi pembelajaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan, kebersihan, dan kebugaran tubuh.
Orang tua perlu mengenali gejala dan memantau perkembangan kondisi anak. Jika keluhan semakin berat, terutama apabila disertai sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya, pemeriksaan ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan perlu segera dilakukan. (wah)



Tinggalkan Balasan