

Di antara malam-malam Ramadan yang sunyi dan penuh rahasia, ada satu malam yang mengubah arah sejarah manusia. Malam itu terjadi lebih dari 14 abad lalu, ketika langit seakan membuka pintunya dan bumi menerima pesan suci yang kelak menjadi pedoman bagi miliaran manusia. Malam itu adalah malam Nuzulul Qur’an, saat wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Banyak ulama menyebut peristiwa monumental ini terjadi pada 17 Ramadan, sebuah tanggal yang kemudian dikenang oleh umat Islam sebagai tonggak lahirnya peradaban baru—peradaban yang dibangun oleh wahyu.
Sunyi di Gua Hira
Sebelum wahyu turun, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan menyendiri. Beliau sering naik ke Gua Hira, sebuah gua kecil di Jabal Nur, tidak jauh dari Kota Makkah. Di tempat sunyi itu, beliau bertafakur, merenungkan kehidupan dan kondisi masyarakat Arab yang saat itu dipenuhi penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kekerasan.
Pada suatu malam di bulan Ramadan, ketika usia beliau mencapai 40 tahun, kesunyian gua itu tiba-tiba berubah menjadi momen yang mengguncang.
Pertemuan yang Menggetarkan
Dalam keheningan malam, tiba-tiba muncul sosok yang memenuhi ruang gua. Sosok itu adalah Malaikat Jibril. Nabi Muhammad yang tidak pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya merasa sangat terkejut.
Jibril lalu memeluk Nabi Muhammad dan berkata:
اقْرَأْ
“Iqra’!” — Bacalah!
Nabi Muhammad menjawab dengan penuh kegugupan:
“Aku tidak bisa membaca.”
Perintah itu diulang hingga tiga kali. Setiap kali diucapkan, Nabi merasakan pelukan yang kuat seakan menegaskan bahwa sebuah amanah besar sedang disampaikan.
Kemudian Jibril menyampaikan wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.
Yang mengajar manusia dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Pulang dengan Hati Bergetar
Setelah peristiwa itu, Nabi Muhammad turun dari Gua Hira dengan tubuh gemetar. Peristiwa tersebut begitu dahsyat hingga membuat beliau diliputi rasa takut dan haru.
Setibanya di rumah, beliau berkata kepada istrinya yang setia, Khadijah:
“Zammiluni, zammiluni…”
“Selimuti aku… selimuti aku.”
Khadijah menenangkan beliau, menyelimuti tubuhnya, dan mendengarkan kisah yang baru saja terjadi. Dengan penuh keyakinan, Khadijah berkata:
“Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, membantu orang lemah, menolong yang membutuhkan, dan memuliakan tamu.”
Dukungan Khadijah menjadi penopang pertama dalam perjalanan kenabian yang panjang dan penuh ujian.
Awal Cahaya bagi Umat Manusia
Ayat pertama yang turun tidak berbicara tentang hukum, perang, atau kekuasaan. Wahyu pertama justru memerintahkan membaca dan belajar.
Ini adalah pesan penting: Islam dimulai dengan ilmu.
Dari lima ayat yang turun di Gua Hira itu, lahirlah revolusi peradaban. Umat yang sebelumnya dikenal sebagai masyarakat yang sebagian besar buta huruf kemudian melahirkan ilmuwan, filsuf, ahli matematika, dokter, hingga astronom yang mempengaruhi dunia.
Malam yang Tak Pernah Padam
Sejak saat itu, Al-Qur’an turun secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, membimbing umat Islam menghadapi berbagai peristiwa: masa dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, hingga pembentukan masyarakat yang berlandaskan keadilan dan tauhid.
Karena itu, setiap 17 Ramadan, umat Islam tidak sekadar memperingati turunnya Al-Qur’an sebagai sebuah peristiwa sejarah. Malam itu adalah pengingat bahwa cahaya wahyu pernah turun ke bumi—membawa pesan ilmu, akhlak, dan petunjuk hidup.
Dan hingga hari ini, ayat yang pertama kali menggema di Gua Hira masih terus mengajak manusia untuk berpikir, membaca, dan mengenal Tuhannya.
Iqra’. Bacalah. Sebuah kata yang memulai perjalanan panjang cahaya Al-Qur’an bagi seluruh umat manusia.
—000—
*Pemimpin Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan