• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Keindahan Sosial Ramadhan

1 April 2023 by zam Tinggalkan Komentar

Oleh: Dr. Suparto Wijoyo – Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup-SDA MUI Jatim / Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Pada Ramadan 1444 H ini saya menemukan dua keindahan besar. Soal terawih dan bukanya warung sebelah.

Terawih Adalah Keindahan

Saya tertegun. Subhanallah. Segala puja bagi yang memuja dan segenap puji untuk yang memuji. Kepada-Nya dipersembahkan. Teguhkanlah bahwa kebesaran dan kemegahan dalam bentang semesta merupakan gelombang  kecil pada genggam kuasa-Nya. Tataran bima sakti yang membersitkan gerak galaksi dan memanggungkan putaran bintang-gemintang, bulan, bumi maupun matahari, berikut planet-planet yang berjibun jumlahnya, sejatinya hanyalah seberkas “jasad renik” dalam arasy-Nya. Pelajarilah bagaimana planet-planet itu dalam Alquran dikreasi  hingga diwerdikan sebagai bagian kecil saja dari tanda-tanda “maghligai otoritas-Nya”. Untuk itulah Allah swt memerintahkan agar manusia senantiasa berfikir, karena di setiap dirinya ada separangkat “jaringan elektronik humanis” guna mendayagunakan akal. Berpikir adalah seruan-Nya dalam serumpunan  firman-Nya. Maka bertadabburlah (“mengkaji secara tekstual”) atas seluruh “indikator-indikator” kinerja alam semesta dalam Alquran  tanpa henti, sambil bertafakkur (“mengkaji secara kontekstual”) pada setiap percikan karya cipta-Nya.

Pandangkan  sorot mata ke segala arah, engkau akan menyaksikan ketidakterhinggaan sumber ilmu. Setiap titik koordinat yang mampu dijangkau oleh panca indra  pastilah  menyentuh kosmologi  yang Allah swt telah perhelatkan. Tengoklah dengan dongakan  berapapun derajatnya dan rebahkan badanmu sampai pada lengkung sujud manapun, dan berpalinglah ke kanan, ke kiri, bahkan ke bawah sampai  dlosor, kau akan menyemai “tikar-tikar” iman yang semakin menebal, apabila mau mempergunakan daya pikirmu. Jumputlah setiap debu yang kalian dapati, disitu kan kautemukan  partikel  pembentuk gumparan tanah yang dapat menghasilkan berjuta lembar halaman buku untuk menerangkan asal-muasal materinya. Sampai pada lingkup inilah saya semakin memahami, mengapa dalam  Islam diutamakan bagi awam separti saya untuk lebih memikirkan apa yang seharusnya ditadabburi dan ditafakuri pada batasan di luar eksistensi Tuhan. Pikirkanlah ciptaan-Nya daripada engkau menjelajahkan nalarmu untuk Sang Gusti Allah swt.

Pada jelang sepekan ini saya terpesona atas hadirnya  lingkar penjelajahan ruhani yang mendebar dengan sukma yang membuncahkan  rindu  Ramadhan. Ini kali saya menyaksi sesuatu yang semula hanya  sederet pejalan kaki untuk kemudian membentuk formasi yang menggelombang memanjang dengan pakaian mukena yang tampak memancarkan cahaya. Saat azan berkumandang  menandakan waktu shalat isya’ yang berbalut “lencana”   tarawih,  setarikan nafas yang terhela lega, saya menafsir satu-persatu kaum penyemat mukena itu ke luar seperti “sepasukan semut” yang beriring berjalan, sebelum akhirnya “membanjiri” jalanan untuk  “bersembunyi” di ruang-ruang masjid di setiap jengkal kawasan yang dihuni pengiman Islam. Imajinasi saya meluncur ke arah kisah Nabi Sulaiman AS yang membawa pasuken super jumbo, dan para semut itu tersentak kaget dan   bergerombol  menepikan diri agar tidak terinjak pasukan superpower Sulaiman AS.

Sungguh pergerakan “mukena putih” itu berkelebat membentuk formasi yang sangat terang arah yang hendak ditujunya: untuk menghantarkan raga bersukma iman yang menyimpuhkan diri di rumah Allah swt dengan cita rasa paling sempurna: meraih derajat orang beriman. Dari amatan inilah saya memberikan rasa hormat yang tinggi bahwa ibadah terawih sesungguuhnya memanifestasikan sebuah gerakan yang telah mampu membangun konstruksi sosial tentang perjalanan orang-orang menenun tauhid. Tarawih adalah pergerakan tauhid yang melalui “ritual inilah” Tuhan memberikan al-furqon, mana kaum pemanggul iman dengan yang sedang menjemput hidayah. Tidakkah ini sebuah keindahan sosial yang niscaya membisikkan kerinduan yang setia dinanti kedatangannya sebagai “tamu agung” di setiap tahunnya. Dan sudah dua tahun hal itu tidak terlaksana, tahun ini “kelebat mukena” dan “lampitan sarung” santri mewarnai malam-malam isya. Subhanallah.   

Lebih dari itu. Ada keindahan lainnya.

Sebarisan Kaki

 Saya menyaksikan. Kaki-kaki itu berjajar membentuk alur yang tingkat kerapiannya selaksa sepasukan militer yang digelar dalam parade baris-berbaris. Seolah melebihi pasukan penyerbu Ukraina. Kaki-kaki itu seolah berada dalam  shalat jamaah yang amat tertata. Kerapatan dan kesejajarannya sangat mengagumkan. Indah nan mempesona. Hanya saja kaki-kaki yang berjajar  menyiratkan bahasa yang amat santun atas tubuhnya. Kaki-kaki itu seperti menyuarakan betapa uniknya  karena kaki-kaki itu berjajar di bidik dampar warung-warung jalanan. Kaki-kaki itu terlintas tampak tidak bertubuh, apalagi berkepala. Kaki-kaki itu  memerankan gerak dari jasad tanpa awak yang sempurna. Kaki yang menyiratkan sebuah pesan yang  sublim sekaligus rahasia. Kaki yang tidak sembarangan muncul di areal publik atas awak yang disanggahnya. Kaki yang sangat berkepintaran untuk menyembunyikan harkat ragawi pejalannya. Bukankah kaki-kaki yang demikian itu yang memahami tentang kahanan  wulan Ramadhan.

Itulah selisik yang harus tersiratkan  atas realitas gang-gang sempit Kota Surabaya atau di luar sana yang memiliki warung-warung kampung, café-café kecil  para pedagang kaki lima. Ini tenda-tenda jajanan  yang membopong nasib pemiliknya di belantara Ramadhan. Saya menyaksi betapa hari-hari ini dapat dengan mudah memotret keberadaan para  konsumen “depot unyil” untuk sarapan pagi atau makan siang dengan lahapnya di kala “orang beriman”  mengerjakan  puasa Ramadhan. Saya tidak memasuki wilayah untuk menyoal hukumnya dalam kosmologi Ramadhan di  metropolitan yang sangat kompleks warganya. Tetapi saya hanya terkilik dengan rapinya barisan para penyantap hidangan  pinggiran kota  yang ditutup kain-kain seadanya. Ada keteduhan dan sebuah pesan untuk mendewasakan diri bagi penyaksinya.

 Ramadhan memang bukan untuk menghentikan aktivitas ekonomi tetapi hanya menjaga kesantunannya. Semula orang dengan bebas njeglak sekehendaknya, bila perlu dengan memamerkan piringnya demi larisnya obyek jualan. Di bulan Ramadhan ini, pemilik lapak makan menutupi etalase menunya dengan kain yang tetap menyiratkan keadaan bahwa kami tidak tutup meski berkelambu. Kami buka  dengan menyopankan diri melalui “sepotong kain”. Para pengandok tidak usah gelisah karena wajah dan ragamu tidak akan mampu dideteksi siapapun. Biarlah sebatas betis kaki-kaki itu saja yang menatap ramainya lalu lalang.

Ketahuilah bahwa  pemilik kaki itu  bukanlah tidak beriman. Puasa ini tidak mengharamkan mobilitas orang, sehingga yang makan tadi tetap kutafsir sebagai para musafir dan pekerja keras yang bertandang  ke kota. Untuk itulah warung perlu buka, karena kaum penjelajah tidak harus menjalankan puasa dengan tunai. Wanita yang sedang “merayakan bulanan” juga boleh mengridit puasanya dan  berarti disilahkan  menikmati sensasi  di  restoran di saat khalayak beriman ramai berpuasa. Ingatlah Q.S. Al-Baqarah ayat 184: …, fa mang kaana mingkum mariidhon au’alaa safarin fa’iddatum min ayyaamin ukhor, wa’alallaziina yuthiiquunahuu fidyatun tho’aamu miskin, fa man tathowwa’a khoiron fa huwa khoirullah, wa an tashuumuu khoirul lakum in kuntum ta’lamuun. Amat terang    bahwa barang siapa di antara kamu sakit atau bepergian (lalu tidak puasa), maka wajib mengganti sebayak hari yang dia tidak berpuasa pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan  orang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, tentu itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Dengan ini semangatlah berpuasa,  “tunai” atau “kredit”.(zam)

Share This :

Ditempatkan di bawah: Ramadhan, update Ditag dengan:mui jatim, puasa ramadan, suparto wijoyo, terawih

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Hakimi Hadapi Sidang Dugaan Kekerasan Seksual

25 Februari 2026 By admin

Inter Tersingkir, Atletico dan Newcastle ke 16 Besar

25 Februari 2026 By admin

Baznas: ZIS Tak Dialihkan ke Program MBG

25 Februari 2026 By admin

Peminat SNBP 2026 Melonjak : Unesa 53 Ribu, Unair & UB Kompetitif

24 Februari 2026 By zam

Takjil Berbahaya: BPOM Temukan Pewarna Sintesis Pemicu Kanker

24 Februari 2026 By admin

Ramadhan: Momentum Hijrah yang Nyata, Bukan Sekadar Wacana

24 Februari 2026 By admin

Rujak Soto: Perpaduan yang Tak Masuk Akal Tapi Dicinta

24 Februari 2026 By wah

Khutbah Jumat: Ujian Dalam Hidup

23 Februari 2026 By isa

Fariz RM: Di Antara Nada, Godaan Narkoba, dan Upaya Bangkit

23 Februari 2026 By admin

Ketika Hutan Terkubur Lumpur: Jeritan Sunyi Gajah Sumatera di Bener Meriah

23 Februari 2026 By admin

Sahur Tanpa Meja Makan: Cerita Para Perantau di Kota Besar

23 Februari 2026 By admin

Puasa Bikin Kulit Kering? Ini Tips Dokter Unair agar Tetap Sehat

23 Februari 2026 By wah

Muzani: Ambang Batas 7 Persen Terlalu Tinggi

23 Februari 2026 By admin

Jatim Pecahkan Dua Rekor MURI, 20.000 Porsi Buka Puasa dan 18.000Jamaah Lantunkan Asmaul Husna

22 Februari 2026 By zam

Pemkot Surabaya Gandeng Pengembang Percepat Pendataan DTSEN

22 Februari 2026 By admin

Penjualan Tiket KA Lebaran 2026: Jutaan Terjual di Sejumlah Daops

22 Februari 2026 By admin

Presiden Kerahkan Kekuatan, Pemulihan Pascabencana Sumatera Dipercepat

22 Februari 2026 By admin

4 Tahun Menyalakan Optimisme: Jejak dan Ikhtiar TRIGGER.ID

22 Februari 2026 By admin

Kesiapan Lebaran 2026 di Jawa Timur Dimatangkan

21 Februari 2026 By zam

Masjid Bungkuk Singosari, Saksi Sunyi Perjuangan Sejak Era Diponegoro

21 Februari 2026 By zam

Persebaya Bidik Kemenangan di Jepara

21 Februari 2026 By admin

Menlu: TNI di Gaza Fokus Misi Kemanusiaan

21 Februari 2026 By admin

Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump

21 Februari 2026 By admin

STY: Karier di Liga 1 Bukan Masalah bagi Pemain Naturalisasi

21 Februari 2026 By admin

Dua Abad Harmoni dan Cahaya Toleransi Klenteng Eng An Kiong

20 Februari 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Ketika Habis Ramadhan, Hamba Rindu Lagi Ramadhan

30 Maret 2025 Oleh admin

Tujuh Tradisi Lebaran yang Selalu Dinantikan

29 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Melihat Dinamika Bisnis Hampers Lebaran di Era Digital
  • Empat Alumni LPDP Kembalikan Dana Beasiswa hingga Rp 2 Miliar
  • Manis Penuh Makna: Filosofi Kolak dari Dakwah Wali hingga Manfaat Kesehatan
  • Keutamaan Dua Rakaat Sebelum Subuh dan Cahaya Cinta Allah
  • Berburu Takjil di Gaza City, Ramadan di Tengah Krisis dan Harapan

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.