
Surabaya (Trigger.id) – Menjelang magrib, suasana pasar Ramadhan selalu menggoda. Deretan kolak pisang berkuah santan, es buah berwarna-warni, kurma yang tersusun rapi, hingga gorengan yang masih mengepul, seolah berlomba memikat selera. Namun di balik kelezatan itu, ada satu pertanyaan penting: bagaimana memilih takjil yang sehat tanpa kehilangan kenikmatannya?
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia juga momentum mengatur ulang pola makan agar lebih seimbang. Takjil yang tepat bukan hanya mengembalikan energi, tetapi juga menjaga tubuh tetap bugar sepanjang malam hingga sahur.
1. Dahulukan yang Manis Alami dan Ringan
Rasulullah Muhammad SAW menganjurkan berbuka dengan kurma atau air. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa beliau berbuka dengan kurma segar, jika tidak ada maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada maka dengan air.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, dai dan pakar tafsir Al-Qur’an, sunnah berbuka dengan kurma bukan hanya simbolik, tetapi juga sarat hikmah kesehatan. “Kurma mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh tanpa memberi lonjakan berlebihan. Itu cukup untuk mengembalikan energi awal sebelum makan besar,” jelasnya dalam salah satu kajian kesehatan Ramadhan.
Kurma, buah, atau kolak dengan gula secukupnya bisa menjadi pilihan awal yang bijak. Hindari minuman dengan sirup berlebihan atau pewarna mencolok yang tinggi gula tambahan.
2. Batasi Gorengan, Perhatikan Minyaknya
Gorengan memang tak terpisahkan dari budaya takjil di Indonesia. Namun, konsumsi berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan dan lonjakan kolesterol, terutama saat perut kosong.
Pakar kuliner Indonesia, William Wongso, mengingatkan bahwa kualitas bahan dan teknik pengolahan sangat menentukan. “Masalahnya bukan pada gorengannya semata, tetapi pada minyak yang dipakai berulang kali. Itu yang membuat rasa dan kualitas gizinya menurun,” ujarnya dalam berbagai kesempatan diskusi kuliner.
Jika ingin menikmati gorengan, pilih yang digoreng dengan minyak baru atau relatif jernih, tidak berbau tengik, dan tidak terlalu berminyak di permukaan. Konsumsi secukupnya, jangan menjadikannya menu utama.
3. Perhatikan Warna dan Kebersihan
Takjil sehat bukan hanya soal gizi, tetapi juga keamanan pangan. Hindari makanan dengan warna terlalu mencolok yang tidak alami. Pastikan penjual menjaga kebersihan, makanan tertutup dari debu, dan tidak terpapar langsung oleh asap kendaraan.
Es buah segar dengan potongan buah asli lebih baik dibanding minuman instan berperisa buatan. Selain lebih segar, kandungan seratnya membantu sistem pencernaan bekerja lebih stabil setelah seharian berpuasa.
4. Jangan Kalap: Porsi Tetap Terkendali
Salah satu godaan terbesar saat berbuka adalah “balas dendam”. Padahal, tubuh yang kosong seharian perlu adaptasi bertahap.
Ustaz Adi Hidayat kerap menekankan nilai spiritual dalam pola makan. “Puasa melatih kendali diri. Jangan sampai saat berbuka justru kehilangan kontrol. Esensi puasa adalah keseimbangan,” tuturnya.
Berbukalah dengan porsi kecil terlebih dahulu. Setelah shalat magrib, barulah lanjutkan makan utama dengan komposisi seimbang: karbohidrat, protein, sayur, dan cukup cairan.
5. Utamakan Tradisional, Minim Proses
Banyak takjil tradisional Nusantara sebenarnya cukup sehat jika tidak berlebihan gula dan santan. Kolak pisang, bubur kacang hijau, atau ketan hitam mengandung serat dan energi kompleks. Kuncinya ada pada takaran gula dan santan.
William Wongso juga menilai kekayaan kuliner Indonesia justru bisa menjadi kekuatan saat Ramadhan. “Masakan tradisional kita banyak yang berbasis bahan alami. Tinggal bagaimana kita mengolahnya dengan bijak dan tidak berlebihan,” katanya.
Ramadhan: Harmoni Rasa dan Makna
Memilih takjil sehat bukan berarti menghilangkan kenikmatan. Justru di situlah seni Ramadhan: menyeimbangkan rasa, gizi, dan nilai ibadah. Tubuh mendapatkan energi yang cukup, hati pun tetap ringan menjalani tarawih dan aktivitas malam.
Di tengah gemerlap pasar Ramadhan, pilihan ada di tangan kita. Apakah sekadar mengikuti selera sesaat, atau menjadikan momen berbuka sebagai bagian dari ibadah yang utuh—lezat, sehat, dan penuh berkah. (ori)



Tinggalkan Balasan