
Kolak menjadi takjil favorit saat berbuka puasa. Sajian berbahan pisang, ubi, santan, dan gula merah ini menyimpan jejak sejarah serta pesan spiritual yang kuat.Foto/ilustrasi
Surabaya (Trigger.id) – Bulan Ramadan di Indonesia tak bisa dilepaskan dari kehadiran kolak sebagai takjil favorit saat berbuka puasa. Sajian manis berbahan dasar pisang, ubi, santan, dan gula merah ini bukan sekadar pelepas dahaga dan lapar, tetapi juga menyimpan jejak sejarah serta pesan spiritual yang kuat.
Sejumlah sejarawan meyakini kolak telah dikenal luas di tanah Jawa sejak masa dakwah para wali, khususnya era Wali Songo. Pada masa itu, pendekatan budaya menjadi strategi penting dalam menyebarkan ajaran Islam. Makanan tradisional seperti kolak kerap dihidangkan dalam pertemuan warga, pengajian, maupun kegiatan keagamaan sebagai sarana dakwah yang membumi dan mudah diterima masyarakat.
Secara etimologis, kata “kolak” dipercaya berasal dari bahasa Arab Khalik yang berarti Sang Pencipta (Allah SWT). Ada pula yang mengaitkannya dengan kata khala yang berarti kosong. Makna ini ditafsirkan sebagai ajakan untuk “mengosongkan diri” dari dosa dan kembali mendekatkan diri kepada Tuhan setelah seharian berpuasa.
Filosofi kolak juga tercermin dari bahan-bahannya. Pisang kepok, misalnya, kerap dimaknai sebagai simbol “kapok” atau jera dalam berbuat dosa. Ubi atau telo pendem yang tumbuh dan terpendam di dalam tanah dimaknai sebagai pengingat untuk mengubur kesalahan masa lalu dalam-dalam. Sementara santan, yang dalam pelafalan Jawa sering dikaitkan dengan kata pangapunten (permohonan maaf), menjadi simbol pentingnya saling memaafkan.
Tak hanya itu, santan yang berasal dari kelapa juga melambangkan rasa syukur. Dalam budaya Jawa, kelapa kerap disebut sebagai pohon kehidupan karena hampir seluruh bagiannya bermanfaat. Penggunaan bahan-bahan alami ini menjadi simbol karunia Tuhan yang patut disyukuri.
Bagi Siti Aminah (47), pedagang kolak musiman di kawasan Karang Menjangan Surabaya, kolak selalu menjadi primadona setiap Ramadan. “Setiap sore pembeli pasti ramai. Banyak yang bilang belum afdal berbuka kalau belum makan kolak. Selain manis dan mengenyangkan, kolak itu seperti tradisi turun-temurun,” ujarnya saat ditemui, Rabu (25/2).
Senada dengan itu, Arif Rahman (35), seorang karyawan swasta yang mengaku penggemar kolak, menyebut hidangan tersebut menghadirkan nuansa nostalgia. “Dari kecil kalau Ramadan pasti ada kolak buatan ibu. Rasanya bukan cuma manis, tapi ada rasa kebersamaan dan hangatnya keluarga,” katanya.
Dari sisi kesehatan, kolak juga memiliki nilai gizi tertentu jika dikonsumsi secara bijak. Menurut dr. Rina Wijayanti, Sp.GK, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kandungan karbohidrat sederhana dari gula merah dapat membantu mengembalikan energi tubuh dengan cepat setelah berpuasa. Pisang dan ubi juga mengandung serat, vitamin, serta mineral seperti kalium yang baik untuk tubuh.
“Namun perlu diperhatikan porsinya. Santan mengandung lemak jenuh, dan gula yang berlebihan bisa meningkatkan kadar gula darah. Sebaiknya konsumsi dalam jumlah wajar dan diimbangi dengan makanan bergizi lain,” jelasnya.
Dengan demikian, kolak bukan sekadar sajian manis untuk membatalkan puasa. Di balik semangkuk kolak, tersimpan warisan dakwah, simbol perenungan diri, hingga pesan kesehatan. Tradisi ini terus hidup, mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki diri dan mempererat kebersamaan. (wah)



Tinggalkan Balasan