
Yogyakarta (Trigger.id) – Tradisi mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti oleh masyarakat Indonesia. Perjalanan pulang kampung bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga kesempatan berharga untuk bersilaturahmi, melepas rindu, dan mempererat hubungan dengan keluarga serta sahabat lama. Namun di balik kebahagiaan tersebut, perjalanan mudik juga menyimpan tantangan tersendiri, terutama terkait kondisi fisik yang harus tetap prima di tengah padatnya arus lalu lintas dan jarak tempuh yang panjang.
Dosen fisiologi olahraga dari Universitas Gadjah Mada, Dr. dr. Zaenal Muttaqien, AIFM, menekankan bahwa menjaga kebugaran selama mudik bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan secara instan. Ia menyarankan agar persiapan fisik idealnya sudah dimulai jauh hari sebelumnya. Menurutnya, membangun stamina tubuh sebaiknya dilakukan secara bertahap, bahkan hingga enam bulan sebelum perjalanan mudik, agar tubuh benar-benar siap menghadapi kelelahan perjalanan.
Dalam praktiknya, aktivitas sederhana seperti duduk terlalu lama saat berkendara dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Hanya dalam waktu satu jam, posisi duduk statis sudah dapat menyebabkan kekakuan pada sendi, khususnya di area lutut dan punggung. Oleh karena itu, penting bagi pemudik untuk membiasakan olahraga ringan secara rutin. Latihan fisik yang dilakukan tiga kali seminggu selama 30 hingga 40 menit dengan jenis olahraga yang sesuai dinilai cukup efektif untuk menjaga kebugaran tubuh.
Lebih lanjut, Zaenal menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme alami berupa “pompa anti gravitasi” yang terdapat pada otot betis dan otot pernapasan. Saat seseorang duduk terlalu lama, aliran darah cenderung menumpuk di bagian bawah tubuh, sehingga kaki bisa terasa bengkak. Kondisi ini juga dapat mengurangi aliran darah kembali ke jantung dan otak, yang berujung pada gejala seperti pusing, pandangan berkunang-kunang, hingga menurunnya konsentrasi.
Untuk mencegah hal tersebut, pemudik disarankan meluangkan waktu sejenak untuk bergerak, minimal dua menit. Gerakan sederhana seperti menggerakkan telapak kaki dapat membantu melancarkan aliran darah. Selain itu, teknik pernapasan juga berperan penting. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dapat membantu meningkatkan suplai oksigen ke otak sehingga tubuh tetap segar.
Tak kalah penting, faktor kelelahan akibat pola makan juga perlu diperhatikan, terutama selama bulan Ramadan. Konsumsi makanan dan minuman secara berlebihan justru dapat memicu rasa kantuk. Hal ini terjadi karena tubuh membutuhkan aliran darah lebih banyak ke sistem pencernaan, sehingga pasokan oksigen ke otak berkurang. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi pengemudi.
Karena itu, menjaga pola makan tetap seimbang menjadi kunci. Mengonsumsi makanan secukupnya, memperhatikan asupan nutrisi, serta memastikan kebutuhan cairan terpenuhi akan membantu menjaga stamina selama perjalanan.
Pada akhirnya, mudik adalah perjalanan penuh makna yang seharusnya dinikmati dengan kondisi tubuh yang sehat dan bugar. Dengan persiapan fisik yang matang, disertai peregangan, pola makan yang baik, serta istirahat yang cukup, perjalanan pulang kampung dapat dilalui dengan aman, nyaman, dan penuh kebahagiaan. (ian)



Tinggalkan Balasan