• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Ketika Lebaran Berbeda

20 April 2023 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Prof. Dr. Akhmad Muzakki – Sekretaris Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Rektor dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Apa yang akan Anda lakukan jika lebaran berbeda? Pertanyaan ini tetap saja terasa penting sebagai alat uji respon bersama terhadap perbedaan meskipun lebaran berbeda hari memang bukan sesuatu yang baru. Seiring dengan lebaran beda hari yang potensial berulang dalam sejarah Muslim di Indonesia, pertanyaan ini terus penting dijadikan sebagai bahan refleksi bersama.

“Saya akan ikut Muhammadiyah,” jawab orang pertama atas pertanyaan di atas. “Saya ikut NU saja,” begitu jawab orang kedua. Beda lagi jawaban orang ketiga: “Kalau saya, ngikut keputusan pemerintah saja.” Yang keempat beda pula: “Kalau saya sih, mana yang lebih dulu lebaran,itu yang akan saya ikuti.”

Ide ologisme dan pragmatisme tampak masih cukup kuat menghiasi respon publik Muslim terhadap perbedaan hari lebaran. Nama lainnya adalah idulfitri. Bagi yang cenderung ideologis, ketaatan kepada organisasi dan atau institusi yang menjadi afiliasiideologisnya dipandang sangat penting. NU dan Muhammadiyah adalah contoh kecil dari ideologi yang terinstitutionalisasi di negeri ini. Lainnya juga masih banyak, meskipun struktur dan skalanya kecil-kecil. Ideologi yang lebih mapan disebut dengan pemerintah. Respon mereka yang menjadikan NU atau Muhammadiyah atau pemerintah bisa dibaca sebagai representasi dari ideologisme.

Respon yang menyebut“mana yang lebih dulu yang akan diikuti”, seperti disebutkan oleh orang keempat di atas, bisa dibaca sebagai contoh konkretpragmatisme. Preferensi untuk segera mengakhiri puasa Ramadan adalah contoh konkretatasekspresipragmatisme. Sikap ini tak memedulikan dari siapa, dari mana dan atau dari institusi ideologi sapa keputusan berlebaran lebih dulu atas selainnya itu lahir. Yang penting, segera mengakhiri puasa dengan berlebaran. Titik. Itu sikapnya. Tak terpengaruh oleh ideologi apapun kecuali kepentingan praktisuntuk segera berlebaran.

Berlebaran di atas ideologisme dan pragmatisme di atas sejatinya beririsan langsung dengan sikap dan kematangan diri terhadap fakta perbedaan. Jika yang muncul adalah sikap yang menjadikan perbedaan sebagai ancaman, maka tindakan negatif mulai dari mengolok hingga menistakanakan menyeruak. Intinya, akan lahir dari sikap ini tindak praktik yang menjadikan perbedaan sebagai pintu masuk untuk memusuhi mereka yang berbeda itu.

Jika yang hadir adalah sikap yang menjadikan perbedaan sebagai potensi, maka akan lahir tindakan positif, mulai dari saling menenggang rasa hingga memperkuat harmoni di atas perbedaan yang ada. Alih-alih dijadikan sebagai pemantik disharmoni, perbedaan justeru digelorakan untuk membangun harmoni sosial di antara sesama umat Muslim yang memang berbeda latar belakang sosiokultural dan preferensi keyakinan keagamaannya.

Dari bentangan sikap yang mungkin muncul secara melebar dan cenderung kontradiktif atas perbedaan di atas, pilihan positif tentu harus diambil. Ukurannya adalah nilai kebermanfaatan untuk kemaslahatan bersama (maslahah ‘ammah). Menghormati pasti positif, sedangkan mengolok sudah barang tentu negatif. Membangun harmoni sudah pasti positif, sedangkan memecah belah sudah barang tentu tindakan negatif.

Untuk itulah, di luar kepentingan akademik dan kebutuhan untuk memajukan ilmu keislaman, kita tidak sepatutnya ikut “berantem” satu sama lain dengan melancarkan debat tanpa ujung atas preferensi yang diambil atas pilihan berlebaran. Apalagi, argumentasi fiqih dan dalil-dalilnyasudah lama dikembangkan. Juga sudah banyak ahlinya. Dan, masing-masing hadir dengan kekuatan logika dan normativitas hukum yang sama-sama kuat. Tak perlu ada yang menistakan.

Tugas kita semua sebagai publik Muslim adalah menjadikan perbedaan itu sebagai rahmat. Sebagai berkah. Sebagai pemantik kemuliaan. Bukan sebagai bencana. Apalagi lalu melahirkan sikap yang kontradiktif atas kewajiban menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang multi kultural dan multi perspektif, termasuk atas presferensi keyakinan keagamaan. Nyorakin, mengejek, menghujat, dan bahkan menistakan orang-orang atau kelompok yang berbeda pandangan soallebaran adalah contoh-contoh sikap buruk yang akan meninggalkan defisit dan disentif kebaikan atas kehidupan bersama.

Betapa para ulama sudah berusaha dari awal perkembangan pembentukan hukum Islam (formative period of Islam) untuk selalu mencoba mendekati dan sekaligus memaknai fakta-fakta hukum atas berbagai perbedaan pendekatan dan pemahaman terhadap kasus tertentu. Pernyataanidzashahha al-hadits fa huwamadzhahbi(jika sebuah hadits sudah masuk kategori shahih, maka ia adalah madzhabku), seperti yang dikembangkan oleh al-Imam al-Syaf’i, adalah teladan baik bagaimana memahami, mendekati dan menyikapi perbedaan.

Jika di antara kita lalu mengembangkan sikap yang menistakan sesama atas dasar perbedaan berlebaran, pertanyaan reflektifnya begini: Apakah kita akan merasa lebih hebat dari para ulama yang telah jauh mengembangkan kematangan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan? Apakah kita akan merasa lebih mulia dibanding yang lain atas pilihan atau preferensi hari berlebaran?

Jangan karena kita berada di era digitial yang produk teknisnya memiliki daya sebar dan daya dampak lebih meluas lalu kita mempraktikkan prinsip ini: khalif tu’raf (berselisihlah, maka kau akan dikenal). Prinsip ini biasanya dipraktikkan oleh para pengabdi sosmed begini: bertindaklah anti-mainstream, maka kau akan cepat terkenal. Lalu, dibuatlan konten digital yang menjadikan perbedaan sebagai komodita sunggahan utama demi mengejar target keterkenalan dan ketersohoran.

Berbeda dalam berlebaran adalah hal biasa. Juga bukan yang pertama. Maka, menjadi pribadi yang dewasa terhadap perbedaan adalah kemuliaan. Menjadi pribadi yang matang dalam menyikapi perbedaan adalah kebajikan. Mari jadikan perbedaan sebagai berkah. Jangan jadikan perbedaan sebagai musibah. Dewasa dan matang dalam bersikap atas perbedaan adalah kemuliaan. Karena, indikator konkret kedewasaan dan kematangan adalah kemampuan tidak saja dalam memaknai melainkan lebih-lebih mengisi perbedaan dengan kebermanfaatan bersama.

Share This :

Ditempatkan di bawah: Ramadhan, wawasan Ditag dengan:1 Syawal 1444 H, Lebaran Berbeda, Perbedaan Penentuan 1 Syawal, ramadhan

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi?

13 Agustus 2026 By admin

MBG Wajib Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Matang

12 Agustus 2026 By admin

Rp 81 Tarif Trans Jatim, 11-17 Agustus 2026

12 Agustus 2026 By admin

Jelang Muktamar NU, Gus Ipul Ikut Nata Kasur Muktamirin

10 Agustus 2026 By admin

Bromo Ditutup Total, Api Meluas

10 Agustus 2026 By admin

Rihlah Yanmu Sowan ke Bahrul Ulum Jombang, Wakafkan Dua Ambulans dan Seribu Al-Quran

7 Agustus 2026 By zam

UWKS Perkuat Budaya Literasi melalui Seminar Nasional dan Peluncuran Buku Kredo Kewijayakusumaan

29 Juli 2026 By admin

Khofifah: Data BPS Jadi Fondasi Pembangunan Presisi dan Kebijakan Tepat Sasaran

29 Juli 2026 By isa

MUI Ingatkan AI Tak Boleh Mengikis Tradisi Sanad Keilmuan Islam

29 Juli 2026 By admin

Survei: Mayoritas Warga AS Berpandangan Negatif terhadap Netanyahu

29 Juli 2026 By wah

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Program MBG Turun Tajam

29 Juli 2026 By zam

Luka di Ujung Perjalanan: Messi Menutup Piala Dunia 2026 dengan Air Mata

21 Juli 2026 By zam

Kemendikdasmen Siapkan Rekrutmen Guru PNS Pusat untuk Sekolah Nasional Terintegrasi

21 Juli 2026 By wah

Spanyol Ukir Rekor Tak Terkalahkan Usai Juara Piala Dunia 2026

20 Juli 2026 By zam

IRGC: Dua Tanker Meledak di Hormuz

20 Juli 2026 By wah

Transaksi KDMP Jatim Tertinggi Secara Nasional, Tembus Rp21,64 Miliar

18 Juli 2026 By wah

Jatim Perkuat Posisi sebagai Penopang Ketahanan Pangan Nasional

18 Juli 2026 By zam

Prancis Lebih Termotivasi Hadapi Inggris demi Golden Boot Mbappe

18 Juli 2026 By admin

Inter Milan Bidik Djed Spence Gantikan Dumfries

17 Juli 2026 By zam

Sedekah: Investasi Abadi yang Tak Pernah Merugi

17 Juli 2026 By zam

Belajar ADEM di Jawa Timur, Mengabdi untuk Papua

12 Juli 2026 By admin

Festival Muharram LAZIS Nurul Falah Asah Hafalan dan Kreativitas Ratusan Santri

12 Juli 2026 By wah

Jatim Siap Perkuat Rantai Pasok Biodiesel B50, Khofifah Dukung Transformasi Energi Nasional

11 Juli 2026 By zam

De La Fuente Optimistis Spanyol Mampu Singkirkan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2026

11 Juli 2026 By wah

Ariana Grande Mundur dari American Horror Story 13, Tur Dunia Jadi Prioritas

11 Juli 2026 By zam

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Calvin Verdonk, Pemain Indonesia Tampil di Liga Champions
  • Zidane, Islam, dan Timnas Prancis: Ketika Agama Tak Seharusnya Jadi Ukuran
  • Kereta Garuda Prabayaksa Antar Bendera Pusaka ke Istana Merdeka
  • Hobi Memasak Bisa Menjaga Kesehatan Mental
  • Melepas Tukik Lekang di Pantai Banyuwangi

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.