
Labuhan Bajo (Trigger.id) – Langit di perairan Labuan Bajo belum juga bersahabat. Angin kencang, gelombang tinggi, dan cuaca yang tak menentu memaksa aktivitas wisata alam di kawasan Taman Nasional (TN) Komodo kembali dihentikan. Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) memutuskan memperpanjang penutupan sementara layanan wisata hingga setidaknya 20 Januari, menyusul belum membaiknya kondisi cuaca di wilayah tersebut.
Keputusan ini diambil seiring dengan kebijakan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo yang memperpanjang penutupan aktivitas pelayaran kapal wisata. KSOP menilai risiko keselamatan masih terlalu tinggi bagi kapal dan penumpang apabila pelayaran dipaksakan dalam kondisi cuaca ekstrem.
Bagi Labuan Bajo, cuaca bukan sekadar persoalan langit mendung atau hujan deras. Di kawasan perairan terbuka yang menghubungkan pulau-pulau di TN Komodo, perubahan cuaca bisa terjadi cepat dan ekstrem. Gelombang tinggi dan angin kencang berpotensi membahayakan kapal wisata, termasuk kapal kecil yang kerap mengangkut wisatawan menuju Pulau Komodo, Rinca, dan Padar.
Penutupan ini berdampak langsung pada denyut pariwisata setempat. Operator kapal wisata, pemandu wisata, hingga pelaku usaha kecil di sekitar pelabuhan terpaksa menahan aktivitas. Namun, pihak pengelola menegaskan bahwa keselamatan pengunjung dan pelaku wisata tetap menjadi prioritas utama.
“Penutupan dilakukan bukan hanya untuk melindungi wisatawan, tetapi juga kru kapal dan petugas di lapangan,” menjadi prinsip yang terus ditekankan otoritas setempat dalam menghadapi cuaca ekstrem tahunan yang kerap terjadi pada awal tahun.
BTNK menyatakan layanan wisata alam di kawasan TN Komodo baru akan dibuka kembali setelah KSOP Labuan Bajo mencabut penutupan pelayaran dan kondisi cuaca dinyatakan aman. Artinya, pembukaan kawasan bersifat situasional dan sangat bergantung pada perkembangan cuaca di lapangan.
Meski menimbulkan kekecewaan bagi wisatawan yang telah merencanakan perjalanan, penutupan ini juga menjadi pengingat bahwa alam memiliki ritmenya sendiri. Di kawasan konservasi sekelas Taman Nasional Komodo—rumah bagi satwa purba yang mendunia—keselamatan dan kelestarian harus berjalan beriringan dengan pariwisata.
Hingga kini, para wisatawan diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BTNK dan KSOP Labuan Bajo sebelum merencanakan kunjungan. Sementara itu, Labuan Bajo menunggu satu hal yang sama: cuaca yang kembali bersahabat, agar layar-layar kapal wisata dapat kembali terkembang dengan aman. (ian)



Tinggalkan Balasan