

Surabaya (Trigger.id) – Setiap kali bulan sabit tipis terlihat di langit, ada getaran yang sama di berbagai penjuru dunia. Dari gang-gang tua Kairo hingga perkampungan Jawa, dari kota-kota Maroko yang berwarna tanah hingga alun-alun Istanbul yang megah—Ramadhan datang bukan hanya sebagai kewajiban berpuasa, tetapi sebagai peristiwa budaya yang hangat, meriah, dan sarat makna.
Berikut empat potret tradisi unik masyarakat dunia dalam menyambut bulan suci.
Mesir: Lentera Fanous yang Menyalakan Rindu

Di Mesir, Ramadhan identik dengan cahaya fanous, lentera warna-warni yang menggantung di balkon, toko, dan jalan-jalan kota tua. Tradisi ini konon telah ada sejak era Dinasti Fatimiyah, ketika masyarakat menyambut khalifah dengan membawa lentera sebagai simbol kegembiraan.
Menjelang Ramadhan, pasar-pasar di Kairo berubah menjadi lautan cahaya. Anak-anak membawa fanous kecil sambil bernyanyi lagu-lagu khas Ramadhan. Lentera bukan sekadar hiasan; ia adalah simbol harapan, penerang jiwa, dan tanda bahwa bulan penuh ampunan telah tiba.
Turki: Tabuhan Genderang Sahur dan Mahya di Langit Kota

Di Turki, suasana Ramadhan terasa sejak malam pertama. Di kota-kota seperti Istanbul, dua menara masjid dihiasi lampu bertuliskan pesan religius, tradisi yang dikenal sebagai mahya. Kalimat seperti “Hoş Geldin Ramazan” (Selamat Datang Ramadhan) menggantung bercahaya di antara menara.
Saat dini hari, dentuman drum sahur menggema di gang-gang. Para penabuh drum tradisional berkeliling membangunkan warga untuk makan sahur—tradisi yang diwariskan sejak masa Kekhalifahan Utsmaniyah. Tabuhan itu bukan sekadar alarm; ia adalah penanda kebersamaan dan kesinambungan sejarah.
Maroko: Nafar dan Kehangatan Medinah

Di Maroko, ada sosok khas bernama nafar—pria berpakaian tradisional yang meniup terompet panjang untuk membangunkan warga sahur. Dengan jubah dan penutup kepala khas, ia berjalan menyusuri lorong-lorong medina tua, membawa nuansa spiritual yang lembut.
Menjelang Ramadhan, rumah-rumah dibersihkan, pasar dipenuhi kurma dan bahan sup harira—menu pembuka iftar yang hampir selalu hadir. Ketika adzan Maghrib berkumandang, keluarga berkumpul, memulai buka puasa dengan kurma dan susu, lalu menikmati hidangan khas yang menghangatkan tubuh dan hati.
Indonesia: Dugderan dan Semarak Kampung

Di Indonesia, Ramadhan hadir dalam ragam warna budaya. Di Semarang, masyarakat merayakannya dengan tradisi Dugderan, ditandai tabuhan bedug dan kemunculan ikon Warak Ngendog—simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa.
Di banyak daerah lain, anak-anak memukul bedug keliling kampung, masjid-masjid dihias lampu, dan pasar Ramadhan bermunculan menjajakan aneka takjil. Suasana gotong royong terasa kental; Ramadhan bukan hanya ibadah personal, tetapi juga perayaan sosial yang menyatukan.
Satu Bulan, Banyak Wajah, Satu Makna
Meski berbeda bahasa dan budaya, tradisi menyambut Ramadhan di berbagai negara memiliki benang merah yang sama: kegembiraan kolektif dan kesiapan spiritual. Lentera di Mesir, lampu mahya di Turki, terompet nafar di Maroko, hingga bedug di Indonesia—semuanya adalah cara manusia merayakan kedatangan bulan yang diyakini membawa rahmat.
Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momen ketika cahaya—baik dari lentera, lampu menara, maupun hati yang khusyuk—bersinar lebih terang dari biasanya.
—000—
*Wartawan senior, tinggal di Malang



Tinggalkan Balasan