
Surabaya (Trigger.id) – Setiap Ramadhan, dua istilah ini sering terdengar: takjil dan iftar. Keduanya sama-sama terkait dengan momen berbuka, tetapi memiliki makna dan penekanan yang berbeda. Memahami keduanya secara tepat penting agar ibadah puasa tidak sekadar menjadi rutinitas kuliner, melainkan tetap berada dalam koridor tuntunan syariat.
Apa Itu Iftar?
Secara bahasa, iftar (إفطار) berasal dari kata afṭara yang berarti “membuka puasa.” Dalam fikih, iftar adalah tindakan membatalkan puasa saat waktu Maghrib tiba.
Dasarnya merujuk pada hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, dengan beberapa teguk air (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Makna penting iftar:
- Mengakhiri ibadah puasa sesuai waktu yang ditetapkan.
- Mengikuti sunnah dengan menyegerakan berbuka.
- Diawali dengan doa dan kesederhanaan.
Dengan demikian, iftar adalah ibadahnya, bukan sekadar acara makan malam.
Apa Itu Takjil?
Kata takjil berasal dari bahasa Arab ta‘jīl (تعجيل) yang berarti “menyegerakan.” Dalam konteks puasa, maknanya adalah menyegerakan berbuka ketika waktu Maghrib tiba.
Dalam praktik masyarakat Indonesia, istilah takjil mengalami perluasan makna. Ia sering dipahami sebagai makanan atau minuman pembuka puasa—seperti kolak, kurma, atau air manis.
Padahal secara istilah syar’i, takjil bukan nama makanan, melainkan anjuran untuk tidak menunda berbuka.
Ulama seperti Imam An-Nawawi dalam syarah hadis di Sahih Muslim menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka adalah sunnah yang menunjukkan ketaatan dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Perbedaan Takjil dan Iftar
| Aspek | Takjil | Iftar |
|---|---|---|
| Makna bahasa | Menyegerakan | Membuka puasa |
| Makna syar’i | Anjuran menyegerakan berbuka | Tindakan membatalkan puasa |
| Fokus | Waktu (tidak menunda) | Perbuatan (mengakhiri puasa) |
| Praktik populer di Indonesia | Makanan pembuka | Acara atau momen berbuka |
Singkatnya:
Takjil adalah prinsip waktunya, iftar adalah perbuatannya.
Panduan Praktis Berbuka Sesuai Sunnah
Agar puasa bernilai maksimal, berikut panduan ringkas berbuka berdasarkan kajian hadis yang sahih:
1️⃣ Segerakan Berbuka
Jangan menunda setelah azan Maghrib berkumandang. Ini bagian dari sunnah.
2️⃣ Dahulukan yang Ringan
Rasulullah ﷺ berbuka dengan kurma atau air. Ini juga selaras dengan ilmu kesehatan modern—gula alami kurma cepat mengembalikan energi tanpa membebani lambung.
3️⃣ Baca Doa
Doa yang diriwayatkan dalam hadis hasan:
“Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruq wa tsabatal ajru insya Allah.”
(Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.)
4️⃣ Hindari Berlebihan
Al-Qur’an mengingatkan:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Berbuka bukan ajang balas dendam rasa lapar.
Meluruskan Kebiasaan
Di Indonesia, “berburu takjil” sering dimaknai sebagai berburu aneka makanan manis. Tidak salah selama tidak berlebihan. Namun yang perlu diluruskan adalah pemahaman bahwa takjil bukan nama makanan, melainkan sikap menyegerakan berbuka.
Jika seseorang menunda makan berat karena ingin shalat Maghrib dulu, tetapi sudah membatalkan puasa dengan kurma atau air, maka ia tetap telah melaksanakan takjil dan iftar dengan benar.
Penutup: Kembali ke Esensi
Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan kedisiplinan. Memahami perbedaan takjil dan iftar membantu kita:
- Tidak terjebak pada istilah yang keliru
- Menghidupkan sunnah secara sadar
- Menjadikan berbuka sebagai ibadah, bukan sekadar tradisi
Akhirnya, yang terpenting bukan banyaknya hidangan saat berbuka, tetapi keberkahan dalam setiap suapan pertama yang mengakhiri puasa. (ian)
Referensi: Berbagai sumber



Tinggalkan Balasan