

Kabut pagi masih menggantung di lereng pegunungan Jawa Timur. Sinar matahari perlahan menembus celah-celah pepohonan tinggi yang berdiri kokoh. Di tempat-tempat seperti inilah hutan bekerja dalam diam—menyimpan air, menjaga kesuburan tanah, dan menjadi rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna.
Bagi Jawa Timur, hutan bukan sekadar bentang alam hijau, tetapi juga benteng ekologis sekaligus ruang pembelajaran bagi masyarakat. Pengelolaan hutan kini semakin diarahkan pada tiga fungsi utama: konservasi, edukasi lingkungan, dan pengembangan wisata alam.
Potensi Besar Hutan Jawa Timur
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa hutan memiliki peran strategis bagi masa depan pembangunan daerah, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan hutan harus dilakukan secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Hutan di Jawa Timur memiliki potensi luar biasa. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata edukatif yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan bahwa pengembangan ekowisata berbasis masyarakat menjadi salah satu pendekatan penting agar masyarakat sekitar hutan ikut merasakan manfaat ekonomi sekaligus memiliki kesadaran untuk menjaga kelestariannya.
Di berbagai daerah di Jawa Timur, kawasan hutan kini mulai berkembang menjadi destinasi wisata alam yang menarik, mulai dari hutan pinus di kawasan pegunungan hingga hutan trembesi yang memiliki lanskap unik.
Pengelolaan Hutan Berbasis Keberlanjutan
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur Dr. Jumadi M.MT. menjelaskan bahwa luas kawasan hutan di provinsi ini mencapai sekitar 1.361.461 hektare, tersebar dari kawasan pegunungan hingga wilayah pesisir.
Menurutnya, pengelolaan hutan saat ini tidak hanya berorientasi pada perlindungan kawasan, tetapi juga melibatkan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.
“Pengelolaan hutan di Jawa Timur diarahkan pada prinsip keberlanjutan. Hutan harus tetap terjaga sebagai ekosistem, namun juga bisa memberi manfaat ekonomi dan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat,” kata Jumadi.
Salah satu program yang terus dikembangkan adalah perhutanan sosial, yang memberi kesempatan kepada masyarakat sekitar hutan untuk mengelola kawasan secara produktif tanpa merusak ekosistem.
Data Dinas Kehutanan menunjukkan luas kawasan perhutanan sosial di Jawa Timur telah mencapai sekitar 197 ribu hektare yang melibatkan lebih dari 140 ribu kepala keluarga.
Selain itu, Jawa Timur juga memiliki potensi hutan mangrove yang cukup besar di wilayah pesisir dengan luas 30.839,3 hektar, yang berfungsi melindungi garis pantai sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut.
Tahura Raden Soerjo, Laboratorium Alam Jawa Timur
Salah satu kawasan penting dalam upaya konservasi di Jawa Timur adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo.
Kawasan konservasi ini memiliki luas sekitar 27.868,30 hektare dan berada di kompleks Gunung Arjuno–Welirang–Anjasmoro. Selain berfungsi sebagai kawasan perlindungan ekosistem pegunungan, Tahura juga menjadi pusat penelitian, pendidikan lingkungan, dan wisata alam.
Berbagai sumber mata air penting bagi daerah sekitar berasal dari kawasan ini. Jalur-jalur wisata alamnya juga banyak dimanfaatkan oleh pecinta alam, pelajar, hingga peneliti yang ingin mempelajari kekayaan biodiversitas hutan pegunungan Jawa.
Perspektif Akademisi
Pakar kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Bambang Hero Saharjo, menilai bahwa pengelolaan hutan modern harus mengintegrasikan perlindungan ekosistem dengan pendidikan lingkungan.
Menurutnya, kawasan hutan dapat menjadi “laboratorium alam” yang penting untuk membangun kesadaran ekologis generasi muda.
“Hutan bukan hanya sumber kayu, tetapi juga pusat keanekaragaman hayati dan penyangga kehidupan manusia. Melalui kegiatan edukasi di kawasan hutan, masyarakat bisa memahami betapa pentingnya menjaga ekosistem,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pengembangan wisata alam di kawasan hutan harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan agar aktivitas wisata tidak merusak ekosistem yang ada.
Menjaga Warisan Alam
Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap lingkungan, hutan Jawa Timur tetap menjadi penyangga kehidupan yang sangat penting.
Upaya merawat dan menumbuhkembangkan hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.
Dari lereng Arjuno hingga kawasan pesisir yang dipenuhi mangrove, hutan Jawa Timur berdiri sebagai penjaga keseimbangan alam—mengingatkan bahwa menjaga hutan hari ini berarti menjaga masa depan generasi yang akan datang.(ian)
—000—
*Pemimpin Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan