
Surabaya (Trigger.id) – Keberhasilan Kebun Binatang Surabaya (KBS) dalam mengembangbiakkan komodo menjadi kabar membanggakan sekaligus membuka peluang kerja sama internasional. Lembaga konservasi ini kini memiliki koleksi lebih dari 50 ekor komodo, sebuah pencapaian yang menarik perhatian dunia, termasuk dari iZoo Shizuoka yang dikenal sebagai salah satu kebun binatang reptil terbesar di Jepang.
Melalui skema breeding loan atau peminjaman untuk pengembangbiakan, KBS akan meminjamkan sepasang komodo ke iZoo Shizuoka. Langkah ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kualitas pengelolaan satwa di KBS, tetapi juga memperkuat peran Indonesia dalam konservasi satwa endemik.
Direktur Operasional KBS, Nurika Widyasanti, menegaskan bahwa peminjaman tersebut tidak akan mengganggu proses breeding yang selama ini berjalan di Surabaya. Ia memastikan bahwa sistem pengembangbiakan tetap berlanjut dengan baik meskipun ada komodo yang dikirim ke Jepang.
Menurutnya, sebelum kerja sama ini disepakati, pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan Republik Indonesia telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan fasilitas di Jepang. Bahkan, Menteri Kehutanan telah meninjau langsung kondisi di iZoo Shizuoka, termasuk memastikan kandang komodo di sana dilengkapi pengaturan suhu dan lingkungan yang menyerupai habitat asli di Indonesia.
“Semua disiapkan agar sesuai dengan kebutuhan komodo, mulai dari suhu hingga kondisi lingkungan,” jelas Nurika.
Keberhasilan breeding di KBS sendiri tidak lepas dari perhatian terhadap kebutuhan dasar satwa. Perawatan komodo dilakukan dengan mengutamakan pola makan yang tepat serta lingkungan yang mendekati habitat aslinya. Pendekatan ini menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan sekaligus keberhasilan reproduksi komodo di penangkaran.
Apresiasi atas capaian ini juga datang dari Eri Cahyadi. Ia menyebut keberhasilan KBS dalam mengembangbiakkan komodo menjadi daya tarik tersendiri hingga menarik minat kebun binatang di Jepang untuk bekerja sama.
“Karena kita berhasil dalam breeding komodo, mereka tertarik untuk meminjam. Dan sebagai bagian dari kerja sama, kita juga akan mendapatkan pinjaman satwa dari Jepang,” ujarnya.
Eri menegaskan bahwa kerja sama ini mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa. Komodo yang dipinjamkan akan tetap berada dalam pengawasan bersama antara pihak Indonesia dan Jepang. Bahkan, terdapat mekanisme evaluasi berkala, termasuk kemungkinan penarikan kembali jika satwa mengalami masalah kesehatan selama masa peminjaman.
Kerja sama ini dirancang bukan sebagai pertukaran permanen, melainkan peminjaman dengan jangka waktu tertentu, yakni sekitar lima tahun. Dalam periode tersebut, kedua pihak berkomitmen menjaga kondisi satwa agar tetap sehat dan sesuai standar konservasi internasional.
Lebih jauh, Eri mengungkapkan bahwa proses menuju kesepakatan ini bukanlah hal yang instan. Upaya kerja sama telah dirintis sejak satu dekade lalu oleh pemerintah pusat, hingga akhirnya terealisasi melalui penandatanganan nota kesepahaman pada April 2026.
Ia pun optimistis kolaborasi ini akan berdampak positif, tidak hanya bagi konservasi, tetapi juga dalam meningkatkan minat masyarakat. Kehadiran komodo di Jepang diyakini akan menjadi daya tarik besar, mengingat satwa ini telah lama diimpikan oleh pengelola iZoo dan pengunjung di sana.
Di sisi lain, kerja sama ini juga memperkuat posisi KBS sebagai salah satu pusat konservasi satwa yang berhasil di Indonesia. Lebih dari sekadar kebun binatang, KBS kini menunjukkan perannya sebagai institusi yang mampu berkontribusi dalam pelestarian satwa langka di tingkat global.
Dengan keberhasilan breeding yang konsisten dan kolaborasi internasional yang semakin luas, komodo—ikon satwa endemik Indonesia—tidak hanya terjaga kelestariannya, tetapi juga semakin dikenal dunia. (ian)



Tinggalkan Balasan