

Memiliki anak adalah anugerah besar dari Allah SWT. Tidak semua orang diberi kesempatan itu. Maka ketika Allah menitipkan seorang anak kepada kita, sejatinya Allah sedang memberikan kepercayaan dan sekaligus amanah. Anak bukan sekadar pelengkap rumah tangga, bukan sekadar penerus nama keluarga. Mereka adalah ladang pahala… sekaligus ladang ujian.
Di dalam Al-Qur’an, kedudukan anak di mata orang tua digambarkan setidaknya dalam empat posisi.
1️⃣ Anak sebagai Penyejuk Hati (Qurrata A’yun)
Allah berfirman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati (kami).”
(QS. Al-Qur’an, Al-Furqan: 74)
Anak bisa menjadi penyejuk hati. Senyum mereka menghapus lelah. Tawa mereka mengusir penat. Doa mereka kelak bisa menerangi kubur kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
“Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Maka ketika anak menjadi saleh dan salehah, itulah kebahagiaan yang hakiki.
2️⃣ Anak sebagai Perhiasan Dunia
Allah berfirman:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”
(QS. Al-Kahf: 46)
Anak adalah zinah — perhiasan. Membuat hidup terasa indah. Rumah terasa hidup. Tetapi perhiasan itu bukan tujuan, melainkan titipan. Jika perhiasan itu membuat kita lalai dari Allah, maka ia berubah dari nikmat menjadi musibah.
3️⃣ Anak sebagai Ujian
Allah menegaskan:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah ujian.”
(QS. At-Taghabun: 15)
Anak bisa menjadi ujian kesabaran. Ketika sakit, hati kita diuji. Ketika membangkang, emosi kita diuji. Ketika gagal, kesabaran kita diuji. Allah ingin melihat: apakah kita tetap sabar, tetap adil, tetap mendidik dengan kasih sayang?
Karena mendidik anak bukan hanya soal memberi makan dan sekolah terbaik. Tapi soal membentuk iman, akhlak, dan ketakwaan.
4️⃣ Anak Bisa Menjadi Musuh
Allah juga mengingatkan dengan sangat tegas:
إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”
(QS. At-Taghabun: 14)
Mengapa disebut musuh? Bukan karena dibenci. Tetapi karena bisa melalaikan kita dari ketaatan. Bisa menyeret kita kepada yang haram demi memenuhi keinginan mereka. Bisa membuat kita meninggalkan shalat, meninggalkan dakwah, meninggalkan amanah. Na’udzubillah.
Dari sinilah Allah menguji para orang tua. Jika anak menjadi penyejuk hati, apakah kita bersyukur?. Jika anak menjadi perhiasan, apakah kita tetap sederhana?. Jika anak menjadi ujian, apakah kita bersabar?. Jika anak menjadi potensi “musuh” dalam ketaatan, apakah kita tetap teguh?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Inilah tugas besar orang tua: bukan sekadar membesarkan, tetapi menyelamatkan.
Dan ingatlah… ridha orang tua kepada anak yang dididik dengan ikhlas, sabar, dan penuh doa akan mendatangkan ridha Allah. Selama orang tua mendidik bukan karena ego, bukan karena gengsi, tapi karena ingin anak dekat dengan Allah.
Jika orang tua sabar, ikhlas, dan ridha atas setiap prosesnya — insyaAllah ia lulus dalam ujian itu. Karena pada akhirnya, anak bukan milik kita. Mereka milik Allah. Kita hanya dititipi sementara. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita:
- Penyejuk hati
- Perhiasan yang mendekatkan kepada-Nya
- Ujian yang mengangkat derajat
- Bukan musuh yang melalaikan
Dan semoga kita termasuk orang tua yang kelak berkumpul kembali bersama anak-anak kita di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
—000—
*Pengasuh Pesantren Al Qur’an Nurul Falah Surabaya



Tinggalkan Balasan