
Surabaya (Trigger.id) – Surabaya tak pernah benar-benar sepi dari arus datang. Kota ini, dengan denyut ekonominya yang kuat dan peluang yang terus terbuka, selalu menjadi magnet bagi banyak orang dari berbagai daerah. Namun, di balik geliat itu, Pemerintah Kota Surabaya kini mencoba mengatur ritme—bukan untuk menutup pintu, melainkan menjaga keseimbangan.
Melalui Surat Edaran (SE) Pengendalian Urbanisasi 2026, Pemkot Surabaya mengirim pesan yang tegas namun bijak: datang boleh, tapi harus siap. Urbanisasi tak lagi dipandang sekadar perpindahan manusia, melainkan fenomena kompleks yang menyangkut kesiapan kerja, tempat tinggal, hingga kemampuan beradaptasi dengan kehidupan kota.
Setiap tahun, terutama selepas Lebaran, Surabaya menghadapi lonjakan pendatang baru. Sebagian datang dengan harapan besar, namun tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam realitas keras perkotaan—minim keterampilan, sulit mendapat pekerjaan, hingga berujung pada persoalan sosial baru. Dari sinilah kekhawatiran itu bermula.
Lewat kebijakan ini, Pemkot mendorong calon pendatang untuk memiliki kejelasan tujuan. Mereka diimbau sudah mengantongi pekerjaan atau memiliki keahlian yang dibutuhkan. Bagi yang datang tanpa bekal, risiko yang dihadapi bukan hanya kegagalan pribadi, tetapi juga tekanan tambahan bagi kota yang harus menanggung dampaknya.
Di sisi lain, pemerintah juga menggandeng aparat wilayah hingga tingkat RT/RW untuk melakukan pendataan penduduk pendatang. Upaya ini bukan untuk membatasi, melainkan memastikan setiap orang yang datang tercatat dan terpantau, sehingga kebijakan sosial dapat berjalan lebih tepat sasaran.
Langkah ini menjadi refleksi bahwa urbanisasi bukan sekadar soal perpindahan fisik, tetapi juga kesiapan mental dan ekonomi. Surabaya ingin tetap menjadi kota yang terbuka, namun dengan tatanan yang terjaga—agar setiap harapan yang datang tak berujung pada kekecewaan.
Di tengah arus yang tak mungkin dihentikan, Surabaya memilih untuk mengelola. Sebab kota yang baik bukan yang menutup diri, melainkan yang mampu menyiapkan ruang bagi semua, tanpa kehilangan arah. (ian)



Tinggalkan Balasan