

Nuzulul Quran memang masih beberapa hari lagi. Namun di kawasan Kampung Arab Ampel, Surabaya, gema persiapannya sudah terasa sejak awal Ramadan. Bukan sekadar spanduk dan seremoni, warga menyambut malam turunnya Al-Qur’an dengan rangkaian tradisi yang hidup—penuh doa, ilmu, dan air mata haru.
Di pelataran Masjid Sunan Ampel, lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan. Anak-anak berjalan beriringan membawa obor kecil, melantunkan shalawat. Para orang tua duduk bersila, sebagian menggenggam mushaf, sebagian lagi memejamkan mata, larut dalam dzikir.
Sepekan sebelum 17 Ramadan, majelis-majelis taklim menggelar khataman Al-Qur’an bergiliran dari rumah ke rumah. Aroma kopi dan kurma memenuhi gang-gang sempit, menyatukan obrolan ringan dengan tilawah yang khusyuk. Di sudut lain, para pemuda menyiapkan panggung kecil untuk pembacaan puisi religi dan refleksi sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Malam puncaknya bukan hanya tentang ceramah panjang. Ia adalah ruang muhasabah bersama. Seorang kiai sepuh mengisahkan bagaimana ayat “Iqra’” menjadi perintah pertama yang mengguncang peradaban—membaca bukan hanya teks, tetapi membaca kehidupan. Suaranya pelan namun dalam, menembus hati jamaah yang terdiam.
Usai tausiyah, lantunan ayat-ayat suci bergema. Seorang remaja membacakan Surah Al-‘Alaq dengan suara bergetar. Di barisan belakang, seorang ibu menyeka air mata. “Setiap Nuzulul Quran, saya selalu teringat betapa Al-Qur’an menjaga keluarga kami,” bisiknya.
Tradisi lain yang tak pernah absen adalah sedekah bersama. Warga mengumpulkan beras, minyak, dan kebutuhan pokok untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Bagi mereka, memuliakan Al-Qur’an berarti menghadirkan nilai-nilainya dalam tindakan nyata—menguatkan yang lemah, menyapa yang sepi.
Di Ampel, Nuzulul Quran bukan hanya peringatan sejarah turunnya wahyu. Ia adalah perayaan kedekatan—antara manusia dan Tuhannya, antara tetangga dan sesamanya. Malam itu, Surabaya terasa lebih sunyi namun hangat. Di bawah langit Ramadan, ayat-ayat suci kembali turun—bukan dari langit, tetapi ke dalam hati yang siap menerima.
—000—
*Dewan Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan