
Surabaya (Trigger.id) – Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan yang membentuk jiwa, membersihkan hati, dan mendekatkan kita kepada Allah SWT. Namun, pertanyaan terpenting bukan hanya bagaimana kita menjalani Ramadhan, melainkan bagaimana kita melanjutkan semangatnya setelah ia berlalu. Banyak di antara kita yang merasakan peningkatan ibadah selama Ramadhan, tetapi tidak sedikit pula yang kembali lalai setelahnya.
Melalui khutbah ini, marilah kita merenungkan bersama: apa yang seharusnya kita lakukan setelah Ramadhan? Bagaimana menjaga ruh ibadah agar tetap hidup, serta bagaimana menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar momen tahunan yang berlalu tanpa bekas.
Khutbah I:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالٰى وَطَاعَتِهِ بِاِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : قال الله تعالى: (فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan inilah sebaik-baik bekal hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
…وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ “…
Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Kita sekarang berada di akhir bulan Ramadhan.
Hari-hari Ramadhan yang penuh berkah akan berlalu. Malam-malam yang dihiasi dengan qiyam, tilawah, doa dan tangisan di hadapan Allah akan meninggalkan kita.
Menjelang perpisahan itu, ada sebuah pertanyaan penting untuk kita renungkan: Apa yang harus kita lakukan setelah Ramadhan? Apakah ibadah kita akan ikut pergi bersama Ramadhan? Dan apakah ketaatan kita hanya menjadi ibadah musiman?
Jamaah shalat Idul Fitri yang Dimuliakan Allah,
Ketahuilah bahwa Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama di bulan-bulan lainnya. Ramadhan memang akan berlalu, tetapi kewajiban untuk taat kepada Allah tidak pernah berlalu. Allah SWT berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 99)
Ketahuilah, bahwa ibadah dalam Islam bukanlah amalan yang dibatasi oleh musim tertentu atau momentum sesaat. Ia bukan hanya milik bulan Ramadhan, bukan pula hanya milik hari-hari tertentu ketika semangat sedang tinggi. Pada hakikatnya, ibadah adalah perjalanan seumur hidup seorang hamba kepada Allah.
Selama napas masih berhembus dan jantung masih berdetak, selama itu pula kewajiban seorang mukmin adalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penggalan ayat di atas memberikan pesan yang sangat tegas bahwa ibadah tidak memiliki garis akhir dalam kehidupan manusia kecuali ketika kematian datang menjemput. Artinya, seorang mukmin tidak boleh merasa cukup dalam beribadah. Tidak ada istilah pensiun dari ketaatan, dan tidak ada masa berhenti dari kebaikan.
Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh hanya rajin beribadah ketika Ramadhan tiba, lalu kembali lalai setelah Ramadhan berlalu. Jika seseorang hanya mengenal Allah pada waktu-waktu tertentu, maka sesungguhnya ia belum memahami hakikat penghambaan yang sebenarnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Para ulama sholeh terdahulu bahkan memberikan nasihat yang mendalam, bahwa barang siapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah berlalu. Namun barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Oleh karena itu, setelah Ramadhan berlalu, semangat ibadah tidak boleh ikut berlalu. Justru Ramadhan seharusnya menjadi madrasah yang melatih kita untuk terus menjaga shalat, memperbanyak sedekah, membaca Alquran, memperbaiki akhlak, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Sungguh merugi jika seseorang hanya menjadi hamba yang rajin beribadah pada musim tertentu. Sebab kehidupan ini adalah ladang amal yang waktunya sangat terbatas. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk menambah bekal menuju akhirat. Maka selama hayat masih dikandung badan, selama pintu taubat masih terbuka, selama kesempatan masih Allah berikan, jangan pernah berhenti untuk beribadah. Teruslah mendekat kepada Allah, hingga tiba saat ajal datang dan perjalanan ibadah kita di dunia benar-benar berakhir. Jamaah Jumat Rahimakumullah, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi madrasah yang mendidik jiwa kita. Di bulan Ramadhan kita belajar menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menahan lisan dari perkataan buruk, memperbanyak sedekah, serta mendekatkan diri kepada Alquran. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Ramadhan juga memberikan kesempatan besar untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya memanfaatkan bulan ini sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki diri sebelum kesempatan itu berlalu. Lalu selama ini apakah Ramadhan telah benar-benar mengubah kita? Apakah setelah Ramadhan kita menjadi lebih rajin shalat, lebih lembut hati, lebih peduli kepada sesama, lebih dekat kepada Alquran ? Jika jawabannya iya, maka itulah tanda keberhasilan Ramadhan kita. Para ulama mengatakan:
مِنْ عَلَامَةِ قَبُوْلِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
“Di antara tanda diterimanya sebuah kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya.” Sekali lagi, jika setelah Ramadhan kita masih rajin shalat berjamaah, masih membaca Alquran, masih gemar bersedekah, maka itu adalah tanda bahwa Ramadhan kita diterima oleh Allah. Sebaliknya, jika setelah Ramadhan kita kembali kepada kemaksiatan, kembali meninggalkan shalat, kembali jauh dari Alquran, maka di sini kita perlu khawatir terhadap diri kita sendiri yang mungkin menjalani Ramadhan tanpa makna sama sekali. Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah, Adapun hal terpenting setelah Ramadhan adalah istiqamah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Makna istiqamah tidak berarti harus melakukan amalan besar setiap hari. Tetapi bisa juga melakukan amal kebaikan, meskipun kecil, tetapi dilakukan secara terus-menerus. Rasulullah SAW sendiri telah memberikan teladan bahwa ibadah adalah konsistensi sepanjang hayat. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi nilai-nilai ibadah hakikatnya bukanlah terletak hanya pada banyaknya, tetapi pada kesinambungannya. Seorang mukmin yang sejati adalah mereka yang menjaga ketaatan dalam setiap fase kehidupan. Ketika muda maupun tua, ketika lapang maupun sempit, ketika sehat maupun sakit. Maka setelah Ramadhan, jangan tinggalkan shalat berjamaah, jangan tinggalkan Alquran, jangan berhenti bersedekah, jangan putus silaturahmi. Karena orang yang benar-benar beribadah itu tidak tergantung hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang hidupnya. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Setelah Ramadhan, jangan biarkan hati kita kembali keras. Jangan biarkan masjid kembali sepi. Jangan biarkan Alquran kembali berdebu di rak rumah kita. Perhatikanlah, bahwa sungguh Allah telah memberikan peringatan kepada kita:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat.” (QS. An-Nahl: 92)
Ini maknanya, secara tersirat, adalah jangan sampai kita membangun kebaikan selama Ramadhan, tetapi kemudian merusaknya kembali setelah Ramadhan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Setelah Ramadhan, marilah kita tetap menjaga semangat Ramadhan dengan menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak membaca Alquran, memperbanyak sedekah, menjaga ukhuwah dan silaturahmi, serta selalu berusaha agar ibadah kita menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Semoga Allah SWT membimbing kita semua agar mampu menjalani hidup sesuai tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ
فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.



Tinggalkan Balasan