

Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan peringatan yang kini terasa sangat nyata. Beliau bersabda bahwa akan datang masa ketika umat Islam menjadi santapan empuk bagi musuh-musuhnya, seperti orang-orang lapar mengerumuni hidangan. Ketika para sahabat bertanya apakah itu karena jumlah umat Islam sedikit, Nabi ﷺ menjawab, justru sebaliknya: umat ini banyak, tetapi seperti buih di lautan.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?”Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian buih, seperti buih di lautan. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian”Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian.” (HR. Abu Dawud no. 4297)
Buih tampak memenuhi permukaan, namun tidak memiliki bobot, mudah terbawa arus, dan cepat menghilang. Inilah gambaran umat yang besar secara jumlah, tetapi lemah secara pengaruh dan keberanian moral.
Rasulullah ﷺ menjelaskan penyebabnya dengan sangat jelas: Allah mencabut rasa takut musuh terhadap umat Islam dan menanamkan penyakit wahn di dalam hati kaum Muslimin. Ketika ditanya apa itu wahn, Nabi ﷺ menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, hasan sahih).
Cinta dunia bukan berarti memiliki harta atau kemajuan, melainkan ketika dunia menjadi tujuan hidup. Dari sinilah lahir ketakutan kehilangan kenyamanan, keengganan membela kebenaran, serta sikap kompromi terhadap kebatilan.
Padahal Allah telah menegaskan bahwa kemuliaan sejati hanya milik orang-orang beriman: “Kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman” (QS. Al-Munafiqun: 8). Jika umat hari ini tak lagi disegani, maka problem utamanya bukan pada jumlah atau sumber daya, tetapi pada arah iman.
Solusinya bukan kemarahan, melainkan koreksi orientasi hidup. Al-Qur’an mengajarkan, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah” (QS. Al-An’am: 162). Ketika dunia kembali berada di tangan, bukan di hati, umat tak lagi menjadi buih, melainkan kekuatan bermartabat.
Sabda Nabi ﷺ tentang “buih di lautan” bukan vonis, melainkan peringatan. Agar umat bercermin, bukan berputus asa.
—000—
*)Direktur Eksekutif Pesantren Al Quran Nurul Falah Surabaya



Tinggalkan Balasan