• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Sampai Kapan Keracunan MBG Berakhir

16 Januari 2026 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Surat izin mengemudi (SIM), merupakan bukti legalitas seseorang mengemudikan kendaraan bermotor. Fungsinya sebagai sarana perlindungan masyarakat. Dengan dimilikinya SIM, diharapkan pengemudi yang kompeten tidak akan membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Mestinya aturan baku serupa, diberlakukan juga bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Anehnya”, SPPG yang tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), masih diizinkan menjalankan aktivitasnya. Tidak mengherankan, tanpa asas “legalitas”, korban keracunan makan bergizi gratis (MBG) terus berjatuhan. Meski ada embel-embel gratis, sejatinya MBG tidaklah gratis, melainkan dibayar dari pajak rakyat. Anggaran jumbo tidak serta merta membebaskannya dari persoalan keracunan makanan. Karena itu, masyarakat berhak mengawasi akuntabilitas penggunaan dananya serta mengkritisi tata kelolanya. 

Korban keracunan MBG kali ini mungkin mencapai rekor. Terkini, Mojokerto tertimpa “gilirannya. Sedikitnya sebanyak 780 murid, wali murid, dan guru, menjadi korbannya. Disinyalir SPPG yang bertanggungjawab memasok makanan pemicu keracunan, tidak memiliki SLHS. SPPG tersebut bukan satu-satunya yang beroperasi tanpa mengantongi sertifikat. Dari sebanyak 77 SPPG, baru satu saja yang telah memilikinya. 

Pada waktu yang bersamaan, Kabupaten Grobogan melaporkan kejadian serupa.  Bahkan korbannya lebih banyak, yakni mencapai 803 orang. Sejak diluncurkannya program MBG, hingga kini korban kumulatif keracunannya telah tembus angka 21.254 orang. Angka tersebut berdasarkan catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).

Suara publik

Media sosial dapat merepresentasikan pendapat publik, terkait program MBG. Terbaru, kata “Guru” sedang trending di X. Warganet ramai-ramai mencermati proyeksi pendanaan MBG, untuk tahun 2026. Nilainya amat fantastis. Mencapai angka Rp.335 triliun. Banyak cuitan yang kemudian mengkritisi besarnya alokasi pendanaan MBG tersebut. Andainya dana jumbo itu dimanfaatkan untuk pengembangan pendidikan atau kesehatan, betapa besarnya manfaat yang akan diperoleh. Postingan akun @dosenkesmas, dinilai warganet sangat menarik. Dana MBG tahun 2026, setara  dengan pembiayaan kuliah bagi 3,3 juta anak hingga lulus S1 di kampus terkemuka. Nilai yang sama, dapat menggaji 5,5 juta guru honorer sebesar Rp.5 juta/bulan, selama satu tahun. 

Kekecewaan yang sama dilontarkan Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Pasalnya pemerintah akan mengangkat para pegawai SPPG, menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dasarnya adalah Pasal 17 Peraturan Presiden No.115, tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG. Mestinya negara juga memberlakukan kebijakan serupa pada guru. Sebab, guru merupakan garda terdepan dalam pendidikan anak-anak penerus masa depan bangsa. Hingga kini masih ada ribuan tenaga pendidik yang masih berjuang selama bertahun-tahun, agar bisa diangkat menjadi PPPK. Bandingkan dengan SPPG yang baru setahun, tetapi diperlakukan secara “khusus”. 

 Berbagai kekecewaan publik pada program MBG, banyak ditumpahkan di media sosial. Meski di beberapa daerah terjadi “intimidasi” agar tidak komplain terhadap kekurangan MBG, tapi akhirnya viral juga. Banyak ujaran lucu namun mengena, diungkapkan oleh orang tua siswa. Misalnya “mereka (baca: penerima manfaat) yang makan, tapi kita yang waswas”. Ada pula yang memelesetkan MBG sebagai “makan beracun gratis”. Fenomena kritis semacam itu, mencerminkan betapa tingkat kepercayaan rakyat terhadap MBG semakin memudar. Ekspresi kecemasan seorang ibu, juga tampak dari demonstrasi yang natural. Aksi Suara Ibu Indonesia di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, sangat menarik perhatian warga. Tuntutan mereka orasikan,  sambil diiringi “musik dapur”. Personifikasi pukulan panci, sotil, dan wajan, mencerminkan hilangnya batas kesabaran para ibu. Mereka tidak anarkis. Maklum, mereka adalah kumpulan akademisi, pegiat sosial, seniman, dan aktivis masyarakat lainnya.  Pesannya cukup singkat. Evaluasi menyeluruh program prioritas MBG yang sentralistik dan militeristik!  

Pendapat warganet seirama dengan riset CELIOS (Center of Economic and Law Studies). Menurut lembaga riset independen itu, program MBG belum menunjukkan hasil sesuai klaim Badan Gizi Nasional (BGN). Selain tidak meringankan beban ekonomi keluarga, MBG tidak membuat anak lebih fokus, aktif, dan lebih rajin. Justru kasus keracunan makanan yang malah sering terjadi dan menjadi berita nasional. Sejumlah media asing pun menyorotinya. Contohnya Reuters, BBC International, NBC News, The Telegraph, dan masih ada beberapa lagi. CELIOS memprediksi, tanpa reformasi total  tata kelolanya secara komprehensif, keracunan MBG akan terus melonjak. 

Keracunan masal yang terjadi secara beruntun di berbagai daerah, merupakan sinyal “malapraktik” dari BGN. Atau mungkin SPPG yang harus bertanggung jawab mutlak, karena tidak menjalankan prosedur standar operasional (PSO)? Terkait wanprestasi BGN atau SPPG, penulis sengaja menggunakan diksi malapraktik. Ungkapan itu “biasanya” disematkan pada tenaga medis, jika upaya penyembuhan yang dilakukannya menemui kendala. Bisa dianggap salah, tidak tepat, dan bahkan menyalahi kode etik atau undang-undang. 

Evaluasi

 Kuantitas penerima manfaat, bukanlah indikator kesuksesan program MBG. Berdasarkan klaim BGN, MBG sudah melayani sekitar 55,1 juta penerima manfaat, hingga akhir tahun 2025. Secara perhitungan statistik, angka keracunan yang melibatkan sekitar 17 ribu penerima manfaat memang “kecil”. Dipandang dari sisi kebijakan publik, program MBG memang mulia. Tetapi jika satu masalah saja menimbulkan kerugian yang tidak diharapkan, berisiko memantik trauma dan kekecewaan publik. Pada gilirannya berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak mampu diantisipasi.

 Keraguan, bahkan kemarahan warga terhadap kebijakan publik yang diterapkan pemerintah, mestinya bisa diprediksi. Tapi bisa jadi hal itu memang “diabaikan”. Tekanan politis, konservatisme, dan karena memang karakter “keras kepala” pengambil kebijakan, menjadi latar belakangnya. Pendapat Robert K Merton (RKM) tadi, disokong oleh Frank de Zwart (FDZ).  RKM adalah seorang sosiolog yang terkenal dengan teorinya “keseimbangan bersih”. Sedangkan FDZ merupakan ahli politik komparatif dan analisis kebijakan, dari Universitas Amsterdam dan Leiden. 

Pembuat kebijakan dianggap memiliki kapasitas untuk melakukan kalkulasi. Karena itu mestinya bisa mengantisipasi berbagai konsekuensi dari keputusan politik yang diambilnya, baik positif maupun negatif. 

Warga berharap, angin segar mewarnai akuntabilitas pelaksanaan MBG dengan mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Semoga harapan tersebut dapat terwujud. 

—–o—–

*Penulis :

  • Pengajar senior di :
    • Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam             FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
    • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis buku :
    • Serial Kajian COVID-19 (tiga seri) 
    • Serba-serbi Obrolan Medis
    • Catatan Harian Seorang Dokter
    • Sisi Jurnalisme Seorang Dokter (dua jilid)
Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Ari Baskoro, Keracunan, MBG, Sampai Kapan, Suara Publik

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Luis Enrique Masuk Klub Elite Pelatih Liga Champions, Sejajar dengan Ancelotti dan Guardiola

2 Juni 2026 By admin

Bidik Gelar Perdana, PSSI Pasang Target Tinggi di Piala ASEAN 2026

2 Juni 2026 By admin

Fase Pemulangan Dimulai, Ribuan Jemaah Haji Indonesia Kembali ke Tanah Air

2 Juni 2026 By admin

Kasada di Puncak Bromo: Ketika Syukur Dipersembahkan dari Lereng Gunung Suci

1 Juni 2026 By admin

Ketika Teknologi Mengubah Cara Pandang Kita Menikmati Konser Musik

1 Juni 2026 By admin

Temuan Baru Ungkap Cara Otak Anak Memahami Niat Antara Manusia dan Robot

1 Juni 2026 By admin

Menhaj Lepas Kloter Perdana Pulang ke Tanah Air, Apresiasi dan Mohon Maaf kepada Jemaah

1 Juni 2026 By admin

Kasus Hanania Travel, Alarm Keras Perlindungan Jemaah Umrah

31 Mei 2026 By admin

Siap Hadapi Tantangan di Level Internasional, Benitez Minat Tangani Timnas Italia

31 Mei 2026 By admin

PSG Pertahankan Mahkota Eropa, Taklukkan Arsenal Lewat Adu Penalti Dramatis di Final Liga Champions

31 Mei 2026 By admin

Kisruh Distribusi Makanan di Mina, Kemenhaj Lakukan Evaluasi

30 Mei 2026 By admin

Peneliti ITS Kembangkan Alat Deteksi Minyak Babi Portabel

30 Mei 2026 By zam

Khofifah Temukan Pasokan Beras SPHP dan Minyakita Tersendat

30 Mei 2026 By admin

Osteoporosis dan Risiko Kematian pada Perempuan Lansia

30 Mei 2026 By admin

Iran Bantah Kesepakatan dengan AS Sudah Final

30 Mei 2026 By admin

Kominfo Jatim Tingkatkan Kompetensi Digital ASN melalui Pelatihan Presentasi Berbasis AI

30 Mei 2026 By admin

TNI Turun Membantu, Begal Tetap Urusan Polisi

29 Mei 2026 By admin

Mulai 1 Juli 2026, Registrasi Kartu SIM Wajib Gunakan Verifikasi Wajah

29 Mei 2026 By admin

Kuota 30 Persen: Momentum Membangun Kepemimpinan Perempuan dalam Politik

29 Mei 2026 By admin

Timwas Haji DPR Soroti Kepadatan Tenda di Mina hingga Distribusi Konsumsi

29 Mei 2026 By admin

Penataan Armuzna 2026, Jemaah Haji Rasakan Lebih Nyaman dan Tertib

29 Mei 2026 By admin

Waspada Hewan Qurban Sakit, Ancaman Penyakit Bisa Menular ke Manusia

28 Mei 2026 By admin

Pedoman Baru Skrining Kanker Usus Besar: Kini Bisa Lewat Tes Darah

28 Mei 2026 By admin

Dentuman Maut di Rel KA Pakistan: Puluhan Tewas, Gerbong Kereta Jadi Tumpukan Korban

27 Mei 2026 By admin

Idul Adha 2026: Tips Memilih Hewan Kurban yang Sehat dan Layak Disembelih

27 Mei 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • HIMKI Dorong Transformasi Industri Furnitur Lewat Indowood Expo 2026
  • Indo Wood Expo 2026 di Surabaya, Jatim Perkuat Posisi sebagai Hub Ekspor Dunia
  • Wajah Jukir Kini Terpampang di Rambu Digital, Upaya Surabaya Perkuat Transparansi Parkir
  • Lulus Kedokteran di Usia 20 Tahun, Perjalanan Fulviana Taklukkan Tekanan dan Jaga Mimpi
  • Di Tengah Rumor Hengkang, Grab Tegaskan Indonesia Tetap Menjadi Rumah

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.