
Banyuwangi (Trigger.id) – Ungkapan “Ke Banyuwangi tak lengkap jika tidak menikmati rujak soto” sangat tepat untuk menggambarkan betapa khasnya kuliner ini bagi daerah Banyuwangi.
Kalimat tersebut mampu menjadi semboyan tidak resmi yang menegaskan bahwa menikmati Rujak Soto adalah pengalaman yang wajib bagi siapa saja yang berkunjung atau berwisata (kuliner) ke Banyuwangi. Ini menjadi penegasan bahwa Rujak Soto adalah bagian penting dari identitas budaya dan kuliner Banyuwangi.
Rujak Soto Banyuwangi memang kuliner khas dari Banyuwangi, Jawa Timur, yang menggabungkan dua hidangan tradisional, yaitu rujak dan soto. Hidangan ini memiliki sejarah dan keunikan tersendiri untuk Anda ketahui.
Sejarah dan Pelopor
Sejarah Rujak Soto tidak bisa terpisah dari budaya kuliner lokal di Banyuwangi. Hidangan ini lahir dari budaya dan kebiasaan masyarakat Banyuwangi yang kreatif dalam mengolah makanan.
Konon, asal-usul atau sejarah Rujak Soto berawal dari warung makan sederhana di Banyuwangi yang menawarkan rujak dan soto sebagai menu utama atau andalannya. Suatu ketika, seorang pelanggan meminta agar kedua hidangan tersebut dicampur, dan ternyata hasilnya ternyata disukai banyak orang. Dari coba-coba ini Rujak Soto mulai dikenal dan berkembang menjadi salah satu makanan khas Banyuwangi.
Namun, hingga kini belum ada catatan sejarah yang pasti mengenai siapa pelopor pertama dari Rujak Soto tersebut. Hidangan ini tumbuh secara alami dari kebiasaan masyarakat yang memadukan dua jenis makanan yang berbeda menjadi satu wadah hidangan.
Keunikan Rujak Soto Banyuwangi
Keunikan Rujak Soto terletak pada perpaduan rasa yang kompleks dari kedua menu tersebut namun harmonis. Rujak Soto adalah menggabungkan dua hidangan menu masakan yang pada dasarnya sangat berbeda:
- Rujak Cingur: Menu ini merupakan hidangan tradisional Jawa Timur yang terdiri dari berbagai macam sayuran, buah-buahan, dan cingur (mulut sapi), yang disajikan dengan bumbu petis, kacang, cabai, gula merah yang khas.
- Soto Daging: Sementara soto (biasanya adalah soto daging sapi) merupakan menu yang kaya rempah, dengan kuah berwarna kekuningan karena menggunakan kunyit.
Perpaduan antara rasa asam, manis, pedas dari bumbu rujak, dan rasa gurih, hangat dari soto menghasilkan sensasi unik di lidah. Jika Anda perhatikan, beberapa penjual Rujak Soto juga menambahkan potongan lontong, kerupuk, dan kacang tanah yang membuat hidangan ini semakin kaya tekstur.
Selain itu, Rujak Soto menjadi simbol kreativitas dan keberanian masyarakat Banyuwangi dalam menggabungkan dua cita rasa yang berbeda tersebut, menciptakan sesuatu yang baru namun tetap menghormati tradisi kuliner lokal.
Dengan segala keunikan dan sejarahnya yang belum diketahui siapa pelopornya, Rujak Soto Banyuwangi menjadi salah satu ikon kuliner yang memperkaya kekayaan gastronomi Indonesia. (kai)
Tinggalkan Balasan