
Washington (Trigger.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik terhadap kebijakan imigrasi Prancis. Ia menilai pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron terlalu terbuka terhadap pendatang dari berbagai negara. Trump bahkan melontarkan klaim kontroversial bahwa Paris berpotensi segera menjadi kota Muslim. Pernyataan tersebut disertai desakan agar pemerintah Prancis memperketat pengawasan dan menutup perbatasan untuk membatasi arus masuk imigran dari luar negeri.
Pernyataan Trump muncul di tengah situasi politik dan sosial Prancis yang disebut tengah diwarnai gelombang demonstrasi, penjarahan, serta bentrokan antara massa dan aparat kepolisian. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026) itu dilaporkan bermula dari kekecewaan masyarakat terhadap meningkatnya biaya hidup, persoalan pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Ketegangan kemudian meluas ke sejumlah wilayah dan berujung pada kerusuhan.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah kelompok massa dilaporkan melakukan penjarahan dan pembakaran bangunan, termasuk gedung balai kota. Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah Prancis yang harus menghadapi tuntutan publik sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban. Namun, klaim Trump mengenai perubahan identitas keagamaan Paris merupakan pernyataan politik yang tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan antara imigrasi dan kerusuhan tersebut.
Berbicara kepada awak media di Gedung Putih pada Senin (19/10/2026) waktu setempat, Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali memperingatkan Macron mengenai risiko kebijakan imigrasi yang dianggapnya terlalu longgar. Menurut Trump, keputusan untuk membuka pintu bagi pendatang dari berbagai penjuru dunia merupakan kesalahan besar yang dapat membawa konsekuensi bagi masa depan Prancis.
“Saya sudah lama mengatakan kepada Presiden Emmanuel Macron, Anda membuat kesalahan besar di Prancis. Anda membiarkan semua orang dari seluruh dunia masuk. Seluruh dunia datang, Paris akan segera menjadi kota Muslim,” kata Trump, sebagaimana dikutip dari Outlook India pada Selasa (20/10/2026).
Pernyataan tersebut kembali menempatkan isu imigrasi dan identitas keagamaan sebagai sorotan dalam perdebatan politik internasional. Desakan Trump agar Prancis menutup perbatasan mencerminkan sikap kerasnya terhadap kebijakan penerimaan pendatang, sementara pemerintah Prancis menghadapi tantangan menjaga stabilitas di tengah gejolak sosial. Meski demikian, klaim mengenai masa depan demografi dan keagamaan Paris perlu dinilai berdasarkan data yang dapat diverifikasi, bukan semata-mata pernyataan politik. (ian)



Tinggalkan Balasan