• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Strategi Pelayanan Kesehatan dan Pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah

9 Februari 2024 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Debat Capres sesi terakhir tanggal 4 Februari 2024 lalu, masih menyisakan banyak pertanyaan. Dalam bidang kesehatan, tampak masih adanya dikotomi ranah pelayanan, antara preventif dan kuratif. Semua Capres sependapat, bahwa aspek preventif dan promotif lebih diutamakan daripada kuratif.

Di sisi lain, ada janji pembangunan rumah sakit (rumkit) modern di setiap kabupaten/kota. Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) modern pun, akan dibangun di setiap desa di seluruh Indonesia. Visi itu disampaikan dalam situasi dihapusnyamandatory spending bidang kesehatan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Kendala lain yang patut diperhitungkan adalah menyangkut kuantitas, kompetensi,dan distribusi tenaga medis yang belum merata di semua daerah. Apakah mungkin janji tersebut bisa terealisasi ?

Sejak awal didirikannya, Puskesmas mempunyai misi menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan preventif. Sebaliknya, rumkit difokuskan pada pelayanan penyembuhan penyakit, sekaligus pemulihannya (kuratif-rehabilitatif) hingga mencapai kondisi sebelum sakit. Meski demikian,tidak semua target ideal itu akan dapat tercapai. Tergantung pada tipe dan derajat penyakitnya, masih terbuka risiko terjadinya gejala sisa/”kecacatan”. Seyogianya ada keseimbangan dan relasi yang dinamis,serta sekala prioritas antara pelayanan preventif dan kuratif.

Masyarakat berasumsi,  semakin modern suatu rumah sakit, akan menghasilkan pelayanan kuratif yang lebih maksimal. Tidak hanya harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, tipe rumkit semacam itu juga mesti didukung peralatan yang serba canggih/memadai. Konsekuensinya mesti ditopang modal yang sangat besar, sehingga membuka peluang pendanaannya oleh investor yang sarat dengan kepentingan ekonomi belaka.Walaupun mungkin pelayanan medisnya dapat disokong oleh suatu asuransi kesehatan, bisa diprediksi pola tersebut tidak akan bisa dinikmati oleh semua masyarakat secara merata.Hanya masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke atas yang mungkin bisa memanfaatkannya.

Semua profesional medis sudah sangat memahami, bahwa paradigma pencegahan suatu penyakit akan jauh lebih efektif dan efisien dari sisi biaya, bila dibandingkan aspek kuratif. Bagi penyelenggara layanan kesehatan di negara mana pun di seluruh dunia, masih meyakini kaidah itu.Modalitas tersebut sangat sesuai untuk  diterapkan, terutama di negara-negara dengan pendapatan ekonomi menengah ke bawah. Pandemi COVID-19 merupakan contoh yang paling riil. Pendekatan preventif dengan melakukan vaksinasi masal, akan jauh lebih ekonomis bila dibandingkan dengan pengobatan kuratif. Bahkan “hanya” dengan melakukan protokol kesehatan yang baik dan benar, sudah mampu mencegah paparan COVID-19. Sebaliknya biaya pengobatan COVID-19 yang memakan dana besar, berkaitan dengan perawatan di ICU dan penggunaan ventilator. Belum lagi terhadap obat-obatan dan dukungan peralatan medis lainnya.

Sebagai salah satu contoh, saat inipenyakit kardiovaskuler (PKV) menempati peringkat pertama dalam hal pembiayaan, sekaligus penyebab kematiannya di Indonesia. Kalau negara berencana mendirikan banyak rumkit modern, pembiayaannya tidak akan sepadan dengan hasil yang akan diperoleh. Pasalnya PKV (jantung, pembuluh darah, stroke) yang terjadi, merupakan kulminasi dari suatu perjalanan waktu yang panjang dari berbagai macam faktor risiko. Faktor-faktor risiko itu bisa dikategorikan dalam bentuk yang tidak dapat dimodifikasi (genetik/ras, usia, jenis kelamin) dan yang dapat dimodifikasi (aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, pola makan, stres). Dari aspek hulu, semua faktor risiko tersebut saling berinteraksi, sehingga pada posisi hilirnya dapat memicu timbulnya “penyakit antara” (hipertensi, diabetes, berat badan berlebih, kelainan kadar lemak darah).PKV merupakan kulminasi dari berbagai macam “penyakit antara” tadi.Sejatinya keberhasilan mengendalikan berbagai macam faktor risiko, merupakan wujud  investasi jangka panjang terhadap pencegahan terjadinya PKV.

Pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Penerapan suatu kebijakan menekan dampak PKV, seyogianya didasarkan pada aspek kronologi dan didukung data yang valid. Sayangnya negara kita tidak memiliki data dasar epidemiologi yang memadai, sebagai unsur deteksi dini. Data tersebut menyangkut profil berbagai faktor risiko yang sebenarnya bisa ditelisik jauh ke belakang. Itu bisa diupayakan sejak awal dari bangku sekolah. UKS bisa ditingkatkan pendayagunaannya, agar mampu mendeteksi secara dini berbagai faktor risiko PKV pada para siswa (SD, SMP, SMA). Cara pelaksanaannya pun cukup mudah untuk diterapkan, praktis, dan efisien dari sisi pendanaan. Sebagai salah satu contoh adalah menilai indeks masa tubuh (IMT), melalui pengukuran tinggi dan berat badan secara berkala.Rumus IMT adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter kuadrat). Disebut normal bila memiliki IMT antara 18,5-25,0. Di atas angka 25,0 dikatakan memiliki berat badan berlebih. Sebaliknya bila kurang dari 18,5 disebut kurus. Selanjutnya data tersebut dianalisis dan mestinya dilakukan secara berkesinambungan, mulai tingkat SD hingga SMA. Bahkan mungkin sampai perguruan tinggi atau dalam bentuk data pribadi yang melekat sepanjang hidupnya. Dengan bantuan teknologi informasi yang semakin canggih, data tersebut bisa digunakan untuk mengintervensi secara dini PKV. Untuk itu diperlukan kesesuaian visi dan kerja sama lintas sektoral,dalam mewujudkan kebijakan tersebut.

Dalam berbagai riset epidemiologi, ada relasi yang kuat antara IMT dengan kejadian PKV. Seseorang dengan IMT yang melebihi angka normal, berisiko mengalami penyakit kardiovaskuler bila dibanding yang memiliki IMT normal. Dalam praktik di lapangan, pengendalian berat badan dapat diupayakan sejak dini melalui modifikasi gaya hidup (lifestyle). IMT sangat dipengaruhi oleh kebiasaan berolah raga dan pola makan sehari-hari. Menurut Global Status Reporton Physical Activity 2022 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 81 persen remaja melakukan aktivitas fisik di bawah standar. Di sisi lain, mayoritas mereka menggemari makanan siap saji yang memiliki kandungan kalori, lemak dan garam yang tinggi, tetapi miskin nilai nutrisi. Dalam jangka panjang, kedua faktor tersebut berisiko tinggi memicu terjadinya “penyakit antara” yang berujung pada terjadinya PKV.

Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bagian tugas utama UKS. Peran tersebut akan lebih paripurna, bila dilengkapi dengan data IMT siswanya secara berkala.Adanya deviasi IMT, merupakan suatu indikasi dini untuk melakukan intervensi yang memerlukan kerja sama dengan Puskesmas. Demikian seterusnya dapat dilakukan penatalaksanaan secara berjenjang di fasilitas kesehatan yang lebih tinggi,bila memang ada indikasi medis.

Berbagai strategi pengelolaan suatu penyakit, bisa dilakukan dari semua lini (preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif). Di tengah-tengah keterbatasan pembiayaan dan berbagai kendala SDM penopangnya, perlu kebijakan yang berdasarkan  pada sekala prioritas. Kerja sama lintas sektoral dan keterlibatan masyarakat perlu digairahkan, agar visi mencapai kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik dapat tercapai.

—–o—–

*Penulis :
Staf pengajar senior di:
Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya

Anggota Advisory Board Dengue Vaccine

Penulis buku:
* Serial Kajian COVID-19 (sebanyak tiga seri)
* Serba-serbi Obrolan Medis

Serba-serbi Obrolan Medis

Share This :

Ditempatkan di bawah: jatim, Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Debat Capres, Puskesmas, Rumkit, Strategi Pelayanan Kesehatan, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Ketika Kebaikan Terlupakan: Ujian Sabar dari Seorang Office Boy

19 Februari 2026 By admin

Inter Takluk 1-3 di Kandang Bodo/Glimt

19 Februari 2026 By admin

Takjil dan Iftar: Memahami Makna dan Adab Berbuka Puasa

18 Februari 2026 By admin

Delapan Negara Kecam Klaim Israel di Tepi Barat

18 Februari 2026 By admin

Cahaya dari Berbagai Penjuru: Tradisi Dunia Menyambut Ramadhan

18 Februari 2026 By admin

Trump dan Carney Sampaikan Ucapan Ramadhan, Tegaskan Kebebasan Beragama

18 Februari 2026 By admin

Muhammadiyah Tetapkan Ramadhan 18 Februari, NU Tunggu Isbat Pemerintah

17 Februari 2026 By admin

Jadwal Playoff UCL: Madrid Tandang ke Benfica, Derbi Prancis Tersaji

17 Februari 2026 By admin

Mourinho: Madrid Terluka Kian Berbahaya

17 Februari 2026 By admin

BPKH Dorong Indonesia Kuasai Ekonomi Haji Global

17 Februari 2026 By admin

Lonjakan Gula Darah Usai Makan Tingkatkan Risiko Alzheimer

16 Februari 2026 By admin

Tradisi Nusantara Menyambut Ramadhan: Dari Megengan hingga Meugang

16 Februari 2026 By admin

Pemerintah Indonesia Siapkan Kampung Haji di Makkah

16 Februari 2026 By admin

Trump: BoP Siapkan Dana $5 Miliar untuk Gaza

16 Februari 2026 By admin

PBB Tegaskan Greenland Tetap Wilayah Denmark

22 Januari 2026 By admin

OTT KPK dan Darurat Integritas Kepala Daerah

21 Januari 2026 By admin

Prabowo Rencanakan Bangun 10 Kampus Baru

21 Januari 2026 By admin

Liga Champions 2026, Madrid Hajar Monaco 6-1

21 Januari 2026 By admin

KPK Ungkap Praktik Jual Beli Jabatan Perangkat Desa di Pati, Tarif Capai Rp225 Juta

21 Januari 2026 By admin

KPK Tetapkan Tersangka Usai OTT Wali Kota Madiun

20 Januari 2026 By admin

KPK OTT Bupati Pati Sudewo

20 Januari 2026 By admin

Tabrakan Kereta Cepat di Spanyol Tewaskan 21 Orang

19 Januari 2026 By admin

John Herdman Sebut Timnas Indonesia sebagai “Garuda Baru”

19 Januari 2026 By admin

Mengapa Batuk Tak Kunjung Sembuh?, Begini Penjelasannya

19 Januari 2026 By admin

Pemerintah Kembalikan TKD Aceh, Sumut, dan Sumbar

19 Januari 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Ketika Habis Ramadhan, Hamba Rindu Lagi Ramadhan

30 Maret 2025 Oleh admin

Tujuh Tradisi Lebaran yang Selalu Dinantikan

29 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Kesiapan Lebaran 2026 di Jawa Timur Dimatangkan
  • Masjid Bungkuk Singosari, Saksi Sunyi Perjuangan Sejak Era Diponegoro
  • Persebaya Bidik Kemenangan di Jepara
  • Menlu: TNI di Gaza Fokus Misi Kemanusiaan
  • Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.