• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Menghayati Kasih Sayang Ibu, Perspektif Genetika-Imunologi

22 Desember 2025 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*)

Hari ibu setiap tanggal 22 Desember, selalu diperingati dengan berbagai cara. Kiatnya tergantung pada sudut pandang individu yang mengenangnya. Sebagai immunologist, penulis memiliki perspektif kontemplatif. Seorang ibu, khususnya saat mengandung dan menyusui, memiliki karakteristik “unik”. Tidak mudah membayangkan,  betapa banyaknya keajaiban kehamilan sebagai anugerah Allah pada anak. Semuanya bisa terjadi melalui “jasa” rahim dan air susu ibu (ASI).  Fenomena itu  dapat diuraikan secara ilmiah dan dihayati.

Tampilan fisik dan sifat kepribadian seorang anak, merupakan cermin kedua orang tuanya. Adanya peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, menguatkan makna tersirat itu. Pepatah Jawa “kacang ora ninggal lanjaran”, mempunyai hikmah  yang serupa. Artinya ditinjau dari berbagai sudut pandang, gambaran umum seorang anak  merupakan hasil “kolaborasi” genetik kedua orang tuanya. Misalnya seorang anak perempuan yang berkulit sawo matang, dilahirkan dari ibunya yang berkulit kuning langsat. Ternyata warna kulitnya tersebut, merupakan gen dominan dari ayahnya. Tetapi sebagian orang melihat wajah anak itu, ibarat “pinang dibelah dua” dengan ibunya.

Ada berbagai contoh ekspresi lainnya yang “kasat mata”. Misalnya langkah kaki seorang anak,  hampir tidak bisa dibedakan dengan gerak-gerik ayahnya. Cara berbicara, hobi, hingga model rambutnya pun, sangat mirip.  Di sisi lain, tidak jarang kecerdasan seorang anak menyerupai kepintaran ibunya. Demikian pula dalam beberapa contoh kasus, penyakit alergi seorang anak merupakan “bawaan” dari ibunya.

 Tampilan fisik yang tampak pada anak (fenotipe), merupakan perpaduan dari  genotipe masing-masing kedua orang tuanya. Pewarisan gen seseorang pada keturunannya, tidak melulu pada sesuatu hal yang terlihat secara kasat mata saja. Contohnya berbagai faktor risiko penyakit, telah diketahui berkaitan erat dengan pewarisan gen yang berasal dari kedua orang tuanya. Selain faktor genetik, fenotipe seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksinya terhadap lingkungan hidupnya. 

Ada beragam contoh kelaziman lainnya di masyarakat.  Misalnya seorang artis atau seniman, berpotensi memiliki keturunan profesi yang sama pada anak-anak mereka. Fenomena karakter wira usahawan, sudah lama menjadi topik riset. Apakah mereka memang “dilahirkan” dengan bakat tersebut, atau “diciptakan” melalui suatu “latihan”/kebiasaan ? Beberapa peneliti menemukan jawabannya. Ternyata faktor genetik berkontribusi menentukan kecenderungan seseorang menjadi pebisnis. Karakteristik itu termasuk perihal kemampuannya dalam mengidentifikasi peluang usaha.  Ada fenotipe perilaku seorang usahawan lainnya yang  bisa “diwariskan”. Misalnya terkait sifat terbuka, ekstrover, ulet, dan lain-lainnya. Tidak diragukan lagi, pola yang sama jamak terjadi pada politikus. Kini kita bisa menyaksikan, banyak generasi muda yang  duduk sebagai anggota DPR. Apakah secara “kebetulan”, mereka dilahirkan dari orang-orang dengan latar belakang politikus? 

Ringkasnya, berbagai karakteristik yang ditampilkan seorang anak, merupakan bentuk “kolaborasi” antara kedua orang tuanya. Artinya, faktor genetika menentukan ekspresi seorang anak. Semua fenomena tersebut bisa terjadi karena kehendak Allah melalui proses kehamilan seorang ibu. Secara filosofis dapat dikatakan, ibu diberi “mandat” Sang Pencipta untuk menjaga eksistensi anak-anaknya.

Genom 

Setiap manusia diperkirakan memiliki 20 ribu hingga 25 ribu gen. Semuanya tersimpan dalam suatu untaian molekul panjang yang disebut DNA (Deoxyribonucleic acid). Berbagai unsur kimiawi dalam DNA, mengandung informasi genetik. Ibarat kita membaca suatu kalimat yang tertera dalam suatu halaman buku, di situ tersirat adanya pesan-pesan tertentu. DNA menggunakan “bahasa” yang disebut kode genetik. Isyarat tersebut  dapat “dibaca” oleh sel-sel hidup, guna menghasilkan sifat-sifat spesifik tertentu. Kumpulan lengkap semua materi genetik itulah yang disebut sebagai genom. Secara fisiologis, genom berfungsi layaknya “cetak biru” suatu kehidupan. Ialah yang menentukan sifat dan fisiologi seseorang. 

Beragam gen pengendali unsur-unsur kimiawi dan protein pada sel-sel tubuh,   ternyata merupakan pewarisan dari orang tuanya. Termasuk di antaranya sistem imunitas dan pengaruhnya terhadap ekspresi penyakit tertentu. Memang pengaruhnya tidak seratus persen. Bentuk perannya melalui interaksinya dengan pola asuh keluarga dan faktor sosial-lingkungan, selama individu tersebut dibesarkan. 

 Tiap pasangan gen, menunjukkan bentuk alternatif sesamanya yang disebut alel. Misalnya tinggi dengan pendek. Botak dengan berambut lebat. Bulat dengan kisut, dan sebagainya. Jika alelnya sama, dikatakan homozigot. Tetapi bila berbeda, dinamakan heterozigot. Pada contoh kasus anak seperti diuraikan di atas, gen heterozigotnya menunjukkan alel “dominan”  warna kulit ayahnya. Alel resesifnya (tersembunyi), berupa warna kulit kuning langsat dari ibunya yang tidak tampak. 

Proses kehamilan dan menyusui, memberi kemuliaan bagi seorang ibu melanjutkan “trah” genetikanya pada keturunannya.  

Keajaiban kehamilan 

Perempuan hamil, menggambarkan suatu fakta keajaiban. Sejatinya janin merupakan jaringan “semi cangkok” yang tertanam dengan aman dalam rahim selama proses kehamilan. 

Untuk bisa memahami fenomena menakjubkan itu, mari kita mengawalinya dari suatu realitas biologi. Ambil suatu contoh problem gagal ginjal terminal yang terjadi pada seorang perempuan. Untuk optimalisasi kehidupannya, diperlukan hemodialisis (cuci darah). Tindakan medis tersebut, harus dilakukan sepanjang usianya. Dialisis tak ubahnya seperti mesin yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Jika dilakukan upaya medis lainnya yang lebih “ideal”, cangkok ginjal adalah pilihannya. Modalitas terapi tersebut,  tidak mudah dilakukan. Selain prosedurnya yang relatif ribet, tidak semua masyarakat mampu menjangkau biayanya. Kendala berikutnya, sangat tidak mudah mendapatkan donor ginjal yang paling sesuai. Pengertian sesuai/kecocokan, menyangkut kemiripan karakter biologi antara donor dan resipiennya. Karena itulah donor ginjal lazimnya diperoleh dari kerabat dekatnya. Misalnya orang tuanya, saudara kandungnya, ataupun keturunannya. Sebab antara donor dan resipien, memiliki karakter biologi yang serupa, meski tidak sama persis. Semakin tinggi nilai kemiripan karakter biologinya, semakin  meminimalkan timbulnya respons imun penolakan jaringan cangkok. Sebaliknya jika diperoleh dari donor “asing”, respons penolakan imunologis semakin berisiko terjadi. Pasalnya, cangkok organ merupakan tindakan medis “menanam” komponen asing. Semakin jauh hubungan kekerabatannya, semakin kuat pula sistem imun meresponsnya sebagai “lawan” (antigen) yang harus dieliminasinya. Alhasil tindakan transplantasi ginjal berpotensi besar mengalami kegagalan. 

Fenomena respons penolakan jaringan “asing” bisa sirna seketika, saat proses kehamilan dimulai. Pada hakikatnya ginjal, bahkan seluruh jaringan tubuh janin adalah substansi “semi cangkok”. Tetapi mengapa tidak direspons sistem imun ibu sebagai substansi “asing”/”lawan”/antigen?   Padahal cikal bakal anak tersebut, mengandung 50 persen materi genetik “asing” yang berasal dari pihak  ayah. Sebaliknya setelah dilahirkan, justru jaringan/organ anak berubah menjadi antigen bagi sistem imun ibunya. Rahasia kebesaran Sang Pencipta, terletak pada plasenta! Ari-ari menurut bahasa Jawa itu, menyimpan keajaiban yang mencerminkan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Selain sebagai sumber hormon, nutrisi, dan oksigen, juga berperan penting meredam respons penolakan imunologis yang berpotensi merugikan janin. Kegagalan membendungnya, memicu beragam kelainan janin. Termasuk di antaranya keguguran ataupun kecacatan. 

Adalah Peter Brian Medawar yang pertama kali mengungkap rahasia keajaiban toleransi imunologi kehamilan. Tidak mengherankan, beliau mendapat anugerah Nobel Fisiologi/Kedokteran tahun 1960. Risalahnya membuahkan suatu hipotesis. Bagaimana sistem imunitas ibu dapat mentoleransi janin yang secara genetika berbeda (“semi cangkok”), tanpa menolaknya selama kehamilan? 

 Kemampuan meredam gejolak reaksi imun penolakan jaringan asing di satu sisi,  memantik konsekuensi negatif di sisi lainnya. “Pengorbanan” ibu selama kehamilan demi janinnya, meningkatkan risiko rentannya mengalami infeksi. Sebab sistem imun ibu selama kehamilan, berdampak  tidak seprotektif dibanding ketika tidak hamil.  

“Rem kendali” atau pencegah serangan sistem imun ibu pada janinnya,  diperankan  oleh sel T-regulator (T-reg). Kini mekanismenya telah dapat diuraikan dengan lebih gamblang oleh tiga ilmuwan peraih Nobel Kedokteran tahun 2025. Masing-masing ilmuwan hebat itu adalah  Shimon Sakaguchi dari Jepang, serta Mary E Brunkow dan Fred Ramsdell dari Amerika Serikat. 

Air susu ibu (ASI)

Tidak diragukan lagi, ASI merupakan nutrisi terbaik yang tidak tergantikan bagi  seorang bayi. Komponen makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutriennya (vitamin, mineral), paling sesuai untuk proses tumbuh kembang seorang anak. Banyak komponen biologi aktif lainnya dalam ASI yang tidak tergantikan oleh susu formula. Khususnya yang berperan dalam memodulasi sistem imunitas. Beragam  komponen tersebut, antara lain sel darah putih (lekosit), sel epitel, sel punca, dan mikroorganisme tertentu. Nantinya mikroorganisme tersebut,  berfungsi penting bagi komposisi mikrobiota usus anak. Probiotik atau mikroba “baik” adalah sebutannya.

ASI mengandung laktoferin, antibodi dari kelas Imunoglobulin A (IgA), dan lisozim. Pada hakikatnya semua unsur tersebut, berperan penting bagi perlindungan terhadap paparan mikroba patogen/”jahat” pada bayi. 

Dari berbagai riset, ASI juga mengandung materi genetik (micro-RNA/Ribo Nucleic Acid). Hingga kini telah dapat diidentifikasi sedikitnya seribu gen micro-RNA pada genom manusia. Fungsinya masing-masing sangat bervariasi. Beberapa di antaranya, diduga kuat memiliki peran penting pada regulasi epigenetik nasab (pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah) dan fungsi sel punca. Selain itu, berfungsi pula meregulasi  percepatan pematangan sistem imunitas bayi. 

Micro-RNA yang terkandung dalam ASI, dapat melewati mekanisme degradasi lingkungan asam pada lambung bayi. Setelah melewati beberapa tahap penyerapan di  usus, micro-RNA mencapai berbagai jaringan dan organ. Di situlah berperan penting meregulasi berbagai macam efek biologinya. Beberapa peneliti telah dapat memetakan, bahwa materi genetik tersebut dapat memengaruhi ekspresi suatu gen. Bisa meningkatkan, tapi sebaliknya juga dapat menekan ekspresinya. Hingga kini ilmu pengetahuan belum dapat mengungkap sepenuhnya, bagaimana fenomena biologi tersebut bisa terjadi. 

Ibu adalah sumber kekuatan dan cinta kasih yang tak terbatas bagi anak-anaknya. Dia tidak hanya melahirkan anak, tetapi juga membuahkan karakter dan kepribadian mereka. Semoga semakin dapat menghayati, bahwa “surga di bawah telapak kaki ibu”. 

—–o—–

*) Penulis :

  • Pengajar senior di :
    • Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam             FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
    • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis tujuh buku :
    • Serial Kajian COVID-19 (tiga seri) 
    • Serba-serbi Obrolan Medis
    • Catatan Harian Seorang Dokter
    • Sisi Jurnalisme Seorang Dokter (dua jilid)
Share This :

Ditempatkan di bawah: update, wawasan Ditag dengan:22 Desember, Genetika, Hari Ibu, Ibu, Imunologi, Kasih Sayang, Menghayati, Perspektif

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Kemenhaj Percepat Transformasi Digital Haji 2026, Layanan Jemaah Kini Dipantau Real-Time

13 Mei 2026 By admin

Dari Dapur Digital ke Meja Jemaah: Wajah Baru Layanan Konsumsi Haji Indonesia

13 Mei 2026 By admin

Gagal Raih Gelar Juara, Rizky Ridho Minta Maaf kepada The Jakmania

13 Mei 2026 By admin

Satu Gugatan Kandas, Puluhan Pemohon Menyoal Sisa Kuota Internet Hangus Terus Berlanjut

13 Mei 2026 By admin

AMPHURI Ambil Sikap di Tengah Lonjakan Tiket Umrah Demi Lindungi Jemaah

13 Mei 2026 By admin

Razia Masif dan Efek Jera, Pemerintah Klaim Haji Ilegal Turun Drastis

13 Mei 2026 By admin

Jaga Layanan Publik Tetap Bersih, KPK dan Ombudsman RI Perkuat Sinergi Antikorupsi

13 Mei 2026 By admin

Persaingan Tiket Liga Champions di Serie A Kian Memanas

11 Mei 2026 By admin

Kemendikdasmen Pastikan Guru Non-ASN Tetap Mengajar hingga Akhir 2026

11 Mei 2026 By admin

PPIH Pastikan Kesiapan Fasilitas Armuzna untuk Kenyamanan Jemaah Haji Indonesia

10 Mei 2026 By admin

Di Tengah Terik Makkah, Fransiska Mengabdi untuk Para Tamu Allah

10 Mei 2026 By admin

Persib Bidik Kemenangan atas Persija untuk Amankan Peluang Juara

10 Mei 2026 By admin

Manchester City Tekuk Brentford 3-0, Persaingan Gelar Liga Inggris Makin Sengit

10 Mei 2026 By admin

Di Balik Gunungan Sampah: Ketika Open Dumping dan Pembakaran Ilegal Menjadi Jalan Pintas

10 Mei 2026 By admin

Vitamin D Berpotensi Menekan Risiko Diabetes

9 Mei 2026 By wah

Performa MU Meningkat, Tapi Masa Depan Michael Carrick Masih Dipertanyakan

9 Mei 2026 By wah

Ramaikan Piala Dunia, Shakira Rilis Lagu Resmi World Cup 2026 Bersama Burna Boy

9 Mei 2026 By admin

Satgas Haji Nonprosedural Diperkuat, Puluhan Calon Jemaah Gagal Berangkat

8 Mei 2026 By admin

ISKI Jatim Satukan Akademisi dan Praktisi Perkuat Budaya Komunikasi dan Literasi

8 Mei 2026 By wah

Persib Siap Pertahankan Dominasi atas Persija di Samarinda

8 Mei 2026 By admin

BRI Surabaya Genjot Penyaluran KUR, UMKM Produktif Jadi Fokus Utama

8 Mei 2026 By admin

Telur Dibagi Gratis, Jeritan Peternak yang Tak Lagi Sanggup Bertahan

8 Mei 2026 By isa

PSG Melaju ke Final Liga Champions Setelah Singkirkan Bayern Muenchen

7 Mei 2026 By admin

Di Balik Perpres Ekstremisme: Antara Upaya Keamanan dan Kekhawatiran Kebebasan Sipil

7 Mei 2026 By admin

Membangun Harapan dari Ruang Kelas dan Revitalisasi Puluhan Ribu Sekolah di 2026

7 Mei 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Apr    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Mahasiswa ITS Ciptakan ITSafe, Wujudkan Kampus Aman dan Inklusif
  • Tavares Wanti-wanti Persebaya Tak Remehkan Semen Padang
  • CBF Perpanjang Kontrak Carlo Ancelotti hingga 2030, Brasil Siapkan Era Baru Sepak Bola
  • Kapolda Metro Naik Bintang Tiga, Simbol Penguatan Jakarta sebagai Pusat Stabilitas Nasional
  • MA Perkuat Vonis Kasus Pemerasan PPDS Undip, Momentum Pembenahan Pendidikan Dokter

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.