
Surabaya (Trigger.id) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mencatat peningkatan polusi partikulat PM2.5 yang sempat membuat kualitas udara masuk kategori Tidak Sehat, terutama pada pukul 06.00–09.00 WIB dalam sepekan terakhir.
Kepala DLH Surabaya, M Fikser, mengatakan pemantauan dilakukan melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes dengan tujuh parameter, yakni SO2, NO2, O3, CO, HC, PM10, dan PM2.5.Menurut Fikser, berdasarkan informasi pergerakan angin dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), kualitas udara Surabaya diperkirakan minim dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Perbedaan kategori kualitas udara yang ditampilkan IQAir dan ISPUNET Kementerian Lingkungan Hidup disebabkan perbedaan standar penilaian. IQAir menggunakan indeks US AQI, sedangkan ISPUNET mengacu pada standar nasional sesuai PP Nomor 22 Tahun 2021.Untuk mengurangi risiko paparan polusi, warga diimbau membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan, khususnya pada pagi hari.
Penggunaan masker N95 atau KN95, menutup jendela, serta memakai pembersih udara berfilter HEPA juga disarankan saat kualitas udara memburuk.”Peningkatan PM2.5 dapat dipengaruhi musim kemarau, rendahnya curah hujan, kondisi atmosfer, serta emisi kendaraan, industri, dan pembakaran terbuka,” urai Fikser, Jumat (16/10).
Data BMKG pada 15 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan angin didominasi Monsun Tenggara dengan kecepatan sekitar 9,26–37,04 kilometer per jam. Pergerakan angin tersebut turut memengaruhi penyebaran asap karhutla di sejumlah wilayah, termasuk lintas batas negara.
Meski dampak asap dari Sumatra dan Kalimantan ke Surabaya diperkirakan minim, masyarakat tetap diminta memantau informasi kualitas udara melalui situs resmi ISPU Kementerian Lingkungan Hidup atau aplikasi ISPUNET. (wah)



Tinggalkan Balasan