
Surabaya (Trigger.id) – Pesan tentang kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak tidak selalu harus disampaikan melalui forum formal. Ada pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni melalui seni pertunjukan yang mengangkat budaya lokal.
Pesan ini dikemas dalam Fragmen Suroboyoan bertema _Ruang Bersama Indonesia_ , yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Surabaya Gender Award 2026 di BG Junction Surabaya, Rabu (4/11/2026).Melalui pertunjukan bernuansa budaya khas Kota Pahlawan itu, masyarakat diajak memahami bahwa pembangunan bukan hanya tentang kemajuan infrastruktur, tetapi juga bagaimana setiap warga mendapatkan kesempatan, hak, dan ruang yang sama untuk berkembang.
Kepala Bidang Pengarusutamaan Gender dan Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Relita Wulandari, mengatakan Fragmen Suroboyoan bukan sekadar ajang kreativitas ataupun perlombaan antarkecamatan.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan salah satu inovasi pembangunan responsif gender dengan menjadikan budaya lokal sebagai sarana menyampaikan edukasi kepada masyarakat.“Fragmen Suroboyoan menjadi inovasi pembangunan responsif gender dengan memanfaatkan budaya lokal sebagai media penyampaian pesan kepada masyarakat,” ujarnya.
Sebanyak 31 kecamatan di Surabaya ambil bagian dalam kegiatan. Masing-masing peserta menampilkan pertunjukan seni yang mengangkat beragam persoalan sosial, mulai dari kesetaraan perempuan dan laki-laki, pemberdayaan perempuan, pemenuhan hak anak, hingga pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif.
Tema Ruang Bersama Indonesia sendiri membawa pesan pembangunan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Perempuan, laki-laki, maupun anak-anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, menyampaikan aspirasi, serta merasakan manfaat pembangunan.“Tema Ruang Bersama Indonesia mengandung makna bahwa setiap orang, baik perempuan, laki-laki maupun anak, memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk berpartisipasi serta memperoleh manfaat pembangunan,” jelas Relita,” Kamis (5/11).
Ia menilai keterlibatan seluruh kecamatan menjadi gambaran pentingnya kolaborasi dalam membangun lingkungan yang semakin responsif gender. Sebab, upaya mewujudkan kesetaraan tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.Melalui pendekatan budaya, pesan-pesan ini diharapkan lebih mudah diterima berbagai lapisan masyarakat.
Cerita yang dekat dengan keseharian warga dinilai dapat menjadi sarana refleksi untuk mengubah cara pandang, membangun kepedulian, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat.“Pendekatan budaya diharapkan mampu membuat pesan kesetaraan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan,” imbuhnya. (wah)



Tinggalkan Balasan