• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Fenomena ‘Ciki Ngebul’, Darurat Pengawasan Makanan Olahan

19 Januari 2023 by isa Tinggalkan Komentar

Ilustrasi makanan sehat dan tak sehat.

“Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),sejauh ini belum secara tegas melarang penjualan cibul.”

Oleh: Dr. Ari Baskoro SppD -Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya

Berita tentang ciki ngebul (cibul), akhir-akhir ini banyak menyita perhatian publik. Sejatinya masalah nitrogen cair dalam jajanan kaki lima, bukanlah hal yang baru. Karena nitrogen cair merupakan bagian penting dalam industri makanan dan minuman.

Ketika penggunaannya “bermigrasi” untuk meningkatkan daya tarik makanan kelas Usaha Mikro Kecil dan Menengah(UMKM), maka timbullah korban. Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta, merupakan daerah yang terbanyak memberitakan kasusnya.Hingga kini Jawa Timur telah melaporkan dua orang anak yang diduga “keracunan”, akibat mengonsumsi jajanan yang menggiurkan itu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),sejauh ini belum secara tegas melarang penjualan cibul. Masih diperkenankan, asal pedagang patuh pada pedoman mitigasi risiko nitrogen cair dalam makanan siap saji. Pedoman itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) BPOM tanggal 6 Januari 2023.

Sisi manfaat nitrogen cair, tidak perlu diragukan lagi. Fungsi utamanya adalah sebagai “bahan penolong”, mempercepat proses pendinginan dan pembekuan produk pangan. Zat ini bukan dikategorikan sebagai bahan tambahan pangan (BTP)/foodadditives. Pemanfaatan nitrogen cair telah diatur dalam peraturan BPOM Nomor 20 tahun 2020.Food and Drug Administration (FDA), BPOMnya negara Paman Sam juga tidak melarangnya. Asal tidak mengonsumsi dalam bentuk residunya, nitrogen bukanlah zat toksik. Nilai gizi, bau, dan rasa makanan olahan pun, tidak akan berubah. Pada umumnya konsumen, khususnya anak-anak, hanya tergiur dengan sensasi dingin dan“kemebul”, saat menikmati jajanan itu.

Munculnya persoalan medis terkait dampak nitrogen cair di masyarakat, tidak terlepas dari aspek pengawasannya. Sulit bagi pedagang UMKM untuk “mau dan bisa memahami”, serta melaksanakan peraturan/pedomanyang sebenarnya sudah ada. Edukasi publik akan dampak bahayanya pun, relatif jarang dilakukan. Masyarakat, baik penjual maupun konsumen, relatif miskin literasi terhadap berbagai macam komponen dalam makanan yang aman bagi kesehatan. Persoalan yang sama, berlaku pula terhadap berbagai macam BTP.

Bahan tambahan pangan (BTP)

Selama beberapa dekade terakhir ini, terjadi perubahan signifikan dalam industri hasil pertanian, peternakan, dan perikanan.Keanekaragaman pangan dan produktivitasnya semakin meningkat. Produk makanan olahan, saat ini sudah tidak banyak tergantung pada musim. Secara ekonomis sangat menguntungkan. Harga produk, tidak banyak lagi dipengaruhi ketersediaannya pada musim-musim tertentu. Efek dominonya, mencetuskan  peningkatan penggunaan BTP yang bisa memberikan manfaat pada pemeliharaan dan pengawetan makanan.

Berbeda dengan “bahan penolong” (misalnya nitrogen cair), penggunaan BTP jauh lebih mengakar. Pemanfaatannya di masyarakat telah dikenal luas dan mungkin lebih “ekstrem”.BTP sering kali ditambahkan, saat makanan dalam proses pengolahan, penyimpanan, atau pengemasan. Tujuannya meningkatkan penampilan, cita rasa, tekstur, dan lamanya daya simpan.

Banyak contoh BTP yang lazim digunakan. Misalnya yang bertujuan sebagai penyedap (Monosodiumglutamat/MSG/vetsin). Sakarin, sorbitol, dan aspartame, banyak digunakan sebagai pemanis.Untuk bahan pengawet, umumnya digunakan natrium benzoat, natrium sitrat, dan asam sorbat. Zat pewarna makanan,merupakan BTP yang paling banyak digunakan. Bisa sangat menarik minat konsumen, terutama pada anak-anak. Ada yang bersifat pewarna alami (kunyit, daun pandan, coklat, wortel), maupun yang berasal dari unsur kimiawi (tartrazin, karmoisin, briliantblue).

Selain komponen “ Empat P” (pengawet, penyedap, pemanis, pewarna), masih ada beberapa BTP lainnya.Penggunaan BTP ada regulasinya. Hal itu tercantum dalam Peraturan BPOM No.11 Tahun 2019. Dalam praktiknya, banyak pelanggaran yang terjadi. Bisa akibat unsur kesengajaan atau memang terkendala pemahaman akibat minimnya pengetahuan.

BTP berbahaya/ilegal

Walaupun sudah dilarang, beberapa BTP masih cukup sering digunakan masyarakat. Contohnya adalah boraks, formalin, kalium bromat dan zat-zat pewarna (rhodamin B, auramine, metanilyellow, black 7984, chocolatebrown FB, magenta, dan  benzyl violet). Boraks umumnya disalah gunakan sebagai pengeras, pengenyal, dan pengawet. Formalin yang dalam bidang  kedokteran digunakan sebagai pengawet mayat, sering disalah gunakan untuk mengawetkan makanan. Khususnya tahu, mi basah, ayam potong, dan ikan segar.

Pewarna sintetis yang biasa digunakan dalam industri tekstil atau kertas, acap kali diselewengkan sebagai pewarna makanan. Rhodamin B dan metanil yellow, merupakan contoh yang tersering.

Dampak kesehatan

Dalam dosis tertentu sesuai rekomendasi, BTP mungkin tidak  menimbulkan dampak gangguan kesehatan. Efek sampingnya tidak akan tampak dalam waktu singkat. Namun dalam jangka waktu yang lebih lama dan dosis yang berlebihan, dapat menimbulkan masalah klinis yang berbahaya. Dalam bentuk yang akut, kadang-kadang dapat memicu timbulnya sakit kepala dan perubahan pada level energi,serta daya konsentrasi. Bisa juga memicu perubahan tingkah laku dan gangguan respons imunitas. Semakin banyak penelitian yang melaporkan, BTP dalam jangka waktu tertentu bisa memantik risiko timbulnya kanker.

Tartrazin dikatakan dapat menginduksi reaksi alergi terhadap obat aspirin. Angka kejadiannya sebesar 10-40 persen. Akibat mekanisme interaksi sistem imun, seseorang yang mengonsumsi obat demam atau nyeri tersebut, spontan dapat menimbulkan gejala alergi. Manifestasinya dapat berupa asma, ”biduran” (urticaria), bersin-bersin/pilek (rinitis), dan hipereaktivitas. Terutama terjadi pada anak-anak.

Natrium benzoat yang lazimnya digunakan untuk mengawetkan ikan asin, manisan buah, selai, krim salad, minuman ringan, dan bir, dapat mencetuskan reaksi alergi. Tidak jarang pula menimbulkan reaksi anafilaksis yang bisa berakibat fatal.

Pada seseorang yang rentan, MSG/vetsin dapat menimbulkan“rasa seperti tertekan”pada area wajah dan dada. Ada pula yang menyatakannya seperti  rasa panas terbakar.

Pemanis buatan (aspartame, sakarin) yang rendah kalori, dalam dosis tertentu dapat menimbulkan dampak yang merugikan. Bisa terjadi gangguan perilaku, hiperaktif, alergi, dan merangsang timbulnya kanker. Bahan ini sering digunakan pada pembuatan jus buah, selai dan jeli.

Boraks bersifat toksik bagi semua sel. Secara klinis dapat mengakibatkan dampak negatif pada susunan saraf pusat, ginjal, dan  lever. Bahkan dapat pula memicu perdarahan saluran cerna, terjadinya kanker, gangguan sistem reproduksi, serta menekan imunitas tubuh.

Formalin sering kali menimbulkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Paparan dalam jangka waktu tertentu, bisa memantik risiko terjadinya kanker.

Rhodamin B dan metanilyellow, telah lama dilarang penggunaannya sebagai pewarna makanan  di seluruh dunia. Kedua zat ini merupakan karsinogen (pemicu kanker) yang kuat. Efeknya juga dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai organ tubuh manusia.

Pengawasan terhadap BTP, seyogianya melibatkan berbagai pihak. BPOM, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat konsumen, seharusnya saling bahu membahu. Bagaimanapun juga, mengonsumsi makanan segar jauh lebih aman bila dibandingkan makanan olahan. Edukasi publik menjadi kata kunci keberhasilan mencegah dampak merugikan BTP.

Share This :

Ditempatkan di bawah: jatim, Kesehatan, nusantara, Tips Ditag dengan:Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ciki Ngebul, makanan, Olahan

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Akses Penanjakan Bromo Dibuka Usai Kebakaran

23 Oktober 2026 By admin

Pataka Resolusi Jihad, Kobarkan Semangat Juang Santri

23 Oktober 2026 By admin

ITS Ciptakan Futechi Farm, Kandang Ayam Pintar Terintegrasi IoT

22 Oktober 2026 By admin

Khofifah Minta Distribusi Biosolar dan Pertalite Dipercepat

21 Oktober 2026 By admin

Sambut Hari Santri 2026, Ziarahi Makam Pencipta Lambang NU

21 Oktober 2026 By admin

Heboh Kode QR UMKM Tersambung Bank Tiongkok, Begini Aturannya.

21 Oktober 2026 By admin

UNESA dan UM Raih Gelar Juara Campus League 2026 Futsal Regional Surabaya

20 Oktober 2026 By admin

Trump Soroti Imigrasi Prancis, Klaim Paris Terancam Menjadi Kota Muslim

20 Oktober 2026 By admin

Kewajiban Sertifikasi Halal Produk Mundur Tahun 2028

20 Oktober 2026 By admin

Benahi Rumah Potong Unggas, Perkuat Jaminan Halal dan Higienis

20 Oktober 2026 By admin

UM dan UNESA Berebut Takhta Futsal Campus League 2026

19 Oktober 2026 By admin

Garden Fest Menikmati Persawahan Sore Hari

19 Oktober 2026 By admin

350 Atlet Selam Adu Cepat di SRC

19 Oktober 2026 By admin

Pasokan BBM Malang Raya Ditambah 120 %, Warga Jangan Panic Buying

18 Oktober 2026 By admin

Stok Pertalite Turun Jadi 16-18 Hari Pasca Harga Pertamax Naik

17 Oktober 2026 By admin

PM2.5 Picu Kualitas Udara Surabaya Memburuk, Warga Diimbau Waspada

16 Oktober 2026 By admin

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, IHSG Anjlok hingga 8 Persen

16 Oktober 2026 By admin

Prof Masdar Hilmy Resmi Pimpin UINSA

15 Oktober 2026 By admin

Benahi Permukiman Ala Singapura Menuju Kota Surabaya 2045

15 Oktober 2026 By admin

Cegah Campak Sejak Dini Perlu Edukasi dan Imunisasi MR

14 Oktober 2026 By admin

Barcelona Puncaki Klasemen Liga Champions 2026/2027, Arsenal Tempel Ketat

14 Oktober 2026 By admin

Surabaya Siapkan Website Porprov, Atlet Bisa Cek Hotel hingga Kuliner

13 Oktober 2026 By admin

Gandrung Sewu Spektakuler, Libatkan 1.300 Penari Malam Hari

13 Oktober 2026 By admin

Penerbangan Soetta ke Jeddah dan Madinah Masih Normal

12 Oktober 2026 By admin

Mulai 12 Oktober 2026, KAI Daop 8 Surabaya Naikkan Tarif Khusus

12 Oktober 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Kemenekraf Dorong Media Digital Naik Kelas
  • Liverpool Singkirkan Chelsea Lewat Adu Penalti
  • Investor Pasar Modal Jatim Naik 69,93 %, OJK Tekankan Literasi dan Perlindungan
  • MUI : Pelaku “Imam Mahdi” Bangkalan Sesat.
  • Dua Anak Menhaj Mundur dari Tenaga Ahli Usai Menuai Sorotan

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.