
Surabaya (Trigger.id) – Ada sejumlah kendala bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke dunia kerja. Selain keterbatasan secara fisik, juga kendala dari pihak lembaga atau perusahaan. Misalnya, lowongan pekerjaan memberikan syarat; sehat jasmani-rohani.
Karena pintu menuju lapangan kerja tak selalu terbuka lebar, para difabel (penyandang disabilitas) pun membuka usaha sendiri untuk menyambung hidup. Namun, berbisnis dalam kondisi normal saja susah, apa lagi dengan kondisi disabilitas.
Slamet Budi Santoso, difabel pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) yang memproduksi kue pia Inez Surabaya, butuh bantuan marketing. “Sebagai kaum difabel, kami perlu jalur khusus saat harus berjuang dalam bersaing dengan orang-orang yang biasa,” ujar Slamet.
Santos, begitu nama medsosnya, memasarkan produk secara online dan offline. Slamet memanfaatkan medsos online antara lain Instagram, Facebook, Tokopedia, Shopee untuk menjual pia Inez. Secara offline, ia mengembangkan jaringan toko tiap kecamatan di Surabaya.
“Sejauh ini, bisnis pia Inez biasa-biasa saja. Pinginnya saya, ada gebrakan lebih besar. Tak harus bisa ekspor, tapi bisa share dengan pengusaha di Jakarta, misalnya,” kata Santos.
Masalah lain datang dari Defi Risko, difabelm asal Surabaya yang berjualan keripik. Ia kesulitan modal dan pemasaran. “Kalau hanya bisa memproduksi, tapi tidak bisa memasarkan, terus bagaimana? Saya berharap ada pihak yang bisa menampung produk kami,” harap Defi.
Untuk membantu mengentas UMKM disabilitas agar menjadi lebih mandiri, PT Pelindo Terminal Petikemas di Surabaya menggelar pelatihan motivasional dan ketrampilan digital marketing pada kaum difabel.
Aktivitas bertajuk ‘Program UMKM Disabilitas Mandiri 2024 itu berlangsung di Hotel Bumi Surabaya, 7 Maret 2024. Tak pelak, di dalam Airlangga Room tiba-tiba dihiasi kursi roda, kurk, dan sejumlah alat bantu lainnya milik peserta.
Jusuf Agung, praktisi SDM, menjadi narasumber untuk Achievment Motivation Training. Setya Ardhiantya, aktivis medsos, memberi materi tentang digital marketing dan product branding melalui Artificial Intelligent. Yang jadi moderator, Arfin Murtie direktur Aster MICE.
Widyaswendra, corporate secretary Pelindo Terminal Petikemas, menjelaskan pelatihan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemkot Surabaya dan IKaDI (Ikatan Keluarga Disabilitas Indonesia). Ada 50 peserta pelaku UMKM disabilitas.
“Sasarannya adalah UMKM disabilitas bisa lebih mandiri dan jadi lebih besar. Aktivitasnya mulai dari membuat produk, membantu memasarkan, hingga menumbuhkan bisnis. Dalam setahun bimbingan, kami lakukan evaluasi. Jika berhasil, mereka akan masuk ke incubator yang lebih besar,” kata ia.
Aktivitas pelatihan ini bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaannya. “Ada banyak poin dalam TJSL. Tiga besarnya adalah pendidikan, lingkungan, dan ekonomi. UMKM Disabilitas Mandiri ini wujud dari TJSL ekonomi.”
Samsul Mu’arif, ketua pelaksana Program UMKM Disabilitas IKadi, memaparkan UMKM peserta pelatihan ada bermacam-macam. Ada yang memproduksi olahan makanan, ada juga usaha kelontong, dan lain-lain.
“Para pelaku UMKM disabilitas ini punya permasalahan yang umumnya sama. Lalu, kami datang ke PT Pelindo Terminal Petikemas mendiskusikan masalah. Kami diberi solusi berupa pelatihan dan lain-lain,” kata pengusaha keripik ini.
Menurutnya, IKaDI ini punya program pemberdayaan UMKM Disabilitas. Kegiatannya diarahkan untuk membentuk home industry yang mengolah bahan mentah menjadi berbagai bentuk keripik dan snack. (hba)
Tinggalkan Balasan