
Ilustrasi jamaah sedang melaksanakan tawaf
Cerebon (Trigger.id) – Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kepulangan jamaah umrah mandiri dari Arab Saudi di tengah situasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Menurut Selly, keberadaan jamaah umrah mandiri perlu diawasi secara serius karena pola perjalanan mereka berbeda dengan jamaah yang berangkat melalui biro perjalanan resmi. Banyak dari mereka yang pulang ke Indonesia tidak menggunakan penerbangan langsung, melainkan melalui sejumlah negara transit.
“Yang harus diawasi adalah jamaah umrah mandiri. Mereka bisa saja kembali ke Indonesia tidak dengan penerbangan langsung, tetapi melalui beberapa negara transit,” kata Selly dalam keterangannya di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk meningkatkan koordinasi dengan negara-negara transit melalui perwakilan RI di luar negeri, seperti Kedutaan Besar maupun Konsulat Jenderal, terutama di wilayah yang terdampak konflik.
Selly menambahkan DPR saat ini terus berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) guna memberikan advokasi kepada sekitar 58 ribu jamaah Indonesia yang masih berada di Arab Saudi. Koordinasi tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga harus diikuti langkah konkret untuk memastikan keamanan serta kelancaran kepulangan jamaah.
Selain itu, pemerintah juga diminta mengantisipasi kebutuhan akomodasi dan logistik apabila terjadi keterlambatan pemulangan jamaah.
Ia juga mengingatkan kemungkinan adanya Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan jamaah di Arab Saudi. Karena itu, Kemenhaj didorong melakukan pendataan dan penyisiran terhadap jamaah yang masih berada di sana.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 6.000 jamaah umrah Indonesia telah berhasil dipulangkan ke Tanah Air. Pemerintah, kata Selly, akan terus memperbarui informasi terkait situasi tersebut.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk menunda keberangkatan umrah hingga kondisi keamanan di Timur Tengah benar-benar stabil.
“Yang paling penting, masyarakat sebaiknya menahan diri untuk tidak berangkat umrah sampai situasi kembali aman,” ujarnya.(wah)



Tinggalkan Balasan