
Malang (Trigger.id) – Di kawasan Kota Lama Malang berdiri Klenteng Eng An Kiong, klenteng tertua dan terbesar di kota itu yang didirikan pada 1825 oleh Letnan Kwee Sam Hway. Selama dua abad, bangunan bercorak merah-emas ini bukan hanya menjadi rumah ibadah umat Tridharma, tetapi juga simbol toleransi dan harmoni lintas budaya di Jawa Timur.
Memasuki 2026, usai perayaan Imlek 2577 Kongzili yang bertepatan dengan Ramadan, Eng An Kiong kembali menunjukkan wajah inklusifnya. Mengusung tema Harmony of Love & Prosperity, perayaan berlangsung khidmat dengan penyesuaian demi menghormati umat Muslim yang berpuasa.
Nama Eng An Kiong berarti “Istana Keselamatan dalam Keabadian Tuhan.” Filosofi itu tercermin pada arsitektur penuh simbol—ornamen naga, altar dewa-dewi, serta dominasi warna merah dan emas—yang tetap terjaga sebagai situs cagar budaya. Tradisi sembahyang, dupa, dan cahaya lilin terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Tonggak penting terjadi pada September 2025 saat klenteng ini menjadi tuan rumah World Tua Pekong Festival ke-14. Ribuan peserta dari dalam dan luar negeri hadir, memeriahkan kirab budaya yang memadukan barongsai, reog, topeng Malang, hingga busana adat Nusantara. Dampaknya terasa pada sektor pariwisata dan UMKM yang ikut bergeliat.
Lebih dari tempat ibadah, yayasan pengelola aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial dan dukungan pendidikan. Memasuki abad ketiga, Eng An Kiong terus menegaskan perannya sebagai penjaga warisan budaya sekaligus perekat keberagaman.
Di bawah atap merahnya, dua abad sejarah menjadi bukti bahwa tradisi dan toleransi dapat berjalan beriringan, menguatkan identitas sekaligus membangun masa depan bersama. (kai)



Tinggalkan Balasan