• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Tradisi Nusantara Menyambut Ramadhan: Dari Megengan hingga Meugang

16 Februari 2026 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Isa Anshori*

Ramadhan di Indonesia tidak pernah datang sendirian. Ia selalu disambut dengan gema tradisi, aroma dapur, ziarah kubur, hingga doa-doa yang dipanjatkan bersama keluarga. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki cara khas menyambut bulan suci—sebuah perpaduan antara nilai Islam dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Berikut sejumlah tradisi nyata yang masih hidup di tengah masyarakat Indonesia.


1. Megengan – Jawa Timur dan Jawa Tengah

Di sejumlah wilayah Jawa, terutama Surabaya, Gresik, dan sekitarnya, masyarakat mengenal tradisi Megengan. Tradisi ini biasanya digelar beberapa hari sebelum Ramadhan dengan membagikan kue apem kepada tetangga dan kerabat.

Kata “megengan” berasal dari bahasa Jawa megeng yang berarti “menahan”—sebuah simbol ajakan untuk menahan hawa nafsu saat berpuasa. Apem yang dibagikan melambangkan permohonan ampun (dari kata Arab ‘afwun yang kemudian dilafalkan menjadi “apem” dalam tradisi lokal). Acara ini biasanya disertai doa bersama dan tahlil.


2. Nyadran – Ziarah dan Bersih Makam

Menjelang Ramadhan, banyak masyarakat Jawa melakukan Nyadran, yaitu ziarah dan membersihkan makam leluhur. Tradisi ini umum dijumpai di Yogyakarta, Solo, hingga pesisir utara Jawa.

Warga bersama-sama membersihkan area makam, menabur bunga, dan memanjatkan doa bagi keluarga yang telah wafat. Selain memperkuat spiritualitas, Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi warga desa. Nilai yang ditekankan adalah mengingat kematian dan memperbaiki diri sebelum memasuki bulan suci.


3. Padusan – Ritual Bersuci

Masih di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, sebagian masyarakat menjalankan tradisi Padusan—mandi besar di sumber mata air, sungai, atau pemandian umum.

Secara makna, Padusan melambangkan penyucian diri lahir dan batin sebelum menjalani ibadah puasa. Meski kini lebih bersifat simbolik dan tidak selalu dilakukan secara massal seperti dulu, tradisi ini tetap menjadi bagian dari dinamika budaya menjelang Ramadhan.


4. Dugderan – Semarang

Di Kota Semarang, masyarakat menyambut Ramadhan melalui tradisi Dugderan. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-19 pada masa Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Nama “Dugderan” berasal dari bunyi bedug (“dug”) dan suara meriam (“der”) yang menandai awal Ramadhan. Perayaan ini dimeriahkan dengan pasar rakyat dan arak-arakan maskot khas bernama Warak Ngendog—makhluk imajiner yang menjadi simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa.


5. Meugang – Aceh

Di Aceh, ada tradisi Meugang, yaitu memasak dan menyantap daging bersama keluarga menjelang Ramadhan (juga sebelum Idul Fitri dan Idul Adha).

Pada hari Meugang, harga daging biasanya meningkat karena permintaan tinggi. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh. Filosofinya adalah berbagi kebahagiaan dan memastikan seluruh keluarga, termasuk yang kurang mampu, dapat menikmati hidangan istimewa sebelum memasuki bulan puasa.


6. Balimau – Sumatera Barat

Masyarakat Minangkabau mengenal tradisi Balimau, yakni mandi menggunakan air yang dicampur jeruk nipis atau limau. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol pembersihan diri sebelum Ramadhan.

Kini Balimau lebih sering dipahami sebagai kegiatan spiritual keluarga. Pemerintah daerah pun kerap mengingatkan agar pelaksanaannya tetap menjaga norma dan ketertiban.


7. Malamang – Sumatera Barat

Selain Balimau, masyarakat Minangkabau juga mengenal Malamang, yaitu tradisi memasak lamang (lemang) secara bersama-sama menjelang Ramadhan.

Proses memasak beras ketan dalam bambu yang dibakar membutuhkan kerja sama banyak orang. Karena itu, Malamang bukan sekadar kuliner, tetapi juga simbol gotong royong dan kebersamaan menyambut bulan suci.


8. Munggahan – Jawa Barat

Di kalangan masyarakat Sunda, terdapat tradisi Munggahan. Kata ini berasal dari bahasa Sunda yang berarti “naik,” merujuk pada peningkatan spiritual menjelang Ramadhan.

Biasanya, keluarga berkumpul untuk makan bersama, saling bermaafan, dan mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi ini sederhana namun sarat makna: memasuki Ramadhan dengan hati bersih dan hubungan sosial yang harmonis.


9. Mattunu Solong – Sulawesi Selatan

Di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis, dikenal tradisi Mattunu Solong—menyalakan pelita atau lampu tradisional sehari sebelum Ramadhan.

Cahaya pelita menjadi simbol penerangan hati dalam menyambut bulan penuh berkah. Tradisi ini biasanya dilakukan di halaman rumah atau masjid.


10. Nyorog – Betawi

Masyarakat Betawi di Jakarta memiliki tradisi Nyorog, yaitu mengantar makanan kepada orang tua atau kerabat yang dituakan menjelang Ramadhan.

Isi hantaran biasanya berupa lauk-pauk khas Betawi. Tradisi ini menegaskan nilai hormat kepada orang tua dan mempererat silaturahmi keluarga besar.


Merawat Tradisi, Menjaga Esensi

Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan di Indonesia bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga peristiwa sosial dan budaya. Ada nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, penguatan keluarga, hingga solidaritas terhadap sesama.

Meski bentuknya beragam dan sebagian mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman, esensi yang dijaga tetap sama: menyucikan diri, mempererat hubungan, dan mempersiapkan hati untuk menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk.

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi menyambut Ramadhan menjadi pengingat bahwa agama dan budaya di Indonesia tumbuh berdampingan—saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Dan setiap tahun, ketika hilal Ramadhan dinanti, denyut tradisi itu kembali hidup, menyatukan jutaan orang dalam semangat yang sama: menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan penuh harap.

—000—

*Pemimpin Redaksi Trigger.id

Share This :

Ditempatkan di bawah: nusantara, update, wawasan Ditag dengan:megengan, Menyambut, Meugang, nusantara, ramadhan, tradisi

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

SR-025 Resmi Ditawarkan, Return 6,9% Jadi Pilihan Investasi Aman

21 Agustus 2026 By admin

Dana DP Haji 2027 Diblokir Saudi, Kemenhaj Tempuh Jalur Diplomatik

21 Agustus 2026 By admin

Purbaya Siapkan Rp 31 Triliun Buat PPPK Guru

21 Agustus 2026 By admin

Tavares Perketat Persiapan Persebaya

20 Agustus 2026 By admin

MagangHub 2026 Batch 2 Dibuka September

20 Agustus 2026 By admin

Guru PPPK Akan Beralih Pegawai Pusat

19 Agustus 2026 By admin

Calvin Verdonk, Pemain Indonesia Tampil di Liga Champions

18 Agustus 2026 By admin

Zidane, Islam, dan Timnas Prancis: Ketika Agama Tak Seharusnya Jadi Ukuran

18 Agustus 2026 By admin

Kereta Garuda Prabayaksa Antar Bendera Pusaka ke Istana Merdeka

17 Agustus 2026 By admin

Hobi Memasak Bisa Menjaga Kesehatan Mental

17 Agustus 2026 By admin

Melepas Tukik Lekang di Pantai Banyuwangi

16 Agustus 2026 By admin

500 Pendaki Kibarkan Merah Putih 81 Meter di Puncak Arjuno

16 Agustus 2026 By admin

Pasca Gempa M7,7 Flores, Warga Diimbau Jauhi Pantai

15 Agustus 2026 By admin

Parkir QRIS Surabaya Cukup Rp 810, Berlaku 15–16 Agustus

15 Agustus 2026 By admin

Prabowo : Gaji Hakim Junior Sudah Naik 280 Persen, Tertinggi ASEAN

14 Agustus 2026 By admin

Pramuka Jatim Didorong Jadi Penggerak Swasembada Pangan

14 Agustus 2026 By admin

Maskapai Indonesia Mulai Gunakan AI Layani Penumpang

14 Agustus 2026 By admin

Api Mendekat, Seruni Point Bromo Ditutup Sementara

13 Agustus 2026 By admin

Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi?

13 Agustus 2026 By admin

MBG Wajib Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Matang

12 Agustus 2026 By admin

Rp 81 Tarif Trans Jatim, 11-17 Agustus 2026

12 Agustus 2026 By admin

Jelang Muktamar NU, Gus Ipul Ikut Nata Kasur Muktamirin

10 Agustus 2026 By admin

Bromo Ditutup Total, Api Meluas

10 Agustus 2026 By admin

Rihlah Yanmu Sowan ke Bahrul Ulum Jombang, Wakafkan Dua Ambulans dan Seribu Al-Quran

7 Agustus 2026 By zam

UWKS Perkuat Budaya Literasi melalui Seminar Nasional dan Peluncuran Buku Kredo Kewijayakusumaan

29 Juli 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Replika Unta, Magnet Pawai Maulid Kampung Nelayan
  • Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp, Dorong Kemandirian Energi
  • Dari Sudan ke Cikoang: Ketika Cinta kepada Nabi Dihias di Atas Perahu
  • Menghidupkan Keteladanan Rasulullah di Tengah Perubahan Zaman
  • Kabupaten Malang Krisis Air Bersih, BNPB Salurkan 363.800 Liter

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.