• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Hidup di Desa, Sebuah Kemewahan Masa Depan

17 Juli 2022 by admin Tinggalkan Komentar

Ilustrasi Hidup Desa Yang Indah

Surabaya ( Trigger.id) – Ketika masyarakat perkotaan telah mulai lelah dengan hiruk-pikuk kemacetan, polusi udara yang jauh di atas ambang batas, pembakaran energi fosil oleh kendaraan bermotor tanpa henti. serta tembok-tembok beton yang kering makna, maka desa menjadi kerinduan yang hidup manusia.

Dongeng di masa kecil ketika orang-orang tua bercerita tentang indahnya desa, sawah menghampar seakan tak berbatas serta semangat gotong royong yang tulus, sesungguhnya realita itulah yang kita rindukan di masa depan. Desa itu masa depan bukan masa lalu.

DR. Gamawan Fauzi mantan Menteri Dalam Negeri pernah bilang, 20 tahun lagi, hidup di desa akan  menjadi sebuah kemewahan.

Beberapa puluh tahun lalu, ketika desa masih memiliki fasilitas yang sangat terbatas, banyak orang merindukan hidup dan tinggal di kota. Kenapa? Karena kota dianggap memiliki semua yang menjadi mimpi manusia.

Di kota orang tinggal bersaing mendapatkan kerja mentereng atau membuat usaha sendiri, karena jumlah manusia yang banyak membuka peluang akan meningkatnya berbagai kebutuhan manusia.

Bagi yang punya keterampilan seperti tukang jahit, tukang masak, tukang rumah, dan banyak jenis tukang tukang lainnya lebih mudah mengembangkan usahanya di kota dibanding di desa. Bahkan pekerja-pekerja kasar sekalipun berduyun duyun datang ke kota, karena kota memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk membangun infrastruktur, properti, dan fasilitas umum untuk keperluan yang amat beragam.

Untuk kesenangan dan hiburan, kota menjanjikan banyak ragam hiburan, dan itu sangat jauh berbeda dengan desa yang masyarakatnya pada umumnya masih bergulat    pada sektor pertanian yang menghendaki kesabaran.

Di kota, kita bisa memesan ribuan sandal, baju, atau bermacam macam jenis produk industri untuk selesai besok pagi, tapi kita tidak bisa memesan satu batang pohon kecil buat tahun depan.

Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang dimiliki kota, apalagi kota-kota besar, maka saat itu hidup dan tinggal di kota adalah suatu “kebanggaan, status, dan prestise”.

Orang kota melihat orang desa seperti menekur dan sebaliknya orang desa melihat orang kota menengadah, karena orang kota dianggap memiliki banyak lebih dibanding orang desa.

Enam bulan terakhir ini, saya mencermati dan berusaha memahami hidup di desa. Saya masuk  ke dalam pergaulan masyarakat tani, kehidupan religius, sekolah- sekolah sampai ke tingkat menengah atas. Saya bergaul dengan guru, dengan pemuda, remaja, pekerja bangunan, pedagang antar propinsi, antar pulau bahkan pedagang yang berbelanja langsung ke kebun, ibu rumah tangga, dan sebagainya.

“Saya tercengang. Masyarakat yang sudah 25 tahun terakhir saya tinggalkan, ternyata sudah berubah luar biasa. Mulai dari selera terhadap design bangunan,  pola pikir serta wawasan pun mengalami perubahan yang sangat berarti. Mungkin karena fasilitas internet dan televisi telah masuk ke dalam kehidupan masyarakat desa yang tak beda dengan perkotaan,” kata Gamawan.

Jason Freud beberapa tahun lalu, dalam bukunya “Remote” mengatakan, bahwa “Hidup Mewah Masa Depan Adalah Meninggalkan Kota.”

Dua puluh tahun dari sekarang, kota akan menjadi lingkungan yang mengerikan. Kemacetan, polusi, persaingan usaha, hiruk-pikuk, serba terburu- buru, lingkungan sosial yang semakin individual, kemahalan hidup dan segala macam beban sosial lainnya. Mengambil contoh Jakarta. Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 2, 42 juta penduduk jakarta menghabiskan total waktu di jalan 3, 63 juta jam perhari.

Kehidupan kota yang terus bergerak dinamis, makin terasa memaksa kehidupan manusia berubah menjadi Non-alam. Manusia dipaksa bersahabat dengan kehidupan baru yang membangun ketegangan saraf bila ingin tetap eksis sebagai warga metropolitan. Manusia tidak lagi menjadi dirinya yang asli yang sebenarnya, tapi memaksakan untuk berubah agar sesuai dengan irama kota yang menjauh dari nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Tingkat eksistensi kemanusiaan manusia akan sangat ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki atau kedudukan yang disandang. Tanpa disadari , manusia akan mengatakan bahwa dengan uang dan kedudukan, apa saja bisa dibeli, apapun bisa didapat dengan uang meskipun itu palsu.

Jangan mengira bahwa pengawalan orang-orang tertentu disebabkan kedudukannya yang harus dijaga demi keamanan negara, tapi juga didapat dari orang orang yang punya uang banyak. Nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebersamaan   tak lagi menjadi rujukan pergaulan hidup, meskipun tetap diucapkan menjadi semboyan kosong dan sekedar retorik.

Perbincangan manusia kota menuju kepada bagaimana mendapatkan uang sebanyak banyaknya (making money), bukan memaknai hidup dengan nilai kemanusiaan itu sendiri, yang  bernuansa sosial, tolong menolong , saling menghormati tanpa strata sosial, kunjung-mengunjungi, tenggang rasa, saling berbagi dan sebagainya, apalagi nilai keagamaan yang membuat keteduhan dan ketenteraman jiwa manusia.

Beda halnya dengan kehidupan di desa. Manusia kembali dalam kehidupan yang alami, tanpa poles-poles, meskipun mereka juga diserbu dengan trend dan mode dunia, prilaku hidup dikota yang penuh keserakahan dan individual. Namun, mereka masih dipagari tradisi dan kultur yang tak mudah diterobos oleh nilai dan pola baru yang datang.

Karakteristik masyarakat desa yang umumnya bertani, cenderung lebih sabar, tidak terburu-buru bahkan nyaman dengan apa yang ada, membuat mereka canggung merubah gaya dan perilaku dengan cepat karena faktor tradisi dan kultur yang mapan dan mengakar di pedesaan.

Apakah kemudian desa akan berubah? 
Menurut saya itu pasti. Pelan-pelan masyarakat desa akan menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disediakan oleh jaringan komunikasi yang luas dan terbuka lebar. Masyarakat desa akan bisa berkomunikasi kemana saja dan kapan saja. 

Desa akan menjadi pusat produksi barang tertentu yang berbiaya murah, karena harga lahan yang relatif murah. Keadaan ini akan menarik beberapa pengusaha yang berbasis pertanian untuk menggeser usahanya dan hidupnya di pedesaan sambil menikmati keramah-tamahan, kebersamaan dan Kesederhanaan , ketenangan dan kenyamanan yang semakin sulit dijumpai di kota.

Mereka bisa memiliki kamar sekelas hotel bintang Lima dan rumah yang nyaman serta asri sambil menghirup udara yang segar, air yang banyak dan jauh dari polusi.

Di desa, masyarakat bisa makan dengan sayur dan buah yang segar, ikan yang baru ditangkap dan ternak kecil dan besar yang mudah juga didapat. Bersamaan dengan itu, kesempatan mendekat   dengan kehidupan yang makin religius dan soleh makin terbuka dengan waktu yang semakin banyak.

Saya teringat sepenggal syair lagu tahun tujuh  puluhan dari group band Rock yang sangat populer pada masanya, Godbless, judulnya “Rumah Kita”.
“Haruskah, kita beranjak ke kota  Yang penuh dengan tanya.
Lebih baik disini, rumah kita sendiri 
Segala Nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya, ada disini ( Desa )”.

Bila kelak, uang elektronik/ Bit coin sudah menjadi nyata, kualitas pendidikan yang semakin merata, pelayanan kesehatan yang ada di desa yang semakin baik lengkap dengan ketersediaan tenaga medis dan peralatannya, maka pada saat itu, banyak orang mulai berfikir, kenapa kita tidak meninggalkan kota yang terasa semakin sumpek? Kenapa kita harus hidup dalam sangkar Apartment seperti kotak kotak sangkar merpati yang tak mengenal tetangga sebelah kamar ? Kenapa kita harus terjebak dalam kehidupan kota yang membuat saraf tak pernah kendur untuk bisa eksis dalam hidup?

Padahal hidup didunia hanya sekali, Setelah itu kita ada di dunia lain. Dalam kuburan yang juga makin sulit dapat kaplingnya di kota. Di Jakarta, berkubur bisa mengeluarkan uang hingga lebih dari 100 juta rupiah bagi yang berpunya.

Kini, sejumlah orang berpunya mulai menggeser tempat tinggalnya ke desa. Mereka ada dari kalangan artis, pengusaha, pensiunan jenderal polisi dan TNI, dan pejabat negara. Bahkan Lebih ekstrim lagi ada yang memilih mendekat ke bibir hutan dan kaki gunung, setelah mereka membuka lebar jendela pikirannya (open the window).

Gamawan Fauzi juga bercerita, lebaran lalu ia ketemu seorang tokoh nasional yang berlibur ke Sumatera Barat. Penilaiannya terhadap keindahan alam Ranah Minang luar biasa. 

“Saya mengunjungi banyak objek wisata disini, katanya. Luar biasa dan saya sangat puas. Ternyata Ranah Minang memang cantik dan banyak yang masih Asri”, kata tokoh nasional itu.

Lalu Gamawan berkomentar, “bahwa anda untuk menikmati semua itu harus menyediakan waktu, mengeluarkan uang banyak dan itu sesuatu yang mahal. Bagi masyarakat yang tinggal di desa, mereka nikmati semua itu tanpa biaya. Ketika mereka membuka jendela pagi hari, udara segar dengan harum cemara atau atau aroma hutan menerobos masuk ke dalam rumah, dengan tanpa berbayar, lalu hamparan sawah, atau hijau padang rumput membentang memanjakan mata mereka tanpa biaya. Semua menjadi konsumsi kehidupan harian mereka yang sangat mewah untuk anda peroleh di Jakarta”.

Sepertinya hidup perlu juga dievaluasi untuk diri. (ian)

Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan, nusantara, seni budaya Ditag dengan:bosan dengan hirup pikuk kota, desa kemewahan masa depan, gamawan fauzi, hidup di desa

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

Lainnya

Isi Gugatan Cerai Pratama Arhan Terungkap, Rumah Tangga Retak Sejak Awal 2024

27 Agustus 2025 By admin

Taylor Swift dan Travis Kelce Resmikan “Brand Tayvis” Lewat Pertunangan

27 Agustus 2025 By admin

Wolves Bangkit Dramatis, Gagalkan Ambisi West Ham di Carabao Cup

27 Agustus 2025 By admin

Campak dan Cacingan, Cermin Kegagalan Upaya Promotif-Preventif

27 Agustus 2025 By admin

Korban Kekerasan Seksual Anak Desak Elon Musk Hentikan Peredaran Konten di Platform X

26 Agustus 2025 By admin

Inilah Ciri-Ciri Orang yang Selalu Ditolong Allah

26 Agustus 2025 By admin

Mengapa Pola Makan Bisa Mempengaruhi Risiko Kanker Paru?

26 Agustus 2025 By admin

Perusahaan Elon Musk Gugat Apple dan OpenAI Terkait Integrasi ChatGPT di iPhone

26 Agustus 2025 By admin

Inter Milan Bantai Torino 5-0 di Laga Perdana Serie A

26 Agustus 2025 By admin

Konsumsi Makanan Ultra-Proses Tinggi Dikaitkan dengan Risiko Kanker Paru

26 Agustus 2025 By admin

Elon Musk Umumkan Grok 2.5 Kini Open Source

25 Agustus 2025 By admin

UNICEF: Krisis Kelaparan Gaza Disebabkan Blokade Israel, Bukan Kekurangan Pangan

25 Agustus 2025 By admin

SDN Kalirungkut I Juara KU 10 dan KU 12 Milklife Soccer Challenge Surabaya 2025

24 Agustus 2025 By zam

Membaca Itu Sehat: Manfaat Besar dan Cara Menjaganya Tetap Menyenangkan

24 Agustus 2025 By admin

Emil Audero Tampil Gemilang Saat Cremonese Hantam AC Milan 2-1 di San Siro

24 Agustus 2025 By admin

Milklife Soccer Challenge Surabaya Lahirkan Bintang Baru

24 Agustus 2025 By zam

Jumlah Jurnalis Gugur di Gaza Capai 240, Tertinggi dalam Sejarah Konflik Dunia

24 Agustus 2025 By admin

Kemendikdasmen Komitmen Sukseskan Program Digitalisasi Sekolah di Seluruh Indonesia

23 Agustus 2025 By admin

Pemkot Surabaya dan KONI Gelar Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota 2025

23 Agustus 2025 By admin

Mengenal Permukiman Suku Bajo di Wakatobi

23 Agustus 2025 By admin

Menlu Belanda Caspar Veldkamp Mundur karena Gagal Bela Palestina

23 Agustus 2025 By admin

Kepala BP Haji Siap Terima Keputusan Soal Perubahan Kelembagaan

23 Agustus 2025 By admin

Pertama di Indonesia, Museum Jalan Tol Jadi Media Pembelajaran Anak Bangsa

22 Agustus 2025 By zam

Reuni Cast Dawson’s Creek: Baca Naskah Pilot di Broadway untuk Amal

21 Agustus 2025 By admin

Keluarga WR Soepratman Tegaskan Lagu “Indonesia Raya” Tak Lagi Miliki Royalti

21 Agustus 2025 By admin

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Agustus 2025
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Jul    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Ketika Habis Ramadhan, Hamba Rindu Lagi Ramadhan

30 Maret 2025 Oleh admin

Tujuh Tradisi Lebaran yang Selalu Dinantikan

29 Maret 2025 Oleh admin

Ramadhan, Sebelas Bulan Akan Tinggalkan Kita

28 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Menag Ajak Tokoh Agama Tenangkan Umat agar Tidak Terprovokasi
  • Big Match PSM vs Persebaya Ditunda, Faktor Keamanan Jadi Pertimbangan
  • Presiden Prabowo Batalkan Kunjungan Resmi ke China
  • Akhmad Munir Tegaskan Komitmen Modernisasi dan Profesionalisasi PWI
  • 16 Ormas Islam Sepakat Dukung Prabowo Ajak Masyarakat Lebih Tenang

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2025 ·Triger.id. All Right Reserved.