

Menjelang datangnya bulan suci di sebuah kantor kawasan Surabaya Barat, suasana mulai berbeda. Kalender di dinding sudah dilingkari tinta merah. Ramadan sebentar lagi tiba. Bagi sebagian orang, itu berarti pulang kampung, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati cuti bersama. Namun bagi tim supporting—security dan office boy—Ramadan juga berarti piket jaga kantor saat orang lain libur Lebaran.
Di sela waktu senggang, mereka menghitung hari. Ada harap yang sederhana: semoga keberkahan Ramadan datang, semoga THR cair tepat waktu, dan semoga honor tambahan untuk jaga siang tetap ada seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tambahan honor itu memang bukan kebijakan resmi kantor pusat. Ia lahir dari kepekaan seorang pimpinan lama—sebuah kebijakan personal yang tak tertulis dalam kontrak kerja. Sebuah bentuk empati: bahwa mereka yang tetap berjaga saat hari raya, pantas mendapat penghargaan lebih.
Awal 2026, terjadi pergantian pimpinan. Muncul pertanyaan pelan tapi mengganjal, “Apakah jaga siang di tanggal merah dan cuti bersama masih dapat honor?”
Pimpinan lama, meski sudah tak lagi menjabat, rupanya masih menyimpan rasa tanggung jawab moral. Ia mengecek ke sekretariat. Kabar yang diterima: honor sudah disiapkan, tetapi hanya untuk dua hari, menyesuaikan kalender merah Lebaran.
Secara aturan, itu tidak salah. Namun ada rasa kurang manusiawi jika tujuh hari libur panjang hanya dihargai dua hari tambahan. Maka dengan penuh kehati-hatian, pimpinan lama mengusulkan kepada pimpinan baru agar honor diberikan selama tujuh hari penuh bagi yang piket siang.
Gayung bersambut. Usulan itu disetujui.
Kabar baik itu ia sampaikan melalui WhatsApp kepada dua orang: seorang security dan seorang office boy.
Security langsung membalas dengan ucapan syukur dan terima kasih. Kalimatnya sederhana, tetapi hangat. Ia merasa diperhatikan.
Namun hingga sore hari, pesan kepada sang office boy hanya berstatus dua centang biru. Terbaca, tetapi tak terjawab.
Keesokan harinya, security menegur dengan nada heran, “Kenapa tidak jawab WA? Itu kan kabar baik, sudah dibantu ngomong ke pimpinan.”
Jawaban sang office boy polos, tanpa tedeng aling-aling:
“Abah sudah bukan pimpinan. Kenapa masih ngurusi honor kita? Mestinya yang ngomong begitu ya pimpinan kita sekarang.”
Kalimat itu mungkin biasa saja. Namun bagi sang mantan pimpinan, ia menjadi ujian batin.
Selama bertahun-tahun, office boy itu bukan sekadar karyawan. Setiap kali dimintai tolong membeli kebutuhan pribadi, selalu ada rezeki lebih yang diselipkan. Kalau sehari dua kali diminta bantuan, dua kali pula ia mendapat tambahan. Bahkan ada “Jumat berkah”, meski tanpa penugasan. Bukan karena kewajiban, melainkan perhatian.
Semua itu dilakukan tanpa perhitungan. Tanpa kontrak. Tanpa publikasi.
Namun ketika jabatan telah usai, penghargaan kecil berupa adab dan ucapan terima kasih pun tak datang.
Di situlah letak ujian ikhlas.
Ikhlas bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang melupakan bahwa kita pernah memberi. Ikhlas adalah kemampuan menahan hati agar tidak menagih pengakuan. Sabar adalah kemampuan menenangkan ego ketika balasan tak sesuai harapan.
Allah SWT berfirman:
“…Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu…”
(QS. Al-Baqarah: 237)
Ayat itu bukan hanya perintah untuk mengingat kebaikan orang lain kepada kita. Ia juga menjadi pengingat agar kita tidak menghapus jejak kebaikan dalam hubungan sesama manusia.
Kisah kecil di sebuah kantor itu sejatinya bukan tentang honor. Ia tentang adab, tentang rasa terima kasih, tentang kehalusan budi. Dan lebih dalam lagi, ia tentang pelajaran bagi yang memberi: jangan pernah menggantungkan nilai kebaikan pada respons manusia.
Karena sesungguhnya, Allah-lah yang mencatat.
Jika manusia lupa, Allah tidak.
Jika manusia abai, Allah Maha Teliti.
Jika manusia tak membalas, Allah Maha Membalas dengan cara dan waktu yang terbaik.
Ramadan selalu datang membawa ujian—ujian lapar, ujian amarah, ujian lisan, juga ujian hati. Termasuk ujian untuk tetap ikhlas saat kebaikan terasa tak dihargai.
Semoga kita menjadi hamba yang ringan memberi, lapang memaafkan, dan tidak sibuk menghitung-hitung jasa.
Dan semoga seluruh ibadah Ramadan kita diterima Allah SWT, diampuni segala khilaf, serta diganti setiap kebaikan dengan balasan yang berlipat ganda.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
—000—
*Pemimpin Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan