

Senja di Manado saat Ramadan selalu menghadirkan aroma yang menggoda. Dari sudut-sudut pasar hingga lapak kaki lima, asap tipis mengepul dari bara api yang membakar bungkusan daun pisang. Di dalamnya, tersembunyi satu kudapan tradisional yang tak pernah absen saat berbuka: lalampa.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, lalampa bukan sekadar jajanan. Ia adalah pengganjal lapar yang hangat dan mengenyangkan sebelum hidangan utama tersaji. Terbuat dari beras ketan putih yang pulen, adonan lalampa dicampur santan dan sedikit garam, lalu diisi suwiran ikan berbumbu yang gurih dan sedikit pedas.
Sekilas bentuknya memang menyerupai lemper. Namun begitu digigit, perbedaannya langsung terasa. Jika lemper identik dengan isian ayam dan proses kukus atau rebus, lalampa justru mengandalkan suwiran ikan—biasanya tongkol atau cakalang—yang telah dibumbui kaya rempah. Setelah dibungkus rapi dengan daun pisang, lalampa dibakar di atas bara api hingga aromanya semakin tajam dan menggoda.
Proses pembakaran inilah yang memberi sentuhan khas. Permukaan daun pisang yang sedikit menghitam menghadirkan wangi asap yang meresap ke dalam ketan. Saat dibuka, uap hangat bercampur aroma ikan berbumbu langsung menyergap indera penciuman.
Di bulan puasa, popularitas lalampa melonjak tajam. Tak hanya di Manado, kudapan ini juga digemari hingga ke wilayah sekitar, termasuk Maluku Utara. Di Pasar Gamalama, Ternate, lalampa menjadi salah satu takjil yang paling cepat ludes.
“Kalau bulan puasa, lalampa banyak diminati dan cepat habis,” ujar Fatma, seorang penjual di pasar tersebut.
Bagi banyak orang, lalampa bukan hanya soal rasa. Ia menghadirkan nostalgia kampung halaman, kebersamaan saat berbuka, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Setiap gigitan seolah mengingatkan bahwa kekayaan kuliner Nusantara tak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati.
Di tengah beragam pilihan takjil modern, lalampa tetap bertahan—sederhana, tradisional, namun penuh cita rasa. Sebuah bukti bahwa aroma bakar dari dapur-dapur kecil di Manado mampu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehangatan Ramadan.
—000—
*Anggota Dewan Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan