
Abu Dhabi (Trigger.id) – Dari kejauhan, gurun Abu Dhabi memantulkan cahaya yang menyilaukan. Namun kilau itu bukan berasal dari pasir atau fatamorgana, melainkan dari hamparan panel surya yang terbentang luas, mengubah lanskap gurun menjadi sebuah “lautan surya”.
Di kawasan Al Dhafra, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Abu Dhabi, hamparan gurun pasir yang selama puluhan tahun identik dengan minyak dan gas kini menjelma menjadi pusat energi masa depan. Di atas area seluas sekitar 20 hingga 21 kilometer persegi, berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Al Dhafra, salah satu pembangkit surya satu lokasi terbesar di dunia.
Gurun yang dahulu bergelombang kini telah direkayasa. Permukaannya diratakan, digantikan barisan panel surya yang tersusun rapi dan nyaris seragam tanpa putus. Warna hitam kebiruan panel-panel itu kontras dengan pasir kekuningan di sekelilingnya, menciptakan lanskap baru yang terasa asing bagi bayangan klasik tentang gurun.
Di tengah sunyi, terdengar sesekali bunyi gesekan halus. Panel-panel raksasa itu bergerak perlahan, mengikuti pergerakan matahari. Gerakannya hampir tak kasatmata, namun cukup menjadi penanda bahwa “lautan” ini hidup—bekerja senyap menyesuaikan diri dengan lintasan cahaya sepanjang hari.
Matahari Timur Tengah tetap menyengat, memantul dari permukaan kaca dan logam. Namun udara terasa lebih sejuk dari dugaan. Musim dingin di Uni Emirat Arab menghadirkan kontras yang unik: panas gurun dan kilau panel surya berpadu dengan hawa dingin yang menemani langkah kaki di antara barisan energi bersih.
Jika disaksikan dari udara, hamparan ini benar-benar menyerupai lautan tenang. Bukan biru air, melainkan kilau kaca yang memantulkan cahaya serempak, menciptakan ilusi ombak yang tak pernah bergulung.
Sekitar empat juta panel surya membentuk “samudra” energi ini, menghasilkan daya hingga 2,1 gigawatt. Di jantung gurun yang dulu hanya menyimpan cadangan fosil, kini berdetak sumber energi baru—sunyi, luas, dan menatap masa depan. (bin)



Tinggalkan Balasan