
Istanbul (Trigger.id) – Pakistan menegaskan perannya sebagai perantara komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran dalam upaya meredakan konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan bahwa pembicaraan antara kedua negara tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui pesan-pesan yang difasilitasi oleh Pakistan. Ia juga menepis berbagai spekulasi yang beredar di media terkait proses negosiasi damai tersebut.
Menurut Dar, Washington telah mengajukan sebuah rencana yang terdiri dari 15 poin kepada Teheran, yang saat ini masih dalam tahap pertimbangan oleh pihak Iran. Pekan ini disebut-sebut menjadi periode krusial yang dapat menentukan arah pembicaraan ke depan.
Sejumlah sumber di Islamabad mengungkapkan bahwa delegasi dari AS diperkirakan akan datang untuk melanjutkan komunikasi. Namun, Iran masih menunjukkan sikap berhati-hati, terutama karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pihak AS.
Dalam pernyataannya, Dar juga mengapresiasi kontribusi negara lain seperti Turki dan Mesir yang turut mendukung upaya diplomasi tersebut. Ia menegaskan bahwa Pakistan berkomitmen penuh untuk mendorong terciptanya perdamaian dan stabilitas kawasan.
“Dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan ke depan,” ujarnya.
Situasi Timur Tengah sendiri masih berada dalam ketegangan tinggi sejak serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah negara lain seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Rangkaian serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak pada stabilitas pasar global serta sektor penerbangan internasional. (ian)



Tinggalkan Balasan