
Surabaya (Trigger.id) — Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan komitmennya dalam memajukan pendidikan nasional melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-78 yang digelar pada Sabtu (2/5/2026) di halaman Gedung Rektorat Kampus MERR-C.
Dalam upacara tersebut, Rektor UNAIR Muhammad Madyan menyampaikan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama peradaban, tempat terbentuknya karakter dan masa depan bangsa. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Mengusung tema nasional “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Madyan memaparkan tiga pilar utama transformasi pendidikan tinggi. Pertama, memperluas akses pendidikan melalui berbagai program beasiswa agar tidak ada generasi muda yang tertinggal. Kedua, memperkuat kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media untuk menjawab persoalan konkret seperti kemiskinan dan stunting. Ketiga, mendorong riset yang berorientasi pada dampak nyata, termasuk hilirisasi dan pengembangan sektor strategis masa depan.
Menurutnya, pendidikan yang adil, inklusif, dan memerdekakan merupakan kewajiban bangsa, bukan sekadar pilihan. Kampus, lanjut dia, harus berperan sebagai pusat pengembangan ilmu sekaligus penghasil solusi bagi berbagai tantangan sosial.
Lebih jauh, Madyan juga menyinggung ambisi besar Indonesia dalam mencetak ilmuwan kelas dunia melalui program “Indonesia Road to Nobel Laureate 2045”. Inisiatif ini bertujuan membina talenta unggul sejak dini agar mampu berkontribusi dalam bidang strategis seperti kecerdasan artifisial, energi terbarukan, semikonduktor, dan ketahanan pangan.
Ia menilai, cita-cita menghadirkan peraih Nobel dari Indonesia bukanlah hal yang mustahil, melainkan bagian dari visi besar bangsa dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan.
Menutup amanatnya, Madyan menyampaikan apresiasi kepada para pendidik dan peneliti, serta mendorong mahasiswa untuk terus berpikir kritis dan berani memiliki mimpi besar. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya program, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Dari ruang-ruang belajar hari ini, kita sedang menentukan arah masa depan Indonesia,” ujarnya. (ian)



Tinggalkan Balasan