
Cirebon (Trigger.id) – Di sudut sederhana sebuah desa di Cirebon, aroma pedas rujak ulek tak sekadar menggugah selera. Bagi Machmudah (62), sensasi cabai rawit yang menyengat justru menjadi saksi perjalanan panjang menuju impian suci: menjejakkan kaki di Makkah, pusat ibadah umat Islam di Arab Saudi.
Puluhan tahun ia menjalani rutinitas yang nyaris tak berubah. Berjualan rujak ulek di kios kecil beratap seng, dengan perlengkapan seadanya—cobek, ulekan, dan tampah bambu. Celemek merah bermotif polkadot yang dikenakannya seakan menjadi simbol ketekunan yang tak lekang oleh waktu.
Setiap pagi, selepas menunaikan shalat Subuh berjamaah, Machmudah langsung memulai harinya. Tanpa banyak jeda, ia menyiapkan bahan, meracik bumbu, hingga menyusun dagangan sebelum pembeli berdatangan. Bahkan tak jarang, sebelum semuanya siap, pelanggan sudah lebih dulu mengantre.
Kesibukan itu bukan tanpa makna. Dari balik gerakan tangannya yang cekatan, tersimpan harapan besar yang dirawat dalam diam: berangkat haji dari hasil keringatnya sendiri. Bukan dari kemewahan, melainkan dari kerja keras yang konsisten.
Pendapatannya memang tak menentu. Kadang hanya Rp30 ribu yang bisa disisihkan, di hari lain mungkin Rp50 ribu atau lebih. Namun, bagi Machmudah, bukan besar kecilnya yang utama, melainkan keistiqamahan dalam menyimpan.
“Rezeki itu Allah yang mengatur,” ucapnya sederhana, seolah merangkum seluruh filosofi hidupnya.
Dari jumlah yang tampak kecil itulah, impian besar perlahan dirajut. Setiap lembar rupiah yang ditabung menjadi langkah kecil menuju perjalanan agung ke Tanah Suci. Sebuah bukti bahwa kesungguhan, kesabaran, dan keyakinan mampu mengubah hal sederhana menjadi jalan menuju keberkahan. (ian)



Tinggalkan Balasan