
Jakarta (Trigger.id) – Gelombang arus balik Lebaran kembali menjadi tantangan tahunan, terutama menuju kawasan Jabodetabek yang selalu dipadati kendaraan dalam waktu bersamaan. Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mencoba pendekatan berbeda: memaksimalkan kebijakan work from anywhere (WFA) sebagai solusi mengurai kepadatan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, mengungkapkan bahwa puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 24 Maret 2026. Pada tanggal tersebut, sekitar 285 ribu kendaraan diprediksi akan kembali ke Jabodetabek melalui jalan tol. Lonjakan ini berpotensi memicu kemacetan panjang jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak pulang secara bersamaan. Mereka yang memiliki fleksibilitas kerja disarankan memanfaatkan kebijakan WFA untuk mengatur jadwal kepulangan, misalnya dengan kembali pada 25 hingga 27 Maret. Dengan cara ini, distribusi kendaraan diharapkan lebih merata dan tekanan di hari puncak bisa berkurang.
Kebijakan ini tidak hanya ditujukan bagi aparatur sipil negara dan pegawai BUMN, tetapi juga diharapkan dapat diadopsi oleh sektor swasta. Pemerintah mendorong perusahaan memberikan kelonggaran kepada karyawan agar bisa menyesuaikan waktu kembali ke kota tanpa harus terjebak dalam kepadatan ekstrem.
Data dari Jasa Marga menunjukkan bahwa hingga 22 Maret 2026 siang, hampir 40 persen kendaraan dari total proyeksi 3,4 juta telah kembali ke Jakarta. Pergerakan ini terpantau melalui empat gerbang tol utama: Cikupa, Ciawi, Cikatama, dan Kalihurip Utama—titik-titik krusial yang kerap menjadi indikator kepadatan arus lalu lintas.
Selain pengaturan waktu, aspek keselamatan juga menjadi sorotan. Pengemudi diingatkan untuk menggunakan rest area secara bijak, dengan durasi maksimal sekitar 30 menit agar fasilitas tersebut dapat digunakan secara bergantian. Alternatif tempat istirahat di luar tol juga dianjurkan untuk mengurangi penumpukan.
Lebih dari itu, kebiasaan berhenti di bahu jalan ditegaskan sebagai tindakan berbahaya. Selain meningkatkan risiko kecelakaan, hal tersebut juga memperparah kemacetan yang sudah terjadi.
Di tengah mobilitas besar-besaran pasca-Lebaran, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci. WFA bukan sekadar kebijakan kerja fleksibel, tetapi juga strategi sosial untuk menciptakan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi di tengah padatnya arus balik. (ian)



Tinggalkan Balasan