
Masjid At-Thohiriyah, yang terkenal dengan Masjid Bungkuk di Dusun Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.Foto/ist
Di tengah permukiman padat Dusun Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan kisah panjang penyebaran Islam di Malang Raya. Dialah Masjid At-Thohiriyah, yang lebih akrab disebut masyarakat sebagai Masjid Bungkuk.
Didirikan sekitar tahun 1835–1837 oleh K.H. Hamimudin—yang dikenal pula sebagai Mbah Bungkuk—masjid ini dipercaya sebagai pusat dakwah Islam paling awal di wilayah Malang. Sang pendiri disebut sebagai prajurit pengikut Pangeran Diponegoro yang menyebarkan ajaran Islam setelah masa Perang Jawa.
Dari Langgar Gubuk di Tengah Hutan
Konon, pada awalnya bangunan ini hanyalah langgar sederhana beratap rumbia yang berdiri di tengah kawasan hutan. Wilayah Pagentan kala itu masih didominasi masyarakat penganut Hindu. Perlahan, melalui pendekatan dakwah yang damai dan keteladanan akhlak, K.H. Hamimudin berhasil menarik simpati warga sekitar.
Nama “Bungkuk” sendiri muncul dari kebiasaan sang kiai yang terlihat membungkuk lama saat rukuk dalam salat. “Masyarakat waktu itu menyebut beliau ‘kyai bungkuk’ karena rukuknya sangat khusyuk dan lama. Dari situlah nama itu melekat sampai sekarang,” ujar Ahmad Fauzi (48), pengelola masjid yang ditemui awal Ramadan 2026.
Empat Saka Jati yang Tetap Tegak
Berlokasi di Jalan Bungkuk RT 04 RW 04, Kelurahan Pagentan, masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, empat tiang utama berbahan kayu jati—yang menjadi penopang bangunan sejak awal—masih dipertahankan.
“Empat saka jati ini asli. Kami rawat secara berkala, tidak boleh diganti karena itu simbol sejarah,” jelas Fauzi.
Di sisi barat masjid terdapat kompleks makam pendiri, K.H. Hamimudin, berdampingan dengan makam menantunya, K.H. Thohir. Area ini kerap diziarahi warga, terutama pada bulan Ramadan dan menjelang haul tahunan.
Ramadan 2026: Ramai, Hangat, dan Penuh Makna
Memasuki Ramadan 1447 H (2026), Masjid Bungkuk kembali dipadati jemaah. Selain salat tarawih, pengajian kitab klasik dan buka puasa bersama menjadi agenda rutin yang menarik warga lintas generasi.
Siti Aminah (62), jemaah setia sejak kecil, mengaku merasakan atmosfer berbeda ketika beribadah di masjid ini.
“Rasanya lebih tenang. Kita seperti diingatkan perjuangan ulama dulu. Setiap Ramadan, saya selalu sempatkan tarawih di sini,” tuturnya.
Menurut pengelola, jumlah jemaah meningkat sekitar 30 persen dibanding hari biasa. Tak sedikit pula peziarah dari luar Malang yang datang untuk mengenal lebih dekat sejarah dakwah di Singosari.
Warisan Spiritual yang Terjaga
Bagi masyarakat setempat, Masjid Bungkuk bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol keteguhan dakwah dan harmoni sosial. Dari sebuah langgar kecil di tengah hutan, kini berdiri masjid yang menjadi pengingat perjalanan panjang Islam di Malang Raya.
“Pesan yang ingin kami jaga adalah keteladanan. Mbah Bungkuk berdakwah dengan sabar dan tanpa konflik. Itu yang relevan sampai sekarang,” kata Fauzi.
Di bulan suci Ramadan 2026 ini, Masjid Bungkuk kembali membuktikan diri sebagai ruang spiritual yang tak lekang waktu—menyatukan sejarah, iman, dan harapan dalam satu saf panjang yang terus bersambung lintas generasi.(kai)



Tinggalkan Balasan