
Surabaya (Trigger.id) – Cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Surabaya dan sejumlah wilayah sekitarnya tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis dan pola komunikasi masyarakat.
Suhu udara yang mencapai 37 hingga 38 derajat celsius dapat meningkatkan kelelahan, mengganggu konsentrasi, serta membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi.
Pakar komunikasi Universitas Airlangga, Dr Suko Widodo, Drs MSi, mengatakan kondisi lingkungan yang terlalu panas dapat memengaruhi kenyamanan tubuh sekaligus kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi ketika berinteraksi dengan orang lain.
Menurutnya, kondisi fisik yang tidak nyaman berpotensi mengurangi kemampuan seseorang untuk merespons situasi secara tenang dan rasional.
Dampaknya, komunikasi yang seharusnya berlangsung dengan baik dapat berubah menjadi kurang efektif, bahkan memicu kesalahpahaman.Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur ini menjelaskan kelelahan fisik dan kekurangan cairan akibat paparan suhu tinggi dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap keadaan di sekitarnya.
Dalam situasi ini, kemampuan mengendalikan diri saat berkomunikasi menjadi penting. Ketika kondisi emosional terganggu, seseorang cenderung lebih mudah menggunakan nada bicara tinggi, memilih kata-kata yang kurang tepat, atau memberikan respons berlebihan terhadap persoalan sederhana.
“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Suko dikutip dari laman Unair, Sabtu (24/10).
Risiko ini dapat semakin meningkat di tempat-tempat dengan aktivitas tinggi, seperti jalan raya. Kemacetan, suara klakson kendaraan, serta panas yang memantul dari permukaan aspal menjadi kombinasi yang dapat menguji kesabaran pengguna jalan.Situasi yang melelahkan berpotensi memicu perilaku agresif, mulai dari saling membentak hingga perselisihan antarpengendara.
Masyarakat perlu memahami bahwa menjaga ketenangan dan mengendalikan respons emosional merupakan bagian penting dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak nyaman.
Menghadapi cuaca panas ekstrem, masyarakat tidak cukup hanya memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga perlu menjaga kestabilan emosi. Upaya sederhana, seperti memenuhi kebutuhan cairan tubuh, menghindari paparan matahari berlebihan, serta beristirahat ketika mengalami kelelahan, dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat suhu tinggi.
Selain itu, masyarakat dianjurkan memberikan jeda sebelum merespons situasi yang memancing emosi. Sikap ini dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, kampus, tempat kerja, hingga ruang publik.
Pengendalian emosi juga perlu diimbangi dengan sikap saling memahami. Ketika menghadapi orang lain yang terlihat lelah atau kurang sabar, sebaiknya tidak terburu-buru membalas dengan perkataan atau tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.
Di jalan raya, misalnya, pengguna kendaraan perlu menjaga jarak aman, menghindari tindakan provokatif, serta tidak memaksakan diri berkendara ketika kondisi tubuh sudah terlalu lelah.Suko menekankan cuaca panas yang melelahkan seharusnya tidak menjadi alasan mengabaikan etika berkomunikasi dan kepedulian terhadap sesama.
Kesabaran dan kemampuan memahami kondisi orang lain diperlukan agar tekanan akibat lingkungan tidak berkembang menjadi persoalan sosial.“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” pungkasnya. (wah)



Tinggalkan Balasan