
Prof Dr Ahmad Zainul Hamdi MAg (Inung) saar FGD bersama ISNU Jatim, Sabtu (10/10)
Surabaya (Trigger.id)– Santri Nahdlatul Ulama (NU) didorong berani keluar dari zona nyaman pendidikan keagamaan dan mulai memperluas kiprah di bidang sains serta teknologi. Pesan ini disampaikan Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag), Pro Dr Ahmad Zainul Hamdi MAg, dalam Focus Group Discussion (FGD) Santri Next yang digelar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur di Ballroom Hotel Mercure Grand Mirama, kawasan Darmo, Surabaya, Sabtu (10/10/2026).
Di hadapan sekitar 200 anggota dan pengurus ISNU Jawa Timur, Inung -sapaan akrab Prof Zainul Hamdi menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi warga NU, terutama dalam aspek SDM, tingkat pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi.Menurutnya, besarnya jumlah warga NU yang menjadi mayoritas di Indonesia seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas SDM.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan keunggulan dari sisi kuantitas belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas pendidikan dan daya saing.“Kita ini jangan lagi bicara banyak-banyakan jumlah. Karena kalau soal itu, kita sudah menang. Tapi kalau soal kualitas SDM, jujur saja, kita masih jauh tertinggal,” ujar Zainul saat diskusi bertema Gerbang Baru Nusantara: Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur.Ia menjelaskan, salah satu persoalan mendasar adalah masih terbatasnya akses dan capaian pendidikan tinggi di kalangan warga NU.
Mayoritas warga NU, menurut paparan Zainul, masih memiliki tingkat pendidikan maksimal SMA sederajat dan SMP.Kondisi ini turut berimplikasi terhadap kesejahteraan ekonomi. Ia memaparkan, warga NU yang masuk kategori kelas atas berdasarkan pendapatan baru mencapai 8,6 persen, sedangkan kelompok kelas menengah sebesar 35,9 persen. Sementara itu, 37,5 persen berada dalam kategori kelas menengah bawah dan 18 persen lainnya termasuk kelompok berpendapatan rendah.
Komposisi ini menunjukkan sebagian besar warga NU masih menghadapi tantangan meningkatkan taraf hidup. Salah satu solusi yang ditawarkan Zainul memperkuat pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika, di lingkungan pesantren maupun lembaga pendidikan Islam.
Menurutnya, pendidikan agama tetap menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, moral, dan kepribadian santri. Namun, bekal keagamaan perlu dilengkapi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lulusan pesantren mampu menjawab kebutuhan zaman.Ia menilai, keterbatasan lembaga pendidikan Islam yang memberikan penguatan pada bidang STEM menjadi salah satu tantangan yang perlu segera diatasi.
Tanpa penguasaan sains dan teknologi, lulusan pesantren berisiko menghadapi kesulitan untuk bersaing di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan industri digital.Dalam konteks ini, Zainul melontarkan pernyataan yang cukup menarik perhatian peserta FGD. Ia mengingatkan santri agar tidak hanya menjadikan perguruan tinggi keagamaan sebagai pilihan melanjutkan pendidikan, terutama jika pilihan jurusannya masih terbatas pada bidang keagamaan.“Jadi lulusan pesantren jangan lagi kuliah di UIN. Apalagi ngambil jurusan tarbiyah,” celetuknya, yang disambut tawa peserta diskusi. Prof Inung sendiri adalah guru besar UINSA Surabaya dan mengaku kuliah jurusan tarbiyah (pendidikan).
Pernyataan ini bukan berarti santri dilarang melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN). Sebaliknya, Zainul mendorong para santri lebih berani mengambil program studi sains dan teknologi.Ia menegaskan, santri perlu memperluas orientasi pendidikan agar tidak hanya berkutat pada bidang keagamaan, tetapi juga mampu menguasai ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi, industri, dan inovasi.“Boleh ambil kuliah di UIN. Tapi, harus ambil jurusan sains dan teknologi. Bukan lagi ambil jurusan keagamaan. Percaya pada saya. Soalnya yang ngomong ini dosen UIN,” kata Zainul.
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa pesantren dan pendidikan tinggi Islam perlu terus beradaptasi. Santri diharapkan tetap memiliki akar keilmuan agama yang kuat, sekaligus menguasai kompetensi profesional yang relevan dengan tantangan masa depan.Sementara Ketua Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur, Prof. Dr. HM Afif Hasbullah, SH, M.Hum., menjelaskan FGD Santri Next diselenggarakan untuk menghadirkan perspektif baru bagi santri, khususnya generasi muda NU, dalam menghadapi perubahan zaman. “Santri harus mampu menghadirkan pemikiran, gagasan, inovasi, hingga gerakan nyata di berbagai sektor kehidupan. Santri mesti senantiasa memegang kendali,” tegas Afif. (wah)



Tinggalkan Balasan