
Pernahkah kita merasakan bahwa bangun tidur terasa berat, beribadah terasa malas, pekerjaan sering ditunda, dan waktu berlalu begitu saja tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti? Kita memiliki banyak keinginan, tetapi terkadang langkah kita justru tertahan oleh rasa malas.
Kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik, ingin rezeki yang berkah, ingin keluarga yang bahagia, dan ingin meraih keselamatan dunia serta akhirat. Namun, semua keinginan itu membutuhkan satu hal penting: kemauan untuk bergerak dan kesungguhan untuk mengalahkan rasa malas.
Dalam paparan Ustadz H. Moh. Ali Misbahul Munir, Lc., M.Th.I., terdapat sembilan obat malas yang patut kita renungkan dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. . Yakin bahwa Allah selalu melihat kita.
Obat malas yang pertama adalah menanamkan keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan mengetahui keadaan kita, di mana pun kita berada.
Ketika tidak ada orang yang mengawasi, apakah kita tetap jujur? Ketika tidak ada yang menyuruh, apakah kita tetap menjalankan kewajiban? Ketika sendirian, apakah kita tetap menjaga ibadah.
Orang yang merasa selalu diawasi Allah akan memiliki kekuatan untuk menjaga dirinya. Ia tidak hanya bersemangat ketika dilihat manusia, tetapi juga tetap berbuat baik ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.Kesadaran ini menumbuhkan muraqabah, yaitu merasa berada dalam pengawasan Allah SWT.Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4).
Ketika kesadaran ini hidup dalam hati, kita akan lebih berhati-hati menggunakan waktu, lebih bertanggung jawab dalam pekerjaan, dan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah.
2. Memiliki pola pikir kehidupan dunia dan akhirat
Obat malas yang kedua adalah membangun pola pikir yang benar. Kita harus memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar mencari kesenangan, mengumpulkan harta, atau mengejar pengakuan manusia.
Dunia adalah tempat menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat kita mempertanggungjawabkan kehidupan.
Namun, bukan berarti kita harus meninggalkan urusan dunia. Justru pekerjaan, usaha, belajar, mengurus keluarga, dan membantu sesama dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.
Seorang muslim hendaknya memiliki orientasi hidup yang berkualitas: bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga hubungan dengan Allah, bermanfaat bagi sesama, serta mempersiapkan bekal akhirat.
Jangan sampai kita sangat bersemangat mengejar dunia, tetapi malas menunaikan kewajiban kepada Allah. Jangan sampai kita sibuk memperindah rumah, tetapi lupa memperindah akhlak dan hati.Hidup yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan juga seberapa besar manfaat yang kita berikan dan seberapa baik bekal yang kita siapkan untuk akhirat.
Jangan sampai kita sangat bersemangat mengejar dunia, tetapi malas menunaikan kewajiban kepada Allah. Jangan sampai kita sibuk memperindah rumah, tetapi lupa memperindah akhlak dan hati.
Hidup yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan juga seberapa besar manfaat yang kita berikan dan seberapa baik bekal yang kita siapkan untuk akhirat.
3. Membiasakan dzikirul maut
Salah satu penyebab manusia terlena adalah perasaan bahwa hidup masih panjang. Kita menunda taubat karena merasa masih muda. Kita menunda berbuat baik karena merasa masih memiliki banyak waktu. Bahkan, terkadang kita menunda memperbaiki hubungan dengan sesama karena mengira kesempatan akan selalu ada.
Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang.
Mengingat kematian bukan berarti menjadi pesimis atau kehilangan semangat hidup. Sebaliknya, mengingat kematian seharusnya membuat kita lebih sadar bahwa waktu sangat berharga.
Jika hari ini masih diberi kesempatan hidup, gunakan untuk memperbaiki ibadah. Jika masih diberi kesehatan, gunakan untuk bekerja dan berbuat baik. Jika masih memiliki kesempatan meminta maaf, jangan menunggu sampai terlambat.
Orang yang mengingat kematian dengan benar tidak akan mudah menyia-nyiakan waktu. Ia memahami bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menambah amal saleh.
4. Memperbanyak shalawat
Obat malas yang keempat adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.Shalawat bukan sekadar ucapan yang diulang-ulang, melainkan bentuk cinta, penghormatan, dan harapan agar kita mendapatkan keberkahan serta semakin dekat dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Cinta kepada Rasulullah hendaknya mendorong kita meneladani akhlaknya: rajin beribadah, amanah, jujur, sabar, bekerja keras, dan peduli kepada orang lain.Jangan hanya mengaku mencintai Rasulullah melalui lisan, tetapi jauh dari ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Mari hidupkan waktu-waktu luang dengan shalawat. Saat berjalan, menunggu, atau beristirahat, lisan kita dapat dibiasakan menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya.
Semakin kita membiasakan amal baik, semakin kita melatih diri agar tidak larut dalam kelalaian.
5. Memperhatikan makanan dan minuman
Makanan dan minuman bukan hanya urusan kenyang. Kita perlu memperhatikan kehalalan, kebersihan, kualitas, serta kecukupan asupan bagi tubuh.
Jangan sampai kita begitu teliti memilih barang yang kita beli, tetapi kurang peduli terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita setiap hari.
Tubuh merupakan amanah dari Allah. Karena itu, menjaganya dengan makanan yang halal dan baik merupakan bagian dari tanggung jawab kita.Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168).
Kita perlu membiasakan makan secukupnya, menjaga pola makan, dan tidak berlebihan. Tubuh yang dirawat dengan baik diharapkan dapat mendukung kita menjalankan ibadah dan aktivitas secara optimal.
Tentu, semangat beribadah tidak hanya ditentukan oleh makanan. Tidur yang cukup, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan kebiasaan hidup juga perlu diperhatikan.
Kita perlu membiasakan makan secukupnya, menjaga pola makan, dan tidak berlebihan. Tubuh yang dirawat dengan baik diharapkan dapat mendukung kita menjalankan ibadah dan aktivitas secara optimal.
Tentu, semangat beribadah tidak hanya ditentukan oleh makanan. Tidur yang cukup, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan kebiasaan hidup juga perlu diperhatikan.
6. Malas ciri orang munafik
Dalam paparan ini, kita diajak menyadari bahwa kemalasan, khususnya dalam menjalankan ibadah, bukan perkara sepele.
Allah SWT menggambarkan perilaku orang munafik yang malas ketika hendak menunaikan salat dalam firman-Nya:
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ
Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa’: 142).
Ayat ini merupakan peringatan keras agar kita tidak memelihara kemalasan dalam ibadah.
Tentu, seseorang yang sesekali merasa malas tidak otomatis dapat disebut munafik. Yang harus kita lakukan adalah menjadikan ayat ini sebagai bahan introspeksi, bukan sebagai alasan untuk menghakimi orang lain.
Ketika azan berkumandang, apakah kita segera bersiap atau justru sibuk mencari alasan untuk menunda? Ketika waktunya membaca Al-Qur’an, apakah kita meluangkan waktu atau selalu merasa terlalu sibuk?.
Jangan menunggu hati terasa bersemangat baru beribadah. Terkadang, justru dengan memulai ibadah, hati kita perlahan menjadi lebih tenang.
Disiplin melakukan kebaikan lebih kuat daripada sekadar menunggu datangnya motivasi.
7. Melepaskan ikatan setan pada pagi hari
Pagi hari merupakan momentum penting untuk menentukan arah aktivitas kita.
Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seseorang ketika tidur. Ketika orang tersebut bangun, berzikir kepada Allah, berwudu, dan melaksanakan salat, ikatan-ikatan itu terlepas sehingga ia menjadi lebih bersemangat dan berjiwa baik.
Pesan ini mengajarkan pentingnya memulai hari dengan kesadaran kepada Allah.Jangan biarkan pagi kita habis hanya untuk bermalas-malasan, bermain telepon genggam, atau menunda pekerjaan tanpa alasan yang jelas.
Biasakan bangun tepat waktu, berzikir, berwudu, menunaikan salat, lalu menata agenda hari itu.
Jika kita mampu mengalahkan rasa malas pada pagi hari, kita sedang melatih diri untuk mengalahkan kemalasan dalam urusan lainnya.
Mulailah dari kebiasaan sederhana. Tidak harus langsung sempurna, tetapi harus terus diusahakan.
8. Menghadiri majelis ilmu
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan dan semangat seseorang.
Ketika kita sering bergaul dengan orang yang gemar menunda, mengeluh, dan menghabiskan waktu tanpa tujuan, kita bisa terbawa oleh kebiasaan tersebut. Sebaliknya, ketika berada di lingkungan yang rajin beribadah, gemar belajar, dan saling mengingatkan dalam kebaikan, kita akan lebih mudah terdorong untuk memperbaiki diri.
Karena itu, hadirilah majelis ilmu. Dengarkan nasihat para ulama. Bertemanlah dengan orang-orang yang membantu kita semakin dekat kepada Allah.
Namun, jangan berhenti pada mendengarkan ceramah. Ilmu harus melahirkan amal. Setelah mendapatkan nasihat tentang salat, perbaiki salat. Setelah mendengar nasihat tentang kejujuran, praktikkan kejujuran. Setelah belajar tentang kedisiplinan, mulailah mengatur waktu.
Ilmu yang diamalkan akan membawa perubahan. Sebaliknya, ilmu yang hanya didengar tanpa diikuti tindakan berisiko berhenti sebagai pengetahuan semata.
9. Perbanyak doa
Manusia memiliki keterbatasan. Ada kalanya kita sudah menyusun rencana, tetapi semangat melemah. Ada kalanya kita ingin berubah, tetapi kembali pada kebiasaan lama.
Karena itu, selain berusaha, kita perlu memohon pertolongan Allah agar diberi kekuatan melawan rasa malas.
Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Artinya:“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”(HR. Al-Bukhari).
Perhatikan bahwa dalam doa ini, Rasulullah SAW mengajarkan kita memohon perlindungan dari kemalasan. Artinya, malas bukan hanya persoalan manajemen waktu, tetapi juga sesuatu yang perlu kita lawan melalui ikhtiar dan doa.
Berdoalah dengan sungguh-sungguh, kemudian buktikan doa tersebut melalui tindakan nyata.
Dari sembilan obat malas tersebut, kita belajar bahwa mengatasi kemalasan bukan sekadar memaksa diri untuk sibuk. Kita perlu memperbaiki keyakinan, meluruskan pola pikir, mengingat kematian, memperbanyak shalawat, memperhatikan makanan, menghindari kemalasan dalam ibadah, membangun rutinitas pagi, memilih lingkungan yang baik, dan memohon pertolongan Allah.
Hari ini masih ada waktu. Hari ini masih ada kesempatan. Dan selama Allah masih memberikan kita kehidupan, masih ada peluang untuk memperbaiki diri.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah waktu yang Allah berikan kita gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat? Sudahkah kita lebih dekat kepada Allah dibandingkan kemarin? Dan jika hari ini menjadi kesempatan terakhir kita, amal apa yang sudah kita persiapkan?Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari kemalasan, menguatkan iman kita, memberkahi waktu dan rezeki kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang rajin beribadah, sungguh-sungguh berikhtiar, dan bermanfaat bagi sesama.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (ian)



Tinggalkan Balasan