
Foto: Marcos Salgado/Xinhua
Caracas/Washington (Xinhua) — Militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari, yang menurut laporan media AS disertai penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan pemindahannya ke luar negeri. Aksi tersebut langsung memicu kecaman luas dari berbagai negara.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan keberadaan Maduro dan istrinya belum diketahui, seraya meminta bukti bahwa keduanya dalam keadaan selamat. Pemerintah Venezuela mengecam serangan itu sebagai agresi militer AS yang melanggar Piagam PBB dan menargetkan fasilitas sipil serta militer di Caracas dan sejumlah negara bagian lain.
Wartawan Xinhua di Caracas melaporkan suara ledakan keras, kepulan asap di sejumlah titik, serta warga yang panik dan berlarian. Pemadaman listrik singkat juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk area pangkalan militer. Otoritas penerbangan AS sebelumnya melarang penerbangan komersial melintasi wilayah udara Venezuela karena aktivitas militer.
Media AS melaporkan Presiden Donald Trump memerintahkan serangan tersebut. Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengklaim Maduro dan istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari Venezuela. AS selama beberapa bulan terakhir meningkatkan kehadiran militernya di Karibia, yang oleh Caracas dinilai sebagai upaya perubahan rezim.
Serangan ini menuai kecaman keras internasional. Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat Organisasi Negara-Negara Amerika dan PBB. Kuba menyebut aksi AS sebagai serangan kriminal, sementara Rusia menilainya sebagai agresi bersenjata tanpa dasar hukum. Iran mengecamnya sebagai pelanggaran kedaulatan Venezuela, dan Spanyol menyerukan deeskalasi serta penghormatan terhadap hukum internasional. (ian)



Tinggalkan Balasan