
Surabaya (Trigger.id) – Tumpeng sebagai simbol rasa syukur mencerminkan penghargaan terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan, sekaligus sebagai wujud permohonan agar kehidupan ke depan selalu diberkahi. Filosofi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari cara hidup masyarakat Jawa, yang selalu menekankan pentingnya hidup dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.
Tumpeng biasanya disajikan dalam bentuk nasi yang dibentuk seperti kerucut (gunung), dikelilingi oleh berbagai lauk-pauk, dan ditempatkan di atas tampah atau nampan dari anyaman bambu.
Filosofi tumpeng, “nek metu kudu metenteng” mengandung makna bahwa ketika seseorang melakukan sesuatu atau memulai suatu perjalanan, mereka harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Filosofi ini mencerminkan semangat kerja keras dan komitmen yang kuat. Berikut adalah penjelasan mengenai filosofi dan sejarah Tumpeng:
Filosofi Tumpeng
- Bentuk Gunung atau Kerucut: Bentuk kerucut atau gunung dari tumpeng melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Gunung dianggap sebagai tempat yang sakral dan dekat dengan Tuhan dalam banyak budaya Nusantara. Dengan demikian, bentuk ini mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhan dan mengajak untuk selalu bersyukur atas berkah yang diberikan.
- Lauk-Pauk yang Mengelilingi: Lauk-pauk yang mengelilingi tumpeng biasanya terdiri dari ayam, telur, ikan, sayur-sayuran, dan sambal. Setiap lauk memiliki makna simbolis. Misalnya, ayam melambangkan kesabaran dan kerja keras, sementara ikan melambangkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Lauk-pauk ini mengajarkan pentingnya keberagaman dan keseimbangan dalam hidup.
- Nasi Kuning: Nasi kuning, yang sering digunakan dalam tumpeng, melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Warna kuning dipilih karena menyerupai emas, yang dalam budaya Jawa dan Bali sering diasosiasikan dengan kemakmuran.
- Tumpeng sebagai Simbol Rasa Syukur: Tumpeng sering disajikan dalam acara syukuran seperti ulang tahun, pernikahan, dan selamatan. Ini menunjukkan bahwa tumpeng adalah simbol ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala berkah yang telah diberikan.
Sejarah Tumpeng
- Asal Usul: Tumpeng diyakini berasal dari tradisi agraris masyarakat Jawa kuno. Dalam tradisi ini, gunung dianggap sebagai tempat suci di mana para dewa dan leluhur bersemayam. Oleh karena itu, bentuk tumpeng yang menyerupai gunung memiliki makna spiritual yang mendalam.
- Pengaruh Agama Hindu-Buddha: Tradisi tumpeng ini juga dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha di Nusantara, di mana gunung Meru dianggap sebagai pusat alam semesta. Penyajian tumpeng adalah cara untuk menghormati gunung Meru sebagai simbol pusat kekuatan alam.
- Perkembangan dalam Islam: Ketika Islam menyebar di Indonesia, tradisi tumpeng diadaptasi dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Meskipun bentuk dan simboliknya tetap sama, tumpeng menjadi bagian dari tradisi Islam Jawa yang digunakan dalam berbagai ritual keagamaan dan sosial sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.
- Modernisasi Tumpeng: Dalam perkembangan zaman, tumpeng tidak hanya disajikan dalam acara-acara tradisional, tetapi juga dalam berbagai acara modern, seperti perayaan ulang tahun perusahaan, peresmian, dan acara-acara lainnya. Namun, esensi sebagai simbol rasa syukur tetap dipertahankan.
Tumpeng hingga saat ini tetap menjadi bagian penting dari budaya Indonesia, tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol yang sarat makna filosofi dan sejarah.
Keberagaman budaya Jawa dalam memaknai sesuatu, seperti tumpeng, menunjukkan betapa kaya dan dalamnya warisan budaya yang dimiliki. Setiap detail dalam budaya ini, dari bentuk, warna, hingga cara penyajian, memiliki makna tersendiri yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. (kai)
Tinggalkan Balasan