

Tahun 2025 meninggalkan jejak kelam dampak deforestasi hutan. “Sakitnya” bumi Indonesia, diprediksi masih menjadi isu krusial pada tahun 2026. Bencana banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi Indonesia, gagal diprediksi dan diantisipasi. Tragedi itu memicu trauma mendalam. Mitigasinya pun, terkesan gagap. Asumsinya didasarkan atas respons pertama. Tanpa analisis yang komprehensif, banjir bandang Sumatera dikatakan hanya mencekam di media sosial. Meski setelah meninjau langsung kondisi lapangan, membuahkan kesimpulan yang sangat bertolak belakang. Tetapi korban nyawa terlanjur terus berjatuhan. Belum lagi terhitung harta, benda, infrastruktur, dan pupusnya masa depan kehidupan korban bencana. Berdasarkan rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 6 Januari 2026, korban meninggal mencapai 1178 orang. Jumlah tersebut sangat mungkin akan terus bertambah. Sebab, masih ada seratus lebih warga yang dilaporkan masih belum diketahui nasibnya.
Hingga tutup tahun 2025, mitigasi petaka deforestasi masih banyak mengalami kendala. Kontroversi penetapan status bencana nasional, masih intens menjadi perdebatan publik, khususnya di media sosial. Meski dalam sekala yang relatif lebih kecil, beberapa wilayah pulau Bali dan Sitaro-Sulut, mengalami problem serupa. Masih ada beberapa daerah di tanah air lainnya yang juga dilanda banjir bandang. Kerusakan lingkungan dituding sebagai biang penyebab bencana hidrometeorologi.
Agaknya negara kita belum bisa belajar dari pengalaman buruk. Sejatinya deforestasi merupakan persoalan hulu yang mestinya urgen ditanggulangi. Alih lahan yang tidak proporsional, memicu persoalan lingkungan. Karena itulah rencana ekspansi perkebunan sawit di Papua, menuai banyak kritik. Meski dinarasikan demi kemandirian pangan dan energi, mayoritas suara publik menolaknya. Hutan Papua sebagai penyangga utama paru-paru Indonesia, layak dipertahankan. Destinasi wisatanya yang berupa keindahan alam, sangat menakjubkan. Sayang bila “dikorbankan”. Kegagalan merawatnya, berpotensi memantik bencana yang jauh lebih besar.
Seakan tidak jera, kini praktik pembalakan liar merambah ke Taman Nasional Baluran-Jatim. “Afrika van Java” atau “Afrika kecil” julukannya, berpotensi terancam keanekaragaman hayatinya. Entah bagaimana nantinya nasib habitat berbagai satwa yang dilindungi tersebut ? Akankah generasi penerus bangsa Indonesia hanya bisa mengenal riwayat kera ekor panjang (Macaca fascicularis), rusa (Cervus timorensis), hingga banteng Jawa (Bos javanicus), melalui cerita ?
Sudah sekian tahun yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis peringatan. Ancaman terbesar terhadap kesehatan global abad ke-21, adalah dampak perubahan iklim. Kerusakan ekologi (deforestasi, kebakaran hutan-lahan, badai angin), secara drastis berdampak mengganggu homeostasis alam. Komposisi komunitasnya (struktur vegetasi, pola lanskap, dan iklim lokal/regional) menjadi kacau. Dalam jangka waktu tertentu, efeknya berpotensi menimbulkan persoalan buruk. Misalnya dalam bentuk munculnya patogen yang berbahaya (emerging infectious diseases/EIDs). Mikroba semacam HIV, SARS/Covid-19, Eschericia coli, Hantavirus, virus dengue, West Nile , Zika , dan virus Nipah, patut diwaspadai. Beragam mikroba berbahaya itu, ada kalanya dalam fase “tidur”. Tetapi jika situasi lingkungan berubah optimal sesuai dengan kehidupannya, patogen tersebut dapat “bangkit” (reemerging). Bahkan berpotensi “berlari”. Situasi mengkhawatirkan itulah yang berpotensi memicu munculnya wabah.
Sebagai tenaga medis, penulis teringat dengan “nasihat” Hippocrates. Dialah yang dijuluki sebagai “Bapak Kedokteran”. Figur medis terkemuka sepanjang masa itu, bahkan sudah memprediksi timbulnya dampak penyakit akibat perubahan musim. Padahal prakiraannya itu dikemukakan sekitar dua ribu tahun yang lalu, melalui risalahnya yang monumental bertajuk “Airs, Waters, Places”. Dikemukakannya bagaimana peran perubahan musim (paparan sinar matahari, tanah, area dengan ketinggian tertentu, aspek geografi, dan iklim), memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat. Pemikirannya yang “out of the box” pada masanya, menjadi perhatian penting para ilmuwan pada akhir abad ke-20. Banyak riset yang akhirnya intensif dilakukan. Poinnya mengaitkan pengaruh lingkungan hidup, perubahan iklim, dan cuaca pada saat tertentu, terhadap timbulnya penyakit infeksi dan gangguan kesehatan lainnya.
Membaca fenomena keseimbangan alam
Alam liar Afrika adalah laboratorium biologi raksasa. Banyak falsafah keseimbangan semesta yang bisa dipetik dari Benua Hitam itu. Padang savananya menyimpan banyak pelajaran berharga. Ekosistem padang rumput yang dilengkapi aneka pepohonan, merupakan habitat alami beragam satwa liar. Jika pernah berkesempatan berkunjung ke Taman Nasional Serengeti dan Kruger, menuai decak kagum. Tanpa intervensi tangan manusia, alam telah membentuk keseimbangannya sendiri. Banyak ragam satwa karnivora yang kelangsungan hidupnya mutlak bergantung pada daging segar. Uniknya, alam telah menyediakan beragam herbivora (pemakan tumbuhan). Antelop, zebra, wildebeest/gnu, babi liar, jerapah, hingga kerbau Afrika, menjadi menu rutin singa Afrika dan karnivora lainnya. Asalkan insting berburu tetap terjaga, semua jenis hewan pemakan daging dapat berkembang biak dengan optimal. Pun tidak ada bangkai tersisa. Beberapa jenis satwa, siap “membersihkannya”. Istimewanya, antara populasi satwa predator dan mangsanya, tetap berimbang secara alamiah.
Sejatinya spontanitas roda perputaran keseimbangan alam, telah tercipta selama berabad-abad. Homeostasisnya tidak akan terganggu, tanpa intervensi manusia. Dari surga keanekaragaman hayati dunia itu, tidak berpotensi memicu wabah penyakit.
Fenomena alam Afrika lainnya, memiliki karakter yang berbeda. Afrika Tengah, Sub-Sahara, dan Barat Daya, relatif sering menjadi sorotan dunia. Berbagai penyakit infeksi menular yang jarang terdengar telinga manusia, muncul dari “area gelap” tersebut. Deforestasi masif, menimbulkan gangguan habitat alami keanekaragaman hayati. Area pertanian subsisten dan pemukiman manusia yang bertetangga dengan hutan, memantik kontak erat antar spesies. Risikonya memudahkan transmisi mikroba patogen, dari hewan liar ke hewan ternak. Demikian pula dari hewan piaraan dan satwa liar ke manusia (infeksi zoonosis).
Lemahnya kondisi perekonomian dan sosial warga lokal, memicu perburuan hewan liar. Tidak hanya dikonsumsi, tapi juga diperdagangkan untuk berbagai kepentingan. Ekosistem yang tidak menguntungkan, mempermudah penularan penyakit zoonosis. Kelelawar hutan, hewan pengerat, primata non-manusia, dan antelop, menjadi perhatian utama vektor penyakit. Kelelawar telah dapat dideteksi, dominan sebagai vektor virus Ebola, Marburg, Nipah, dan virus Hendra. Sedangkan hewan pengerat (contohnya tikus), dikenal sebagai vektor ‘demam Lassa’, dan pembawa virus Yersinia pestis (penyebab penyakit pes/plaque). Kadang antelop juga berpotensi sebagai reservoar virus Ebola. Belum lama berselang, terjadi wabah Mpox (sebelumnya disebut ‘cacar monyet’) yang juga berasal dari area Afrika Tengah. Hewan primata telah diidentifikasi sebagai pembawanya. Negara kita pun, menjadi salah satu sasaran penyebarannya. Beberapa kasus dilaporkan terjadi tahun 2022 hingga 2024. Semuanya telah dinyatakan sembuh.
Daerah Kerala di India, mestinya patut dijadikan cermin pembelajaran berikutnya. Dampak deforestasi besar-besaran, mengakibatkan kerusakan habitat alami kelelawar buah (Pteropus Bats). Demi mempertahankan eksistensinya, hewan nokturnal itu, mencari ekosistem kehidupan baru. Sasarannya pada area perkebunan warga, atau tempat-tempat yang berdekatan dengan kehidupan manusia dan peternakan. Bila mengalami stres, kelelawar mampu mengeluarkan virus dalam jumlah besar, melalui urine dan air liurnya. Hewan ternak seperti babi dan kuda, sering kali menjadi target penularannya. Negara bagian terkecil di India tersebut, tercatat mengalami empat kali wabah Nipah yang mematikan. Penyakit yang belum ditemukan obatnya itu, pernah menimbulkan wabah di kawasan Asia Selatan dan Tenggara. Meski belum terdeteksi di Indonesia, tetapi Malaysia, Singapura, Filipina, dan Bangladesh, pernah disatroninya.
“Penyakit X” zoonosis
Pandemi Covid-19 merupakan krisis global yang menyengsarakan. Dunia tak ingin tragedi semacam itu berulang kembali. Perencanaan dari A hingga Z menghadapi pandemi berikutnya, merupakan wujud kewaspadaan terhadap munculnya EIDs. Di bawah komando WHO, semua negara harus lebih siap dan waspada. Risiko munculnya patogen baru, harus segera diantisipasi. Kini WHO menginisiasi terminologi “penyakit X” yang sejatinya bersifat hipotesis. Meski belum bisa diprediksi kapan datangnya, kewaspadaan internasional terhadap “penyakit X”, menjadikannya sekala prioritas riset.
Banyak faktor yang patut diperhitungkan sebagai latar belakang munculnya “penyakit X” yang berpotensi memantik wabah. Perubahan kondisi lingkungan, merupakan faktor utama yang layak diantisipasi. Deforestasi, pemanasan global, dan polusi, berisiko memengaruhi penularan penyakit melalui berbagai cara. Di sisi lain, distribusi dan populasi vektor penyakit, juga sangat dipengaruhi perubahan iklim. Belum lagi dampak banjir dan bencana lingkungan yang rutin terjadi.
Evaluasi
Rimba raya adalah kekayaan alam yang luar biasa. Ialah surga dunia bagi keanekaragaman hayati. Hutan bukan kedaulatan pemerintah. Bukan pula otoritas segelintir orang untuk mengakuisisinya. Di situ ada hak milik generasi penerus bangsa, untuk merawat dan menikmatinya. Jika kejahatan ekologi seperti di Sumatera tetap berlangsung, rentetan terjadinya bencana merupakan suatu keniscayaan. Sektor kesehatan pun, berpotensi terkena imbasnya. Diprediksi, persediaan air bersih semakin tidak adekuat. Kualitas udara berisiko terancam, hingga memicu berbagai manifestasi penyakit. Peringatan Hippocrates dan munculnya penyakit “X” yang dikhawatirkan WHO dan para ahli kesehatan lingkungan, sangat berpeluang terjadi.
Deforestasi hutan dan kerusakan lingkungan, perlu segera mendapatkan penanganan serius dari seluruh pemangku kepentingan. Tidak mungkin bisa diselesaikan hanya dengan retorika dan “omon-omon” belaka. Realitas mitigasinya dinantikan publik.
Semoga tahun 2026 dapat berlangsung dengan damai dan tidak mengulang sejarah pahit kerusakan ekologi.
—–o—–
*Penulis :
- Pengajar senior di :
- Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
- Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
- Penulis buku :
- Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
- Serba-serbi Obrolan Medis
- Catatan Harian Seorang Dokter
- Sisi Jurnalisme Seorang Dokter (dua jilid)



Tinggalkan Balasan